Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Rindu Sedalam Laut Biru

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-26

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

“Titip Indah ya Te,” kalimat Haris ketika ia terakhir terjangkau jaringan sebelum berlayar ke laut lepas.

“InsyaAllah, sayang,” kurekah senyum menguatkan suara senormal mungkin agar tak ada airmata perpisahan, karena aku tidak ingin membuat Haris merasa terpisah. Aku harus menguatkan semangatnya untuk mengarungi laut biru demi masa depannya.

Haris memang tak terlahir dari rahimku, tapi ikatan batin antara aku dengannya seraya anak dan ibu. Sejak ia lahir, aku yang hampir selalu bersamanya karena mbakku, ibu yang melahirkannya dalam kondisi kurang sehat. Ada masalah dengan jahitan pasca melahirkan Haris melalui oprasi Caesar. Kekurang hati-hatian mbakku yang menjadi penyebab hal tersebut sehingga perlu mendapat perawatan ektra dari dokter yang menanganinya.

Mau tidak mau, aku harus membantu mbakku dalam merawat bayi Haris. Ibuku sebagai nenek sudah terlampau tua untuk merawatnya, demikian juga dengan ayahku, beliau sudah sering sakit. Sedangkan ayah Haris bekerja di luarkota yang jadwal kepulangannya tidak bisa dipastikan. Haris bayi lebih sering bersamaku, kecuali pada saat-saat iya harus minum ASI mbakku.

Aku sebagai guru tidak tetap, harus bisa berjibaku membagi waktu antara tugas sekolah dan merawat Haris. Meskipun belum berpengalaman, namun keterpaksaan membuatku mampu membantu mbakku dalam merawatnya sehinnga tercipta ikatan batin yang sangat kuat antara aku dengannya. Sampai kini, ikatan batin itu tetap sama bahkan semakin kuat meski samudera memisahkan kami.

Terlebih ketika ia menemukan calon pasangan hidupnya, aku menjadi orang pertama yang tau tentang itu dan tentu saja hal ini membuat mbakku cemburu.

“Te, aku mau melamar cewek,” senyumnya rekah membuat mata sipitnya yang berbulu lentik dan tebal itu membentuk garis bulan sabit. Hidung mancungnya tampak besar ketika camera ia dekatkan pada wajahnya pada saat kami sedang mengobrol melalui video call.

“Oh ya? Siapa namanya? Di mana rumahnya? Cerocosku penasaran ingin segera tau calon pendamping yang memikat hatinya. Meski pernah beberapa kali ia berkeinginan menjalin hubungan dengan gadis, akan tetapi selalu kandas tak ada kejelasan cerita. Namun kali ini berbeda, Haris sangat serius dan bersungguh-sungguh ingin mempersunting gadis itu.

“Namanya Indah, Te. Indah Nurcahya,” sebutnya mantab disertai cerita tentang gadisnya itu untuk meyakinkanku.

“Bawa ke rumah, tete Ingin berkenalan sebelum kamu berangkat berlayar.

“Iya, te,” jawabnya bersemangat. Namun jadwal keberangkatan sudah semakin dekat sehingga tak ada waktu bagi haris untuk mengenalkan gadisnya kepadaku. Jalan satu-satunya adalah video call seperti biasanya.

“Assalamu’alaikum Indah, sapaku memulai percakapan.

“Walaikumsalam, Tante,” jawab gadis itu malu-malu. Entah mengapa, hatiku merasa langsung “klik” dengannya, bukan karena Indah adalah seorang gadis manis dengan jilbab syar’i. Bukan pula karena ia seorang guru, namun ada perasaan yang sulit dijelaskan, ada rasa tenang dan nyaman ketika berbincang dengan perangainya yang tampak lembut tanpa dibuat-buat. Aku merasa langsung dekat dengannya tanpa Haris harus detail meyakinkanku. Rasa sayangku muncul ketika kami bercakap-cakap singkat dalam sebuah video call.

“Gimana te?” tanya Haris melalui chat whatsapp.

“Alhamdulillah, apa kamu serius dengan Indah?” tanyaku sebelum memberi pendapat.

“InsyaAllah, Tante sendiri bagaimana?” tanyanya penuh harap.

“Tante ndak mau!” seruku memancing ia galau.

“Loh, kenapa Te? Dia kan baik?” suara haris mulai resah.

“Ya justru karena dia baik itulah maka Tante ndak mau …, maksud Tante ya ndak mau nolak …,” tawaku pecah disusul tawa Haris bercampur cemas.

“Huuuuuu …, aku sampai berkeringat dingin Te,” tawanya ikut renyah karena merasa sangat bahagia.

“Kapan mau dilamar?” tanyaku mengalir penuh keyakinan.

“Secepatnya, Te sebab aku lusa sudah akan berangkat,” jawabnya disertai helaan napas panjang seolah ia berat untuk berangkat. Waktu memang tak pernah mau menunggu. Haris bertemu dengan Indah hanya beberapa saat ketika dua bulan sebelumnya, ia telah menandatangani kontrak kerja di pelayaran asing selama dua tahun ke depan.

“Besok aku diminta orang tua Indah untuk menemui beliau,”

“Kamu berani?” tanyaku ragu.

“InshaAllah te, karena aku yakin Indah akan menjadi yang terbaik buatku kelak,” jawabnya tanpa ragu menyadarkan ku bahwa Haris telah tumbuh dewasa dan mampu brtanggungjawab atas keputusan yang diambilnya meski di mataku ia tetaplah Haris bayi.

Waktu serasa semakin cepat berlalu tanpa kompromi menunggu meski sekejap. Haris harus berangkat ke Jakarta selama beberapa hari sebelum iya berangkat ke Taiwan. Lamaran untuk Indah pun harus dilangsungkan meski tanpa kehadiran Haris. Ia hanya menyaksikan melalui video call bahwa kami para orangtua telah mengikat janji untuk saling menerima dan merestui hubungan Haris dalam ikatan pertunangan.

Indah tampak menitikkan air mata bahagia bercampur sedih. Ia bahagia karena ia benar-benar dilamar kekasih pujaan hatinya. Akan tetapi relung hatinya sedih karena harus merelakan calon suaminya pergi selama dua tahun ke depan. Buliran bening membasah pipi putihnya. Hidung dan pipinya memerah tak mampu menahan kesedihan berpisah dengan Haris. Hanya cincin pertunangan sebagai pengikat hatinya.

“Sabar ya sayang, kami pun merasa berat berpisah dengan Haris, namun jagan rasakan ini sebagai perpisahan. Ini adalah perjuangan yang akan memperkuat ikatan cinta kalian menuju bahagia kelak, inshaAllah,” aku mengusap punggungnya yang berguncang karena isak tangis yang sejak tadi tertahan membuncah pecah. Kami larut dalam airmata.

“Kamu juga yang sabar ya, Ris, tetap semangat dengan perjalan memperjuangkan masa depan kalian,” ucapku seraya meambaikan tangan untuk Haris yang juga tampak sedang menangis. Ia hanya menganggukkan kepala tak sanggup berucap. Video call segera aku matikan agar tak terlarut dalam kesedihan yang semakin dalam.

“Aku masih seminggu lagi berangkat, Te,” ucap Haris ketika kami bercakap melalui video call yang juga tersambung dengan Indah yang masih lebih sering menjadi pendengar. Sebagai orang tua aku harus tau diri dan pengertian, aku mempersilahkan mereka saja yang melanjtkan obrolan berdua, karena waktu Haris untuk bisa dihubungi tak akan lama lagi. Ketika berlayar di laut lepas, ia tak akan terjangkau sinyal dan tidak akan ada kontak kecuali sangat mendesak dan penting. Tak ada kabar, berarti kabar baik sejauh penantian. Kami hanya bisa bertanya kabar melalui agen yang memberangkatkan Haris.

“Seperti ini rasa menjalani hubungan jarak jauh ya, Te?” pesan whatsapp dari Indah.

“Sabar nakku sayang, yang kamu dan Haris hadapi saat ini masih permulaan karena nanti, ketika Haris berlayar ke laut lepas, maka saat itu kesabaran kita benar-benar akan dalam ujian. Kita tidak bisa menghubunginya ketika rindu, kita hanya bisa mendoakannya, dan itu akan dua tahun ke depan, Nak,” balasku agar ia siap menghadapi waktu penantian yang akan semakin mencekam tanpa kabar.

Aku berusaha setegar mungkin agar tak membuatnya semakin rapuh. Aku harus menepati janjiku pada Haris untuk menemaninya selama ia berlayar. Aku berjanji untuk selalu ada ketika ia rindu.

