Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 9
www.google.com

Mahkota Palsu 9

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-14

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Hari itu Yanti bersemangat untuk berangkat ke sekolah karena sepulang sekolah ia akan ke rumah mamanya. Sedangkan Dewa biasa-biasa saja bahkan cenderung bermalas malasan untuk beraktifitas.

“Dewa …! Ayo segera mandi!” seru Uti mengingatkan Dewa yang masih melamun. Entah apa yang dilamunkan remaja tampan berkulit putih dan mulai tumbuh kumis di atas bibirnya itu. Dewa mulai tumbuh sebagai remaja dengan tubuh tinggi dan cenderung kurus. Tanpa sepengetahuan siapa-siapa, ia telah mulai merokok.

“Dewa ! Ayo segera mandi!” ujar Uti lagi lebih keras, kali ini dengan menghampiri lebih agar suaranya lebih nyaring terdengar.

“Iya Ti! Jawab Dewa kager dan segera bergegas ke kamar mandi.

“Yanti sarapan dulu ya sayang.”

“Iya, Uti,” senyum Yanti terkembang sembari menuju meja makan siap menyntap sarapan yang telah disiapkan Uti.

“Uti nanti ikut ke rumah mama?” tanya gadis polo situ pada Utinya yang kembali sibuk melakukan aktifitas pagi di dapur. Uti masih kelihatan lincah beraktifitas meskipun usianya telah enampuluh tahunan. Si Akung pun juga sama, laki-laki pensiunan tentara itu masih tampak gagah dan cekatan dalam beraktifitas meski umurnya telah semakin lanjut.

“Ayo kalau sudah siap, kita berangkat agar tidak terlambat,” ajak Akung sambil beranjak membawakan tas Yanti. Akung selalu mengajak berangkat lebih pagi ke sekolah, karena jarak ke sekolah menjadi sedikit lebih jauh ketika anak-anak harus tinggal bersama Uti dan Akung.

Namun tidak hanya itu, Akung memang terbiasa berdisiplin dalam melakukan aktifitas apapun, selalu penuh perhitungan. Menurut Akung, jika berangkat lebih pagi akan lebih leluasa waktu dan tidak terburu-buru, jaga-jaga kalau ada kendala di jalan, ban bocor, atau apa saja penyebab keterlambatan harus dihindari.

“Dewa mana, Bu?”

“Masih di kamarnya, Pak,” jawab Uti sambil bergegas menuju kamar Dewa.

“Dewa, ayo lebih cepat, Akung dan adikmu telah menunggu di depan,” Uti menghampiri Dewa supaya bisa lebih cepat.

“Iya Uti, ini tinggal pasang ikat pinggang,”

“Sudah, ayoh pasang ikat pinggangnya di mobil saja, sini tasmu Uti bawakan, jangan lupa kaos kaki dan sepatumu,” Uti membantu Dewa agar lebih cepat, sementara Dewa hanya cengar-cengir melihat utinya mulai geram.

“Santui Ti …, santui …,” ucapan Dewa membuat Utinya mulai melotot ingin marah.

“Iya, ya …, Dewa berangkat,” ucap Dewa sambil mencium tangan dan mencium pipi Utinya. Begitu juga dengan Yanti.

“Berangkat dulu ya, Bu,” pamit Akung

“Iya …, hati-hati di jalan, semoga selamat,” Uti melambaikan tangan pada mereka. Kalau ada Fatma, biasanya Dewa akan diantar Fatma sementara Yanti akan diantar Akung dengan bersepeda motor. Namun karena Fatma masih belum pulang, maka Akung harus mengantar mereka berdua. Untungnya, Akung dan Uti mempunyai mobil yang meskipun sudah agak tua, namun masih sangat bermanfaat untuk transportasi mereka.

Sepulang mengantar anak-anak ke sekolah, barulah Akung bersiap untuk sarapan bersama Uti. Mereke terbiasa mengobrol apa saja berdua, ya maklumlah semua anak-anaknya tidak di rumah. Kehadiran Dewa dan Yanti sebenarnya sangat mengibur mereka, sehingga rumah besar itu tak lagi sepi.

“Akung nanti bicara pada Nela, anak itu perlu dinasehati Kung. Uti khawatir si Nela terpengaruh pergaulan yang kurang baik. Ya salah kita juga sih Kung …, kita langsung menikahkan Nela saat usianya masih delapanbelas tahun.”

“Sudahlah, Ti …, keputusan kia menikahkan Nela bukan kesalahan, karena kalau tidak segera dinikahkan, maka kita yang akan terdampak dosa Bu. Nela memang menguras pikiran. Kita harus lebih sabar, Nela harus bisa kita ajak ke sini agar lebih dekat dengan anak-anak.” Akung menghela napas seolah ada beban pikiran yang belum bisa ia tuntaskan. ( Bersambung …)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post