Mahkota Palsu 3
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-8
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
“Bagaimana hasil pemeriksaannya?” tanya Fatma pada mbak Nela yang sedang menunggui mas Prio di rumah sakit.
“Kata dokter, Mas Prio menderita kanker kelenjar getah bening stadium empat,” ucap mbak Nela sedih.
“Ya Allah …, semoga masih bisa disembuhkan ya mbak,” peluk Fatma ikut sedih, sementara Mas Prio menujukkan wajah tegar meskipun nampak pucat.
“Sudah, ndak usah bersedih, umur tidak ditentukan penyakit, yang penting berusaha untuk sembuh dan kembali sehat,” kata Mas Prio ingin menenangkan mbak Nela dan Fatma.
“Mas, kita pulang ke rumah ayah-ibu dulu ya selama mas sakit, supaya aku ada yang menemani dalam merawat Mas Prio,” rayu mbak Nela manja.
“Anak-anak bagaimana?” tanya mas Prio.
“Ya biar saja anak-anak di rumah, kan ada Fatma yang bisa menemani mereka, toh kalau malam minggu atau kapan pun mereka bisa menginap di rumah ayah-ibu. Mereka bisa naik motor bersama Fatma,”
Begitulah kemanjaan mbak Nela, ia tidak mau direpotkan, bahkan oleh keluarganya sendiri. Padahal kalau mau, mbak Nela bisa tetap marawat mas Prio di rumahnya sendiri yang hanya berjarak beberapa kilometer saja dari rumah orangtuanya. Mas Prio hanya pasrah, ia sangat tidak ingin istrinya lelah merawatnya.
Akhirnya, mas Prio dan mbak Nela untuk sementara tinggal bersama ayah-ibu, sedangkan anak-anak dan Fatma tetap tinggal di rumah mereka untuk tetap dekat dengan sekolah masing-masing. Fatmalah yang melayani dua orang keponakannya, hingga kesibukannya bertambah karena Fatma masih kuliah. Namun ia tetap sabar melakukan semuanya demi keluarga mbak Nela, saudara kesayangannya itu.
Dewa dan Yanti, kedua keponakan Fatma menjadi semakin dekat dan sayang pada tantenya, karena hari-hari yang dilalui, mereka merasa nyaman bersama tante Fatma yang telaten dan sabar terutama dalam menemani mereka belajar. Maklumlah, karena si Fatma memang calon guru, bakat ketelatennanya telah nampak, apalagi saat ini ia menempuh kuliah di fakultas ilmu pendidikan yang semakin mengasah bakatnya sebagai pendidik.
“Kapan ayah sembuh ya te?” pertanyaan Yanti tak terduga pada saat sedang belajar bersama membuat Fatma sedikit bingung karena ia tak tau kapan mas Prio akan sembuh, sementara dia tau bahwa harapan untuk sembuh semakin pudar seiring waktu dan mas Prio tidak menunjukkan tanda-tanda akan sembuh, bahkan terlihat semakin lemah.
“Sabar ya, besok sepulang sekolah kita ke rumah Akung-Uti ya kalau kamu kangen ayah dan mama,” hibur Fatma.
“Sekarang, waktunya istirahat ya sayang, kamu bobok duluan sana! Tante masih mau melanjutkan selesaikan tugas dulu. Nanti tante temenin wes …,”
“Iya, Te,” jawab Yanti berlalu dengan memondong buku yang barusaja ia pelajari. Ia bergegas ke kamarnya hendak tidur, Fatma hanya bisa menatap sendu dan merasa sedih atas keadaan yang menimpa keluarga Mbak Nela.
Namun keprihatinan itu tidak tampak di wajah mbak Nela. Sejak mas Prio diajaknya pulang ke rumah ayah-ibunya, ia malah semakin manja dan tetap saja menjalani rutinitas di dunia maya dengan teman-temannya yang tidak jelas itu. Sementara yang melayani dan merawat Mas Prio lebih banyak dilakukan oleh ibu dan ayahnya.
“Aku ingin pulang ke rumah kita saja ya, Ma …,” pinta Mas Prio suatu hari.
“Lalu siapa yang akan merawatmu, Mas? Aku ndak sanggup merawat Mas sendirian,” jawab Mbak Nela yang tak pernah bisa menjadi dewasa.
Apakah mbak Nela akan menuruti permintaan suaminya?
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
