Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 21
www.google.com

Mahkota Palsu 21

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-39

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Kiasah sebelumnya,

Fatma gelisah, apa yang hendak ia sampaikan ke Akung jika besok ada pertanyaan lagi. Akung pasti akan lebih banyak bertanya pada Fatma daripada Nela. Akung sudah paham, jika Fatma yang akan memberi penjelasan. Akankah Fatma berbohong lagi demi melindungi kakanya?

****

Keesokan harinya, Nela tampak lebih baik meski lebam biru di matanya masih tampak jelas. Dengan kondisi itu tetntu dia sibuk mencari cara agar segera mebaik, Nela tampak sangat terganggu dengan lebam itu, bukan hanya karena rasa sakit yang tersisa, tetapi kekhawatiran akan penampilan yang lebih mengganggu pikirannya. Mengenai permasalahan yang menimpa, seperti biasa tidak akan menjadi beban terlalu berat baginya meskipun orang-orang di sekelilingnya masih penuh tanda tanya.

Pagi itu Fatma tidak bisa banyak bertanya untuk menuntaskan semua rasa penasaran hatinya karena ia harus bersiap diri untuk berangkat kuliah. Fatma harus berangkat sepagi mungkin agar tidak terlambat sampai di kampus. Hal ini juga menolong dirinya selamat dari pertanyaan Akung dan Uti yang akan sangat sulit ia jawab. Hati Fatma serasa terganjal batu karena menyimpan rahasia yang iapun bingung apa sebenarnya yang terjadi dengan kakaknya.

“Bagaimana keadaanmu?” suara Akung mengejutkan Nela dan Fatma yang sedang menikmati sarapan pagi ala kadarnya. Fatma tampak agak lebih buru-buru meminum teh hangat, selembar roti tawar yang biasanya ia olesi dengan selai kali ini ia celupkan saja ke dalam teh hangat untuk mempercepat sarapannya, sementara Nela lebih memilih nasi goreng yang telah di masak ibu. Dewa dan Yanti belum hadir di meja makan. Hal itu memberi kesempatan Akung untuk bertanya banyak hal pada Nela.

Fatma buru-buru berpamitan, ia berharap terbebas dari pertanyaan Akung yang akan sulit ia jawab.

“Sudah ndak sakit kok, Kung,” Nela menjawab tanpa keberanian menatap wajah sang Ayah. Ia tau persis bahwa Akung akan bertanya lebih banyak perihal mata lebamnya.

“Ayah tau kalau sakitmu sudah membaik, yang belum ayah tau adalah penyebab mengapa sampai lebam seperti itu,” Kalimat Akung mulai menyelidik pelan-pelan.

“Kemarin Fatma kan sudah cerita, Kung?” jawab Nela dengan wajah tetap menunduk. Nasi goreng sarapannya serasa sulit ia telan. Tanpa jawaban pun, Akung sudah bisa membaca jika ada yang disembunyikan oleh putri pertamanya itu.

“Rencanamu dengan Tiyok bagaimana?” pertanyaan lanjutan ini seperti aliran listrik yang menyengat Nela. Meskipun ia dan Tiyok telah membuat rencana, tetapi Nela masih belum terlalu yakin.

“Mas Tiyok akan ke sini melamarku, Yah,” Jawab Nela tanpa beban.

“Apa kamu benar-benar yakin dengan dia? Apa anak-anak sudah tau keinginanmu ini?” Akung bertanya pelan namun tanpa jeda. Nela tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya yang tampak berat memberi ijin atas rencananya yang masih belum jelas.

“Sebaiknya kamu pikir baik-baik sebelum memutuskan menikah lagi. Siapa calon suami yang akan kamu pilih harusnya dikenalkan dulu pada keluarga,” Sejenak Akung berhenti untuk menyeruput kopi hangat di hadapannya.

“Ayah tidak akan meralangmu menikah dengan siapa saja asalkan bisa membuat kamu, dan terutama anak-anakmu bahagia. Jangan buru-buru, kenali dulu calon suamimu dengan baik. Selama itu, sebaiknya membatasi pergaulanmu dengan laki-laki manapun. Selain tidak baik di pandangan masyarakat, juga tidak baik untukmu sendiri. Kasihan anak-anakmu,” Nasihat Akung seperti biasa.

“Iya, Nak, sebaiknya berhati-hati, karena urusan menikah bukan hal yang gampang apalagi bagimu yang sudah punya dua anak. Kali ini yang harus kamu pikir juga perasaan anak-anak,” sambung Uti yang saat itu juga ikut menimbrung.

“Dewa, Yanti, ayo segera sarapan,” ujar Uti ketika melihat kehadiran kedua cucunya itu. Uti mengalihkan pembicaraan agar tak terdengar anak-anak. Hal ini menjadi kesempatan bagi Nela untuk meninggalkan meja makan. Ayahnya tak bisa lagi menalnjutkan perbincangan, ia harus mengantar Dewa dan Yanti. Uti pun memberi senyum pada si Akung agar tetap bersabar. Seperti biasa, Akung membalas senyuman itu serasa memperoleh energy untuk lebih sabar menghadapi putri pertama mereka.

Meskipun belum ada tanggapan apapun dari Nela, setidaknya Akung telah memberikan arahan agar Nela bisa berpikir lebih bijaksana dan hati-hati dalam memilih calon suaminya. Akankah Nela menerima semua nasihat Akung sang Ayah?

( Bersambung …)

Balung, 6 September 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post