Mahkota Palsu 7
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-12
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Beberapa hari telah berlalu, namun mbak Nela masih tampak sedih, Ia masih sering kali menangis melihat barang-barang peninggalan almarhum suaminya. Apalagi ketika melihat foto-foto kebersamaan mereka. Setiap kali ia larut dalam kesedihan, maka diraihnya handpone untuk menulis status atau berbincang dengan teman-temannya.
“Mbak, harusnya mbak mengaji saja, bukan malah ngobrol di hape kalau ingat almarhum, ndak ada gunanya, lagi pula ya ndak pantes, pada saat masih berkabung kok malah mainan hape,” Fatma memprotes mbak Nela sembari menyodorkan Al-Qur’an pada Kakak yang sangat ia sayangi.
“Aku bisa setres kalau tidak ada hiburan. Aku butuh teman untuk menghibur kesedihanku, ndak usah kamu sok ngasih tau mbak. Kamu masih belum paham bagaimana rasanya ditinggal suami, sudah sana! Jangan buat mbak tambah setres,” tukas mbak Nela yang semakin lupa untuk memperhatikan anak-anak. Bisanya hanya marah-marah atau mengomel merasa kesenangannya terganggu.
“Adikmu Fatma sebenarnya ndak salah bicara seperti itu padamu,Nduk,” suatu ketika ibu turut menasehati Mbak Nela. Sebenarnya sejak lama ibu ingin melakukan hal itu, namun selalu ia tahan karena masih ada suami yang bertanggungjawab penuh terhadapnya, apalagi almarhum selalu membela mbak Nela. Namun kali ini, ibu merasa perlu mengingatkan mbak Nela agar lebih memperhatikan Dewa dan Yanti.
“Aku paham, Bu, sudahlah …, jangan ikut-ikutan memojokkan aku, orang lain bisa bicara apa saja karena mereka tidak mengalami yang aku alami, Bu!” tangisnya pecah merasa sebagai orang paling menderita yang perlu selalu dituruti apa kemauannya.
Ayah dan Ibu sangat prihatin melihat kondisi seperti, sementara Fatma tidak bisa sepenuhnya memperhatikan kedua keponakannya itu karena ia kuliah. Dewa mulai menampakkan kebiasaan tidak baik sebagai anak sulung, ia mulai sering pulang larut malam bahkan tak jarang ia tidak pulang. Dewa, anak remaja yang sedang mencari jati diri namun kehilangan perhatian kedua orangtuanya. Dewa mulai lebih sering berontak dan sering bertengkar dengan ibunya.
Sebagai kakek dan nenek, Ayah dan Ibunya tidak bisa tinggal diam, mereka memutuskan untuk mengajak anak-anak pulang ke rumah, sementara Fatma ngekos di wilayah dekat tempat ia kuliah. Mbak Nela juga diminta sebaiknya pulang daripada tinggal di rumah kontrakan. Namun keinginan itu masih ditolak oleh mbak Nela yang merasa lebih nyaman hidup sendiri dengan alasan masih tidak bisa melupakan almarhum suaminya, lagi pula masa kontrak rumah itu masih lama. Hanya anak-anak yang ia relakan untuk tinggal bersama kakek dan nenek.
Kini, nasib anak-anak hampir sama dengan yatim piatu, karena seluruh perhatian dan pemenuhan kebutuhan anak-anak dibebankan pada mereka. Mbak Nela selalu mengeluh bahwa uang pensiun suaminya terlalu sedikit dan tidak cukup untuk membiayai anak-anaknya. Begitulah mbak Nela, selalu ada alasan yang ia buat masuk akal agar dia bisa menikmati hidup dan gaya hidupnya sendiri.
Dewa yang telah menginjak remaja, mulai bisa menilai mamanya. Dewalah yang lebih sering mengatur mamanya meski hampir bisa dipastikan tidak pernah berhasil dan selalu berakhir dengan pertengkaran mereka. Dewa semakin kecewadengan mamanya.
Apa yang akan terjadi pada mbak Nela dan anak-anak pada hari-hari berikutnya?
( Bersambung … )
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
