Mahkota Palsu 25
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-50
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Pada kisah sebelumnya, Akung menyimpan bermacam pertanyaan terpendam mengenai kebenaran fakta tentang Tiyok. Namun, pertunangan antara Tiyok dan Nela tetap terlaksana karena Nela menerima lamaran Tiyok, maka seluruh keluarga pun menerima keputusan Nela. Meskipun pertunangan itu menggelayutkan kegalauan hati AKung dan Uti.
****
Bagi keluarga besar Nela, bukan keberadaan harta atau jabatan yang dipentingkan untuk urusan apapun, apalagi urusan jodoh. Bagi keluarganya, yang terpenting adalah kepribadian dan akhlaqnya yang baik, inshaAllah akan berbanding lurus dengan tanggungjawabnya. Harapannya, Tiyok, calon suami Nela juga demikian.
Hari berlalu, keakraban antara Tiyok dan keluaga Nela mulai terjalin. Suatu hari Tiyok bersama temannya datang untuk menginap di rumah Nela. Lagi-lagi yang diajak hadir adalah temannya. Yang menjadi perhatian Akung dan Uti adalah solat Tiyok, Sejak baru tiba sampai pada keesokan hari menjelang pulang, ia dan temannya tak tampak menunaikan shalat.
Hati Akung semakin gamang, namun tak demikan dengan Nela. Ia sepertinya telah terbuai angan tentang Tiyok dengan gaya parlentenya itu. Temannya yang ikut serta sepertinya juga sama. Dari obrolan demi obrolan, Akung mulai menyimpan catatan demi catatan untuk di cermati. Namun hanya Akung dan Uti yang merasakan hal itu. Hanya saja sesekali AKung menanyakan kebenaran ucapan Tiyok pada Nela yang tak pernah bisa memuaskan rasa penasaran Akung. Namun apa boleh buat, ternyata Tiyok dan Nela telah merencankan pernikahan lebih cepat dari dugaan.
“Mengapa Akung menghalangiku menikah resmi dengan Mas Tiyok?” protes Nela ketika mengetahui berkas-berkas persyaratan pernikahan tetap tersimpan, yang ternyata kelak justru menyelamatkan Nela.
“Tidak apa-apa, nanti akan Akung urus, yang penting kalian syah secara agama dulu. Perkara surat nikah, biar Akung yang selesaikan,” Jawab Akung enggan menjelaskan meskipun sebenarnya Akung ingin sekali menolak, akan tetapi kalah dengan rasa sayang pada Nela.
Sebagai istri baru dari duda beranak dua, Nela mulai disibukkan dengan kegiatan memperhatikan dua anak tersebut. Nela yang memang tak pernah bisa memperhatikan anak-anak tampak kerepotan dan tidak ikhlas dalam melayani anak-anak suaminya itu. Demikian pula dengan Tiyok, tampak dingin pada anak-anak Nela. Akung dan Uti masih memaklumi karena mereka baru menikah dan butuh penyesuaian satu dengan yang lain.
Akankah Nela dan Tiyok bisa saling menyesuaikan diri dalam rumahrangga baru mereka? (Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
