Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Mahkota Palsu 19

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-34

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Kisah sebelumnya, Fatma dikagetkan oleh telepon dari mbak Nela yang memintanya untuk segera menjemput dirinya di mbak Cicik, seorang family di kota. Tangisan kakanya semakin membuatnya risau dan bergegas berangkat untuk menjemputnya. Tanpa memberi tau Akung dan Uti mengenai hal yang sebenarnya, Fatma berangkat menjemput Nela dengan pikiran penuh tanda tanya dan terus menerus berdo’a agar kakaknya baik-baik saja.

Setiba di rumah mbak Cicik, Fatma segera berlari kecil memasuki rumah saudara sepupunya itu.

“Ada apa, Mbak?” tanya Fatma penasaran seraya memeluk kakak yang sangat ia sayangi yang sedang menangis, ia tampak sangat shock dan belum bisa diajak bicara kecuali menangis. Ada biru lebam di mata kirinya seperti bekas pukulan keras.

“Mbak Nela tadi dilabrak istri pak Bram sewaktu mendapati Pak Bram dan Mbak Nela berduaan makan bersama di restoran terkenal di kota ini Ternyata sejak pagi, istri Pak Bram memang membuntuti kemana suaminya pergi. Istri Pak Bram tidak bisa menahan emosi ketika melihat mbak Nela tampak bermanja pada Pak Bram, ia langsung mendaratkan tas yang dibawanya ke arah wajah mbak Nela tanpa perlawanan. Untung saja satpam bisa menghentikannya, dan mengantarkan mbak Nela pulang sementara Pak Bram mengurus istrinya,” Mbak Cicik membantu menjelaskan kejadian yang menimpa Nela.

“Ya Allah …, katanya tadi pagi mbak Nela mau berangkat dengan Bu Retno mau ada acara rias pengantin? Hmmmm …, ternyata benar dugaanku, Mbak Nela berbohong. Ya seperti ini akibatnya kalau ndak mau mendengarkan nasihat baik orang lain. Sudah berkali-kali aku bilang ndak usah berhubungan dengan Pak Bram tapi selalu ada saja alasan pembenaran. Kalau seperti ini trus bagaiman?” Fatma sangat emosi pada kakaknya itu.

“Sudah dek Fatma, sabar dulu, biarkan Mbak Nela tenang dulu, dia masih shock,” kata mbak Cicik menenangkan kegeraman Fatma.

“Tau seperti ini, aku ndak bakalan mau menyusul mbak Nela ke sini!” gerutu Fatma masih emosi.

“Berapa kali aku bilang, Mbak? Ndak usah berhubungan dengan Pak Bram! Aku saja paham kalau dia itu ada maunya. Lah kok mbak Nela selalu mengatakan tidak ada hubungan apa-apa!”

“Aku memang tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Bram, hanya berteman baik,” kilah Nela dalam tangisnya.

“Mbak, ingat status mbak apa? Jadi janda itu harusnya berhati-hati dalam bergaul, Mbak. Bukan seenaknya. Janda itu selalu mendapat sorotan negative dikalangan masyarakat kita, Mbak! Jagankan berbuat salah, berbuat baik saja masih dituduh ndak bener,”

“Istrinya saja yang cemburuan!” sahut Nela masih membela diri.

“Astagfirullah …, Mbaaaaak? Kok nggak nyadar-nyadar sih? Apapun alsannya, mbak Nela itu salah mau berduaan dengan Pak Bram, apalagi makan bersama di restoran mahal. Untuk apa? Kenapa harus berdua dengan Mbak Nela? Kenapa ndak bersama teman lainnya atau istrinya saja? Mikir dong, Mbaaaak, mikiiiiiir!” Fatma benar-benar geram dan bergegas keluar. Ia hendak pulang.

“Mau kemana, Dik Fatma? Tanya mbak Cicik.

“Saya mau pulang, Mbak, biar Mbak Nela pulang sendiri, kalau ada masalah dia nangis, tetapi tidak pernah mau mendengarkan nasihat orang,” Fatma menggerutu kesal dengan sikap mbaknya yang seperti anak kecil kehilangan balon. Fatma juga kesal ternyata mbaknya berbohong. Bagi Fatma, peristiwa itu sangat memalukan.

“Jangan sepeti itu, Dik Fatma, kasihan mbak Nela. Dia masih shock. Kalu sudah tenang saja dinasehati lagi. Sekarang sebaiknya mbak Nela diajak pulang,” kalimat mbak Cicik membuat langkah Fatma tertahan.

Benar juga kata-kata mbak CIcik, lagipula Fatma menjadi sungkan jika meninggalkan kakanya di rumah mbak Cicik, nantinya malah merepotkan. Akhirnya, meskipun kesal, Fatma mengajak mbak Nela pulang. Lebam di pipi Nela sebenarnya membuat Fatma tidak tega.

Tak ada percakapan sepanjang perjalanan pulang, Fatma yang kesal merasa malas untuk berbincang dengan mbak Nela. Sementara Nela tampak kesakitan sambil meutup mata kirinya dengan selendang. Pikirannya berkecamuk. Bagaimana ia hendak menjelaskan semua peristiwa memalukan kepada sang Ayah? (Bersambung)

Balung, 1 September 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post