Mahkota Palsu 22
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-40
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Selepas sarapan pagi yang disertai nasihat Akung dan Uti, Nela beranjak ke kamarnya. Lebam di mata kirinya sangat mengganggunya, iapun sibuk menelpon teman-tamannya untuk berkonsultasi agar lebam pengganggu kecantikannya itu segera lenyap. Ia pun tak lupa untuk curhat bahwa ia tidak bersalah, bahwa ia hanya berteman biasa dengan mas Bram, bahwa ia hanya korban kecemburuan istri mas Bram yang intinya, Nela sedang mencari dukungan atas pembenaran dirinya dirinya sendiri. Sulit baginya untuk introspeksi diri, asalkan ia bisa beralasan, semua masalah tak akan pernah ia pikirkan. Semua dianggapnya selesai.
“Nel …, ada tamu mencarimu, Nak, mungkin pelanggan,” seru Uti dari luar kamar Nela.
“Iiyaaa …,” sahut Nela agak malas beranjak dari kamarnya. Bukan karena lebam di mata kirinya yang membuatnya enggan keluar kamar, tetepi kesyikan mengobrol kesana-kemari yang tak jelas serta chatingan di gawainyalah yang menjadikannya seperti itu.
“Assalamu’alaikum, Mbak Nela,”
“Walaikumsalam,” jawab Nela pad tamunya.
“Eh, mbak Ana, silahkan duduk mbak,” sapa Nela seramah mungkin.
“Ndak usah, Mbak, saya hanya mau tanyakan apakah baju saya sudah selesai atau belum?”
“Waduh …, gimana ya? Kemarin saya pas jatuh mbak hingga saya belum bisa selesaikan jahitan pelanggan, ma’af ya …,”
“Tapi, saya mengantarkan kain itu kan sudah hampir sebulan yang lalu, mbak? Tiap saya ke sini Mbak bilang masih dalam antrian. Sebenarnya Mbak niat apa ndak sih?” suara mbak Ana meninggi, sangat jelas di raut wajahnya jika ia sedang kesal terhadap Nela yang selalu banyak alasan atas keterlambatan menjahit baju pelanggan.
“Ya, kalau mbak ndak sabar, silahkan bawa saja ke penjahit lain!” ketus Nela yang semakin membuat pelanggannya kesal. Tidak seharusnya Nela bersikap seperti itu.
“Ya, sudah, saya ambil saja kain saya!” seru mbak Ana kecewa. Nelapun buru-buru mengambil kain itu dan menyerahkannya ke mban Ana tanpa permintaan ma’af, tak pernah terpikir baginya untuk meminta ma’af karena Nela tidak pernah merasa bersalah. Malah dia menggerutu kesal setelah pelanggannya pulang.
Peristiwa itu seharusnya mebuat Nela bergegas menyelesaikan jahitan para pelanggan yang masih menumpuk, namun ia tetap lebih memilih melanjutkan obrolan bersama teman-temannya. Ia kembali merebahkan badannya sembari terus sibuk dengan gawai di tangannya. Dunia Maya menjelma menjadi nyata mematikan aktifitas Nela. Ia merasa, melalui dunia maya ia menemukan kesenangan untuk melupakan kesedihannya.
Masalah Bram tentu saja tidak akan menjadi beban pikirannya dan untuk menghalau gelisahnya, ia tak segan menghubungi Mas Tiyok. Pembicaraan mereka manis, saling sanjung dan penuh rayuan. Keduanya tenggelam dalam dunia maya yang mereka bangun seolah nyata. Perbincangan bergulir bagai air mengalir, tanpa pertimbangan maupun berpikir, Nela meminta Tiyok untuk datang melamar. Nasihat sang Ayah, Ibu, juga Fatma serta perasaan anak-anak tak terpikirkan.
Akankan Tiyok akan benar-benar datang untuk melamar Nela?
(Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
