Mahkota Palsu 20
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-35
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Nela tampak kesakitan dengan mata kirinya yang lebam, namun hatinya lebih sakit karena yang melakukan itu adalah istri Pak Bram. Nela sangat kesal pada Istri Pak Bram yang memukulnya dengan tas jinjing tepat di mata kirinya tanpa perlawanan. Ia merasa sedih karena Pak Bram lebih memilih menenangkan istrinya dan meninggalkannya sendiri.
Sementara Fatma merasa sangat kesal dan kecewa pada kakak manjanya itu. Sangat ingin ia melontarkan kata-kata tak pantas, namun tak pernah sanggup ia ucapkan pada kakak yang sangat ia sayangi. Seberapa besar rasa kecewanya, masih kalah oleh rasa sayangnya kepada Nela.
Perjalanan pulang sore itu serasa panjang. Tak ada canda maupun cerita kecuali deru motor menembus jalan aspal. Fatma dan Nela larut dalam kecamuk pikiran masing-masing. Fatma risau, apa yang akan ia jelaskan kepada Akung dan Uti. Untuk mengatakan yang sebenarnya sungguh tidak mungkin, karena mereka akan marah besar pada Nela.
Akhirnya, mereka berdua tiba di rumah. Nela berlari kecil sambil terus menutup mata kirinya. Ia ingin segera merebahkan diri di kamarnya.
“Mbakmu kenapa?” suara Akung mengagetkan Fatma.
“Ehm …, Mbak Fatma jatuh, Yah,” Jawab Fatma singkat seraya mengikuti kakaknya menuju kamar di mana Nela telah merebahkan diri. Melihat hal itu, tentu saja Akung merasa penasaran dan mengikuti langkah kedua putrinya.
“Jatuh di mana?” tanya Akung khawatir sembari memeriksa mata Nela.
“Aku ndak apa-apa, Kung,” kata Nela menahan sakit. Ia tak ingin ayahnya memberondong dengan pertanyaan yang akan sulit ia jawab.
“Kok sampai seperti ini? Jatuh bagaimana?” desak Akung. Namun Nela tak sanggup menjawa. Ia bingung mau berkata apa.
“Tadi Mbak Nela tersandung karpet Yah, lalu tergelincir membentur kursi tamu di lokasi pesta pernikahan,” Fatma terpaksa berbohong demi melindungi kakaknya. Fatma segera menuju dapur untuk mengambilkan esbatu, ia berniat untuk mengopres mata kiri kakanya, selain itu ia ingin menghindari pertanyaan lebih lanjut. Ia tak akan sanggup melakukan kebohongan selanjutnya.
Akung terlihat bergegas memanggil Uti yang juga bersegera menuju kamar Nela.
“Bagaimana ceritanya kok bisa seperti ini?” Seru Uti sembari menggantikan Fatma mengompres mata Nela. Uti tampak khawatir, ia pun ingin bertanya banyak hal.
“Sudah Bu, biarkan Nela istirahat dulu,” kata Akung menenangkan Uti yang masih merasa sangat penasaran. Anak-anak Nela berhamburan ke kamar setelah mendapat kabar dari Uti mereka.
“Mama kenapa, Ma?” peluk Yanti sambil menangisi mamanya. Semantara Dewa tak banyak bicara. Ia hanya duduk di ujung dipan memandangi mama yang tentu saja sangat ia sayangi. Dewa hanya memperhatikan tanpa bicara. Ia menggayut lengan Yanti dan mengajaknya keluar.
“Kasihan mama, biarkan mama istirahat dulu ya?” bujuk Dewa pada adiknya. Hanya Fatma yang tetap berada bersama Nela. Ia tak tega meninggalkan kakaknya sendiri. Malam itu ia menemani Nela. Meski dalam batinnya kecewa dan penuh pertanyaan, namun semua ia tangguhkan. Ia tak tega melihat Nela kesakitan seperti itu.
Fatma gelisah, apa yang hendak ia sampaikan ke Akung jika besok ada pertanyaan lagi. Akung pasti akan lebih banyak bertanya pada Fatma daripada Nela. Akung sudah paham, jika Fatma yang akan memberi penjelasan.
Akankah Fatma berbohong lagi demi melindungi kakanya? ( Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan