Guru Makan Gaji Buta
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-36
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Sejak awal pandemic, kalimat ‘guru makan gaji buta’ mulai sering terdengar, baik di tetangga, di saudara-saudara, bahkan tertulis di media sosial. Kala itu, saya tidak merasa terusik, tetapi menjadi bahan renungan bagi diri saya untuk auto introspeksi. Apakah benar guru makan gaji Buta? Jangan-jangan saya juga demikian? Tentu saya tidak mau seperti itu. Maka kalimat itu menjadi cambuk bagi saya untuk berupaya lebih baik agar saya tidak ada dalam deretan ‘guru makan gaji buta’. Benar-benar ngeri membayangkan diri ini berjajar dalam antrian untuk mempertanggungjawabkan gaji buta di hadapanNya, kelak. Apalagi, saya sempat terlibat perbincangan dengan kepala sekolah yang resah dengan kalimat menyeramkan itu.
Pemikiran itu mungkin terlampau jauh, tapi hal tersebut memang benar-benar terbayang dalam benak saya. Rasa takut itu benar-benar menjadi pemicu kehati-hatian dan menjadi semangat untuk melakukan hal maksimal dalam kondisi ruang gerak yang terbatas. Kebetulan sekali saya berada di sekolah yang semua gurunya tergolong bersemangat dan rajin-rajin, baik yang masih muda, yang masih berstatus sebagai guru honorer, yang PNS maupun yang sudah sepuh dan hampir pensiun, semua masih punya semangat pantang menyerah.
Kami di SMP Negeri 1 Balung segera bergerak cepat mengatur strategy untuk tetap bisa melakukan kegiatan belajar mengajar meskipun secara daring, yang artinya, semua guru harus melek IT ( paham dan bisa mengoperasikan IT). Pada saat semua wajib berada di rumah, kami secara bergantian hadir ke sekolah untuk belajar aplikasi yang akan digunakan secara serentak pada siswa.
Melihat para guru muda yang bersemangat, bukan hal yang aneh, karena usia muda memang usia bersemangat. Namun, yang membuat saya terharu adalah para guru yang sudah sepuh, mereka rela membawa pendamping yang bisa membantu mereka untuk belajar dan mengoperasikan aplikasi pembelajaran yang akan kami gunakan bersama siswa. Bahkan ada guru-guru yang rela mengeluarkan dana untuk belajar IT secara prifat. Saya bersyukur berada di antara mereka yang semangatnya, tentu menjadi semangat saya.
Waktu terus bergulir, namun pandemic tak kunjung berakhir. Proses belajar mengajar yang tiba-tiba daring tentu sangat mengejutkan. Karena mau tidak mau, siap tidak siap, terpaksa atau rela, semua tidak dapat menghindarkan diri dari penggunaan IT. Kondisi tersebut menghadirkan masalah baru. Tidak semua siswa mempunyai Handphone android sebagai alat utama pembelajaran daring. Tidak semua orangtua mampu membelikan paket data setiap hari, dan masih banyak kendala-kendala yang membuat pembelajaran daring terkendala.
Kamipun mengevaluasi strategy demi strategy agar pembelajaran bisa dilaksanakan semaksimal mungkin agar tak ada siswa yang tertinggal. Kami pun melakukan pendataan kepada para siswa yang sama sekali tidak muncul, baik dalam pengisian absensi maupun dalam pengumpulan tugas-tugas. Kami, mengundang para orangtua secara bergantian dengan tetap mematuhi protokol kesehatan untuk menanyakan dan berdiskusi perihal putra-putri yang tidak bisa mengikuti pembelajaran secara daring.
Akhirnya, kami menemukan solusi, siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran secara daring akan dilayani secara luring, para siswa secara terjadwal akan menerima materi dan penjelasan di sekolah, tetap mengikuti protokol kesehatan tentunya, karena kami tidak ingin perjuangan mencerdaskan anak bangsa ini kandas oleh virus corona. Beruntungnya, di antara para siswa belum ada yang membutuhkan guling atau guru keliling.
Bisa dibayangkan betapa banyaknya hal yang harus kami persiapkan demi terlaksananya proses belajar mengajar baik secara daring maupun luring? Jangan dikira kami para guru berdiam di rumah, duduk manis atau santai tiduran sambil menonton drakor, sinetron maupun film India di televisi sambil menikmati camilan. Kami tetap bertugas melaksanakan proses belajar mengajar.
Bahkan, kami tetap berdinas hadir ke sekolah, kami para guru tetap melayani pembelajaran daring dan luring dari sekolah, sedangkan siswa tetap di rumah. Namun karena jumlah korban covid di wilayah kami meningkat, maka kehadiran guru di sekolah kembali dibatasi. Kami terjadwal untuk secara bergantian (piket) hadir ke sekolah. Kami tetap berupaya melayani siswa agar tetap bisa mnegikuti proses belajar mengajar. Tidak ada salah satu di antara kami yang boleh lalai, karena pemantauan dari kepala sekolah dan saling support dari sesama guru kurang lebihnya terlaksana dengan baik.
