Mahkota Palsu 6
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-11
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Hari-hari berlalu secara normal. Keluarga Mas Prio melakukan aktifitas seperti biasa meskipun kanker kelenjar getah bening yang diderita mas Prio tidak menunjukkan tanda-tanda menuju sembuh. Kendatipun demikian, mas Prio menguatkan dirinya untuk beraktifitas normal, bahkan ia yang memang sudah baik, menjadi sosok yang semakin baik dan semakin sabar.
Mas Prio tidak pernah mengeluh tentang sakitnya, pemeriksaan rutin dan kemotheraphy ia jalani dengan sabar dan tegar bahkan tidak lagi meminta didampingi siapapun termasuk istrinya. Mas Prio seolah ingin menanggung semua derita itu seorang diri. Hanya setelah proses kemotherapy ia memang benar-benar lemas dan terbaring di tempat tidur sekitar dua atau tiga hari, setelah itu ia akan berusaha beraktifitas normal kembali.
Semakin hari, badan mas Prio yang semula gagah tinggi besar itu menyusut, ia semakin kurus sehingga benjolan di lehernya semakin tampak. Namun raut wajahnya tidak pernah kelihatan sedih. Ia lebih sering tersenyum dan sering membuat anggota keluarga tertawa terpingkal dengan leluconnya.
“Ma, kamu cantik, tapi sebentar lagi akan menjadi milik orang,” Mas Prio menyindir mbak Nela yang sedang asyik berselfi di beranda. Mas Prio hanya menggeleng-geleng lemah dan tersenyum memaklumi isrtinya yang manja itu.
“Ini hiburan mama, supaya tidak setres mikir sakit Ayah yang nggak sembuh-sembuh,” yang ada dalam pikiran mbak Nela hanya tentang dirinya sendiri, yang terpenting bagi mbak Nela adalah pujian dari orang lain yang kagum atas kecantikannya, entah tulus entah modus.
****
Suatu hari, ketika Fatma sedang mengikuiti perkuliahan di kampus, tiba-tiba Handphonnya bergetar, ada panggilan dari Ayah. Tidak biasanya Ayah menelpon pada jam-jam perkuliahan, pasti ada hal penting yang akan disampaikan Ayah. Ketika baru saja Fatma akan mengangkat telephone, ternyata terputus. Ayah hanya miscall, Fatma melihat ada pesan whatsaap dari Ayahnya, ia membaca pesan itu dan tak percaya, tangannya bergetar, buliran bening langsung deras membasahi pipinya, bibirnya gemetar berucap lemah, “Innalillahiwa inna ilaihi roji’uun, ya Allah …, mengapa kau menyerah Mas? Bukankah kau sangat kuat dan tegar?” Fatma tertunduk dalam isak tangisnya yang mulai tak tertahan.
“Ada apa Fatma?” tanya Royan, sahabat Fatma yang duduk di sampingnya. Fatma tak sanggup menjawab pertanyaan Royan, ia hanya menulis jawabannya di selembar kertas sambil terus menangis.
“Kakak iparku meninggal, antar aku pulang,” membaca tulisan itu Royan langsung tanggap dan segera memberitahu dosen yang sedang mengajar. Sejenak Pak Sulton mengajak seisi ruangan untuk berdo’a kemudian mengijinkan Fatma dan Roy meninggalkan perkuliahan hari itu.
Rumah mbak Nela tampai ramai oleh para pelayat baik saudara maupun handai taulan. Fatma langsung berlari tanpa menghiraukan Royan yang membantunya membawa barang-barang Fatma. Tangisnya semakin pecah ketika ia melihat mbak Nela pingsan dalam pangkuan ibu yang memanggil-manggil namanya agar sadar.
“Mbak …, bangun mbak …, kasihan anak-anak,” Fatma mengguncang-guncang tubuh mbak Nela sembari mencium pipinya. Ia mengusapkan setetes minyak kayu putih ke hidung mbak Nela agar segera sadar. Sejenak mbak Nela sadar, namun sebentar kemudian ia kembali pingsan.
“Ma …, bangun ma …, aku dengan siapa ma …,” tangis si Yanti membuat seluruh pelayat semakin larut dalam kesedihan, sementara Dewa tampak lebih tegar berada di sisi jenazah sang Ayah sambil membacakan ayat suci Al-Qur’an didampingi Akungnya yang juga sedang sibuk merawat jenazah.
Mas Prio berpulang di usia yang sangat muda, ia masih berusia empat puluh tiga tahun. Ketika itu Dewa masih kelas sembilan SMP sementara Yanti masih kelas enam SD. Mereka masih sangat membutuhkan kehadiran sang Ayah yang lebih banyak memperhatikan mereka berdua daripada mama mereka. Tentu saja anak-anak merasa sangat kehilangan.
Mbak Nela pun tampak shock, entah merasa kehilangan atau merasa bersalah, atau ia meratapi nasibnya sendiri. Tak ada yang tau makna airmata mbak Nela.
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
