Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 27
www.google.com

Mahkota Palsu 27

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-5

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Semenjak pernikahan, Tiyok masih pulang-pergi ke kota Surabaya karena dia berdinas di Beacukai pelabuhan Tanjung Perak. Ia hanya akan pulang sebulan duakali atau bahkan satu bulan satu kali. Hanya kedua bocah kecil, hasil pernikahannya dengan istri pertamanya yang ia tinggalkan bersama Nela. Riko yang berusia 4 tahun dan Dani berusia 5 tahun. Mereka benar-benar menyita waktu Nela yang telah mengandung lima bulan.

Fatma pun ikut sibuk melayani keponakan-keponakan barunya. Demikian juga dengan Akung dan Uti, taka da pilih kasih. Bagi Akung-Uti, kedua bocah itu telah dianggap anggota keluarga selain karena memang anak dari suami Nela, lebih dari itu, ada rasa iba pada kedua bocah yang harus tinggal bersama orang lain bukan anggota keluarganya. Apalagi Nela kurang perhatian pada kedua anak itu. Ya begitulah Nela, kepada anak kandungngya saja kurang perhatian, apalagi kepada anak tiri.

Tak jarang Nela memarahi kedua bocah laki-laki itu, bahkan hampir memukulnya. Namun secara sigap Fatma menghalangi kakaknya dari perbuatan tidak baik itu.

“Cukup, Mbak! Anak-anak ini jangan dijadikan pelampiasan kemarahan mbak pada ayah mereka. Riko dan Dani masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Mereka butuh kasih sayang ibunya. Mereka korban perpisahan orangtuanya. Mbak jangan mencari masalah karena tidak bisa menahan emosi seperti ini,” Fatma berkata demikian sembari menahan tangan mbaknya sementara kedua bocah laki-laki itu menangis bersembunyi dalam pelukan Fatma.

“Anak-anak ini nakal-nakal, tidak bisa diatur membuat emosi!” ketus Nela tanpa merasa bersalah. Ia berlalu meninggalkan Riko dan Dani yang masih menangis ketakutan.

“Cup …, cup … ya sayang, sudah jangan takut. Mama tadi hanya capek. Yuk main sama tante!” hibur Fatma kepada kedua anak kecil tanpa dosa itu. Fatma tak habis pikir dengan tabiat mbaknya itu. Seperti biasa, Fatma selalu merasa iba dan kasihan kepada mbaknya yang sedang mengandung namun tampaknya kurang perhatian dari suaminya.

Semakin lama semakin tampak sifat dan tabiat asli Tiyok. Ia pun tak terlalau sayang pada anak-anak Nela bahkan cenderung membenci sehingga anak-anak Nela si Dewa dan si Yanti semakin jauh dari ibunya, apalagi jika Tiyok pulang. Taka da ketenangan dalam rumah tangga Nela dan Tiyok. Anak-anak semakin jauh dari kedua orangtuanya. Mereka memilih dekat bersama Akung dan Uti juga Fatma.

Akung dan Uti hanya bisa mendo’akan agar kehidupan rumah tangga mereka segera membaik, apalagi sebentar lagi mereka akan menerima momongan. Harusmya mereka berdua adalah pasangan yang sangat berbahagia dalam menunggu buah hati.

Keadaan seperti ini tidak bisa dicerna oleh pikiran Fatma karena yang Fatma tau bahwa pernikahan antara Mbak Nela dan Tiyok adalah kehendak mereka berdua, bahkan Mbak Nela yang tampak agak memaksakan kehendak tanpa memikirakan nasihat orang tua juga mengabaikan persaan anak-anak Nela.

Akankah keadaan keluarga baru Nela mampu bertahan dan menjadi keluarga yang harmonis?

(Bersambung …)

Balung, 19 September 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post