Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 23
www.google.com

Mahkota Palsu 23

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-42

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Pada kisah sebelumnya, Nela meminta Tiyok untuk datang melamar. Nasihat sang Ayah, Ibu, juga Fatma serta perasaan anak-anak tak terpikirkan. Antara Nela dan Tiyok telah terjalin kesepakatan dari hasil perbincangan yang mengalir begitu saja.

***

Pada hari Sabtu, sore itu tampak kesibukan memasak yang lebih dari biasanya, ada beberapa saudara dan yang dimintai tolong oleh Uti untuk membantu. Hari itu keluarga Nela sedang mempersiapkan acara lamaran. Tiyok telah mengabarkan jika pada hari Minggu, ia dan saudaranya akan datang melamar. Fatma dan Akung tampak sibuk menata ruang dan membersihkannya, sementara Dewa kelihatan enggan untuk membantu, ia malah tetap asyik bermain game di hapenya.

Melihat Dewa seperti itu, Akung hanya melirik dan memberi tanda pada Fatma untuk tidak mengganggunya. Akung akan bicara sendiri pada Dewa. Sementara Yanti tak terpengaruh apapun, ia sibuk bermain bersama anak-anak lain di halaman. Yanti tetap tampak ceria, karena ia belum paham terhadap apa yang sedang ia alami, yaitu akan hadir seorang ayah baru beserta dua orang adik baru yang masih kecil-kecil.

“Dewa, ayo ikut Akung,” seru si kakek pada cucunya yang hanya menatap sekilas lalu kembali asyik pada game di gawainya.

“Dewa, Akung butuh bantuanmu,” seru Akung sekali lagi, Dewa pun beranjak dari tempatnya duduk. Ia melangkah malas. Akung memahami isi hati Dewa, karenanya Akung mengajak Dewa sekedar untuk membeli minuman mineral sebagai persiapan acara. Akung bermaksud mengajak bicara cucu kesayangannya itu.

“Dewa, apa Dewa tidak suka dengan acara lamaran mamamu?” Akung mulai membuka obrolan.

“Nggak tau, Kung,” jawab Dewa tetap menunduk lesu.

“Akung bisa merasakan apa yang Dewa rasakan,” ucap Akung sembari mengusap punggung Dewa.

“Dewa bersikap seperti ini, pasti karena Dewa amat menyayangi mama, iya kan?” pertanyaan ini hanya dijawab dengan anggukan pelan Dewa.

“Akung juga sangat sayang ke mama Dewa, dia putri pertama Akung. Namun terkadang orang yang sangat kita sayangi tak selamanya bisa memenuhi apa yang kita inginkan. Demi rasa sayang itu, kita tidak bisa menghalangi mama Dewa untuk bahagia,” Akung menghela napas, ia menepuk-nepuk punggung Dewa yang masih tertunduk.

“Akung percaya jika Dewa punya kelapangan hati untuk mama, Akung percaya jika Dewa siap berbahagia demi kebahagiaan mama. Memang tidak mudah untuk menerima orang yang belum kita kenal tiba-tiba akan hadir di tengah-tengah kita. Tapi Akung yakin, kita akan bisa menghadapi ini semua,” Akung menghentikan nasihatnya ketika mobilnya sampai di depan toko penjual air mineral.

Sementara Dewa langsung mengikuti langkah Akung tanpa bicara. Pikirannya masih belum bisa menerima semua nasihat Akung. Namun tak ada pilihan lain, rasa sayang kepada mamanya yang harus ia menangkan daripada kecewa hatinya. Dewa hanya merasa tenang karena saat ini ia masih bisa mengandalkan Akung juga Uti. Dewa berharap agar rasa kasih sayang dan perhatian mamanya tak berubah pada dirinya juga pada yanti. Dewa berharap agar calon suami mamanya adalah orang yang benar-benar baik dan bisa membahagiakan mama dan keluarga besarnya.

Akankah harapan Dewa menjadi kenyataan?

Bersambung …

Balung, 9 September 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post