Mahkota Palsu 4
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-9
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
“Aku ndak sanggup menjaga Mas Prio sendirian di rumah kita, lagipula kalau di rumah ayah-ibu, selain banyak saudara yang bisa bantu juga ada mobil ayah yang sewaktu-waktu kita butuhkan untuk antar Mas periksa ke rumah sakit,” Mbak Nela berusaha bertahan agar Mas Prio tetap mau dirawat di rumah orangtuanya.
Alasan mbak Nela hampir tidak masuk akal, karena seandainya pun sewaktu-waktu butuh mobil untuk mengantar suaminya ke rumah sakit, pastilah akan dijemput sang ayah, toh jarak rumah Nela dan oangtuanya tidak jauh.
“Mau sampai kapan kita di sini, Ma? Aku sudah ngga apa-apa kok, lagipula aku sudah kangen rumah,” Mas Prio berusaha agar istrinya mau diajak pulang.
"Ya sudah …, kita akan pulang Senin saja, sebab anak-anak sudah janjian dengan tantenya untuk menginap di sini pada malam minggu ini,” jawab mbak Nela sambil berlalu. ***
“Assalamu’alaikum,” suara Fatma dari beranda.
“Walaiakum salam,” jawab uti (sebutan untuk nenek) dari dalam rumah dan membukakan pintu dengan senang hati karena yang hadir semuanya adalah tamu istimewa, para cucu kesayangan.
Rumah besar itu mendadak ramai. Akung (kakek) langsung sibuk menangkap ikan di kolam untuk makan bersama. Sementara si Uti juga sibuk memasak dengan porsi lebih banyak untuk kehadiran para cucu.
Dewa dan Yanti langsung menemui sang ayah, mereka berebut untuk bisa mencium dan memeluk ayah mereka, demikian pula dengan mama mereka.
“jagain ayah dulu,ya …, mama mau arisan hari ini di rumah Jeng Rina, mama ndak enak kalau ndak hadir,sudah lama mama gak pernah kumpul teman-teman sejak ayah sakit,” ujar mbak Nela sambil terus bersolek.
Mendengar itu, Dewa dan Yanti hanya saling bertatapan, mereka heran dengan sikap mama yang malah mau pergi di saat mereka datang karena kangen. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan mama, mereka hanya bisa memandang heran di dekat sang ayah.
“Seharusnya mama senang ya kita di sini juga,” bisik Dewa pada ayahnya.
“Sssttt …, sudah, ndak apa-apa, toh ayah sudah sehat kok, hanya pemulihan saja,” mas Prio berusaha menenangkan hati putranya yang nampak kecewa dengan sikap mamanya.
“Ayah yang menyuruh mama hadir di acara arisan kali ini, sebab sejak ayah dirawat di rumah Akung dan Uti, mama kalian jadi jarang keluar rumah karena merawat ayah, nah sekarang ndak ada salahnya kan? jika kalian yang menjaga ayah?” Mas Prio selalu membela istrinya.
Baginya, menjaga keutuhan rumahtangga adalah hal utama untuk terus menjunjung tinggi kehormatan keluarga. Demi semua itu, mas Prio selalu mengalah dan terus berusaha menutupi kekurangan istrinya agar rumahtangganya nampak selalu bahagia. Sampai kapankah Mas Prio bertahan? (bersambung ...)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