Dari sekelumit gambaran kegiatan itu, saya menjadi heran jika masih ada yang mengatakan dengan santai bahwa guru makan gaji buta. Karena menurut pengalaman yang saya lihat dan saya lakukan, hendaknya perlu hati-hati untuk mengatakan bahwa guru makan gaji buta. Bukan saya membela diri atau ngales karena saya guru, sama sekali tidak bermaksud seperti itu.
Saya hanya ingin membantu meringankan beban pikiran para orangtua atau siapa saja yang merasa jengah, jengkel, sebbel, tidak terima, iri, dengki, benci, marah, atau apa saja hal negative tentang guru sehingga terucaplah kata-kata yang sebenarnya merugikan diri sendiri dan para putra-putri kita. Mengapa?
Orang tua yang berprasangka tidak baik pada guru, tentu saja akan menular pada putra-putri kita, mereka pun akan kehilangan rasa percaya pada guru yang harusnya menjadi sumber inspirasi dan tokoh yang bisa dijadikan panutan. Nah, jika para siswa kehilangan rasa percaya pada guru, bagaimana mereka akan termotivasi untuk belajar dengan bersungguh-sungguh? Apalagi tanpa tatap muka, lah, wong karakter tokoh utamanya telah dimatikan dengan prasangka-prasangka.
Trus …? Jika terjadi perubahan sikap dan karakter tidak baik bermunculan pada putra-putri kita, tetap sekolah dan guru yang disalahkan. Hmmmm …, bukankah selama pandemic anak-anak berada dalam rengkuhan kasih sayang terdekat dengan pantauan orangtua masing-masing? Para putra-putri sebenarnya ada dalam lingkungan teraman dan ternyaman bersama orangtua yang juga sama-sama harus lebih sering berada di rumah selama pandemic? Bukankah ini hikmah yang luarbiasa?
Selain sebagai guru, saya juga ada pada posisi sebagai orang tua, karena saya juga punya anak-anak yang sedang bersekolah. Jadi saya bisa merasakan kedua posisi tersebut dengan sangat nyata. Sebagai orangtua, saya berkesempatan memantau dan menemani kegiatan belajar anak saya. Saya pun merasa memiliki keleluasaan waktu untuk bersama, yang selama ini agak sulit kami lakukan.
Jenuh? Ribet? Sudah tentu menjadi penyakit yang mengganggu kenyamanan. Tapi, sungguh saya tidak ingin merusak hati dan semangat anak saya yang saya syukuri, sampai hari ini, anak saya masih sangat patuh dan percaya pada para gurunya. Bagi saya, itu adalah modal utama bagi anak-anak untuk terus bersemangat dalam belajar dan tentu saja saya berharap kebarohakan ilmu terus mengalir pada anak saya. Belum tentu loh? motivasi saya bisa sehebat motivasi yang diberikan oleh gurunya. Karena setahu saya, anak lebih percaya pada bapak dan ibu gurunya daripada orangtuanya. Itu yang saya rasakan dan saya alami.
Saya pun mendoakan guru-guru anak saya dengan penuh keyakinan, dengan cara seperti itu akan memberi kebaikan dan keberkahan bersama, anak-anak akan tetap bersemangat belajar dengan penuh rasa percaya, guru-guru akan tetap semangat bertugas melayani mereka, dan para orang tua tetap tenang dalam menghadapi situasi pandemic ini.
Bukankah, jika kita bisa saling bergadengan tangan, saling support dan saling memberi semangat, akan menjadi kemudahan bagi kita bersama? Sebaiknya kita lebih berfokus pada hal positif yang bisa kita lakukan, daripada berfokus pada masalah dan menggerutu, menghujat, menilai negative dan berprasangka tidak baik yang hanya akan membuat beban lebih berat dan menjerat kita dalam kubangan masalah yang tidak bisa tuntas.
Semoga, tulisan saya kali ini bisa membuat kita saling merenung, yang ada di posisi guru semoga lebih bersemangat dan bertanggungjawab dalam memenuhi tugas-tugasnya mencerdaskan anak bangsa, sehingga terhindar dari makan gaji buta. Yang ada di posisi orang tua semoga terhindar dari frustasi yang mendorong pikiran negative yang merugikan putra-putri kita sendiri dalam belajar. Bagi siswa, semoga kebarokahan ilmu tetap tercurah agar masa depan mereka cemerlang baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Semoga pandemic ini segera berlalu, semoga keadaan segera menjadi normal. Semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan kasih sayang Allah SWT yang tiada batas. Aamiin Ya Robbal alaamiiin.
Balung, 3 September 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan