Catatan Mutiaraku
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-43
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Chalisa adalah putri tunggal setelah tujuh tahun penantian atas kehadirannya. Kista memaksa ovarium kanan saya untuk diangkat, masih ada harapan untuk memberinya adik, namun hanya Allah yang tau rencana itu. Sampai kini, Chalisa tumbuh sebagai putri tunggal. Menjaganya bagai menjaga sebuah mutiara, tentu saja saya berharap mutiara itu berkilau.
Sejak usia depan bulan, ia sudah bisa menyebutkan beberapa kosa kata. Saya merasa ia adalah anak yang sangat cerdas dan kesit. Celotehnya banyak, mungkin karena saya memang cerewet sehingga hal ini menurun secara otomatis …, hehehe.
Ia mulai suka menggambar dan mencorat-coret, agar tembok terselamatkan, maka ayahnya menyediakan papan tulis sebagai tempatnya berkreasi, entah menggambar ataupun menulis benang kusut. Kalau bersama bunda, ia biasa mendapat kertas atau buku kosong agar buku tulis siswa tak jadi sasaran.
Namun, kegalauan bunda mulai muncul ketika teman-temannya telah bisa berhitung, membaca dan pandai bernyanyi, Chalisa tidak menunjukkan salah satu kemampuan itu. Saya jarang mendengarnya bernyanyi, saya juga tidak mendengar ia menghafalkan do’a ataupun surat-surat pendek al-Qur’an, ia pun belum bisa berhitung.
Setiap kali saya mencoba menyanyikan lagu anak, ataupun membacakan surat-surat pendek yang harus ia hafalkan, ia selalu menutup mulut saya agar berhenti. Chalisa tidak suka, apa karena suara saya seperti kaleng ditarik becak ya? Hehehe, yang jelas bukan itu. Ketika saya mengajarinya membaca dan berhitungpun, dia tidak tertarik. Saya mulai patah hati. Mungkin saya adalah bunda yang tidak menarik.
Sejak itu, saya berusaha membacakannya buku cerita setiap menjelang tidur, dia suka sekali dengan cerita bergambar,dia mengerti cerita dengan memahami gambar. Sampai suatu saat ketika saya terkantuk-kantuk membacakan cerita, ia tau jika saya membaca lembar yang salah, terlompat satu halaman. Hmmm …, saya benar-benar patah hati, mati gaya bagaimana cara agar my Chalisa mau belajar dan suka membaca.
Saya coba mengajaknya ke toko buku, saya dekatkan ia dengan rak buku yang berisi cerita anak, saya biarkan dia memilih buku cerita bergambar yang ia suka. Sementara saya memilihkan buku-buku alphabhet bergambar. Saya juga banyak menempel tulisan bergambar, termasuk perlak pun berupa huruf bergambar. Dengan demikian, dia tidak merasa Bunda yang mengajari, tapi rasa penasarannya yang membuatnya banyak bertanya.
Mengenai buku-buku cerita bergambar yang ia beli, saya biarkan di beberapa tempat agar ia tertarik, di kasur, di depan TV, di meja makan, dimanapun dia bisa meliahat beberapa buku cerita. Sesekali saya melihat gambar-gambarnya, dan mulai drama seolah saya melihat sesuatu yang luar biasa, hehehe …, anak kecil akan tertarik. Ia pun tak merasa sedang belajar.
Namun tak semudah itu untuk menarik perhatian Chalisa, saya harus benar-benar paham dengan mood dia. Kalau moodnya tidak sedang tertarik pada kegiatan belajar membaca, ya …, bunda harus bersabar menemani moodnya sedang ingin bermain apa. Buang jauh-jauh rasa khawatir akan ketidak mampuan si buah hati, karena hal itu tidak akan menolong, justru akan semakin memberatkan pikiran bunda.
“Tidak ada masalah dengan Chalisa, mungkin bundanya yang bermasalah, Bunda tidak yakin akan kemampuan ananda. Cobalah mulai sekarang, pandang ananda dari sisi kelebihannya, bukan kekurangannya, lalu do’akan, jika perlu, gunakan terapi air,” salah satu nasihat, saat saya mengikuti parenting.