“Mana mbak Indah?” tanyaku pada Elsa putri tunggalku yang juga sangat dekat dengan Indah. Sehingga ketika Indah aku ajak untuk menginap di rumah, maka ia akan tidur sekamar bersamanya.

“Di kamar,” kata Elsa sembari memberi tanda dengan jarinya bahwa Indah sedang menangis di kamar. Tentu aku segera menghampirinya.

“Sabar sayang,” kupeluk dan kuusap peunggungnya agar ia tenang. Kembali aku harus berjuang agar buliran bening tak meluncur deras menahan rindu.

“Indah milik siapa, Te? Indah hadir di sini untuk apa, Te?” tangisnya semakin pecah memeluk guling yang diberikan Elsa dengan cerita bahwa guling itu adalah guling yang biasa digunakan Haris selama tinggal bersamaku pada saat Haris menyelesaikan sekolah pelayaran selama tiga tahun.

“Kamu sayangnya Haris, Nak …, dan Haris anakku, berarti kamu juga anakku. Kamu ada di sini karena kamu adalah bagian keluarga kami sejak Haris melingkarkan cincin ini,” ucapku seraya menggenggam jemari lentiknya dan menunjuk pada cincin pertunagan yang melingkar di jari manisnya.

Aku menelan ludah untuk membasahi kerongkonganku yang serasa kering. Aku bisa merasakan kerinduan Indah pada Haris seperti aku juga sangat merindukannya.

“Kita berdo’a saja, ya Nakku sayang, semoga Haris selalu sehat dalam lindungan Allah. Semoga kepedihan kalian terbayar dengan kebahagiaan yang sangat bahagia di masa yang akan datang. Dua tahun itu tidak lama sayang, karena setelahnya kalian akan bersama selamanya, inshaAllah.

“Aamiin,” bisik Indah menghela napas untuk meredakan isak tangisnya. Ku gayut lengannya untuk aku ajak makan siang. Namun ia menolak, katanya masih kenyang. Aku maklum, dan memahami, dia pasti sedang ingin sendiri. Maka kutinggalkan Indah tetap memeluk guling di kamar Elsa.

“Hari ini Mas Haris terhitung telah enam bulan berlayar ya, Te?” pesan whatsapp yang tak asing bagiku. Aku tau dan sangat paham betapa Indah merindukan Haris.

“Iya, Nakku sayang,” aku menjawab dengan panggilan sayang agar Indah merasa lebih dekat dan akrab denganku sebagai keluarga.

“Seumpama kamu bayi, rasanya tante ingin menggendongmu ke mana-mana agar kau merasakan pelukan hangat yang pernah Haris rasakan ketika bayi,” lanjutku menenangkan dan memberinya semangat, meskipun airmataku tak kalah derasnya dari airmatanya.

“Terimakasih atas pengertian tante selama ini selalu menjadi tempat curhat ketika Indah kangen Mas Haris,” ketiknya.

“Tante juga terimakasih atas kebahagiaan yang kau titip untuk Haris, dan kesetiaanmu menunggunya. Ke depan akan semakin banyak godaan sayang. Semoga kamu bisa bersabar dan tabah dalam penantian panjang ini,” Aku pun menghela napas panjang sesara lelah menahan air mata.

“Iya, Te, Indah juga sangat berterimaksih, keluarga mas Haris baik kepada Indah dan keluarga,”

“Itu sudah seharusnya, Nak,” balasku singkat.

“Sabar dan semangat dalam penantian dan rindu panjang ini ya, Nak …, bukan hanya kamu yang merindunya. Namun tante juga sangat merindukannya. Haris itu bayi besarku, Aku merasakan juga rindumu, jangan terlalu sering kau tangisi, di doakan saja ya, Nak,” balasku panjang lebar membahas betapa Aku dan Indah sangat merindukan Haris.

“InshaAllah dalam rindu, Aku selalu berdo’a,Te …, semoga mas Haris nun jauh di sana selalu sehat dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Ya Robbal alaamin,” tulisnya.

“Yang tabah ya Nakku, meski cinta dan rindu kalian terhalang laut biru, meski kalian belum bisa bertemu untuk saling bercerita rindu, meski kalian belum bisa tertawa bersama, yakinlah semua akan menjadi penguat ikatan kalian kelak,” tulisku agar ia senantiasa tegar dan kuat meniti hari-hari dengan rindu sedalam laut biru.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post