Sejak itu, saya merubah mindset saya, rasa khawatir saya ganti dengan do’a terbaik untuk Mutiara hati saya. Dan tentu saja, memberikan contoh-contoh pembiasaan baik terus saya upayakan. Membelikannya buku bacaan, membiasakan diri saya membaca dengan posisi bisa dilihat olehnya, termasuk bercerta tentang bagaimana saya menulis.
Amazingly! Tak disangka, sungguh luarbiasa! Ia septerti tiba-tiba bisa membaca tanpa saya tau. Padahal baru sekitar dua bulanan saya merubah mindset saya dan melakukan terapi air serta megintensifkan contoh-contoh. Saya masih membelikannya buku huruf bergambar yang membuat Chalisa malah bertanya,” Buku ini buat siapa, Bun?”
“Ya, buat adeklah …,” sahut saya agak heran dengan pertanyaannya.
“Adek sudah bisa baca !” serunya.
“Alhamdulillah …,” saya memeluknya sebagai ungkapan syukur dan bahagia.
“Sejak kapan adek bisa baca?” saya bertanya penasaran
“Sejak dulu,” ia menjawab sambil berlalu terus asyik dengan sepeda barunya. Jawaban itu membuat saya terpingkal dan pandangan mulai kabur tertutup air mata yang mulai menggelembung, ya begitulah diri saya, selalu gampang menangis. Hehe, si ayah bilang bahwa saya “alay”.
Mutiara bunda akhirnya bisa membaca, ia pun mulai menulis cerita. Salah satu cerita yang masih saya simpan adalah tentang “Cerita Peri” berupa tulisan tangan yang bisa dilihat di sini. Cerita lainnya tentang “Rahasia Chaca” dan cerita tentang “Empat Kucings” dia menuliskan kata kucing dengan s mungkin terpengaruh pelajaran bahasa Inggrisnya.
Pasti akan timbul pertanyaan, mengapa tidak diarahkan untuk ikut pelatihan sasisabu? Hmmmm …, tidak semudah itu, Ferguso! Menghadapi anak sendiri, lebih banyak tantangan daripada menghadapi siswa. Di sinilah, kesabaran, kepercayaan akan kemampuanya, contoh nyata dalam keseharian serta mendoakannya adalah tantangan buat bunda.
Oh ya, tentang terapi air, ini hanya pengalaman pribadi yang hanya saya yakini sendiri sebagai salah satu pengalaman yang ingin saya bagi, bukan untuk diyakini. Bisa diabaikan. Caranya sangat mudah, cukup tempatkan air dalam wadah minum bisa berupa botol atau gelas kesukaannya. Air dalam wadah itu saya do’ai setiap selesai shalat lima waktu. Boleh menambahkan dengan bacaan ayat-ayat al-Qur’an sebisa saya, lalu air itu diembunkan di tempat yang terjamin kebersihannya. Asal didiamkan sampai pagi di tempat yang agak terbuka dan aman dari jagnkauan siapapun.
Esok harinya, air itu saya fungsikan sebagai air minumnya. Bahkan, pada saat ia demam, saya mengusapkan air itu ke wajahnya. Entahlah, cara ini hanya memberi kekuatan batin dan ketenangan bagi saya bahwa semua do’a-do’a saya meminta pertolongan kepada Allah terkabulkan. Mungkin sifatnya hanya menenangkan diri saya yang berefek ketenangan untuk anak saya. Saya merasakan, jika saya tenang, demikian pula yang akan dirasakan anak saya. Dan ketenangan ini yang akan memudahkan semua aktifitas menjadi lebih ringan tanpa rasa khawatir yang akan membatasi kemampuan buah hati yang tak pernah kita tau bahwa ia lebih mampu dari yang kita pikirkan.
Balung, 10 September 2020
Penulis adalah salah satu guru penulis di kota Jember yang berdinas sebagai guru bahasa Inggris di SMPN 1 Balung. Terlahir di Bondowoso pada tanggal 31 Agustus 1972. Kritik dan saran membangun atas tulisannya bisa melalui **(censored)** atau whatsapp di **(censored)**



Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
