Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 28
www.google.com

Mahkota Palsu 28

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-53

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Sepandai apapun Nela menutup kepribadian Tiyok, tetap saja semua bisa melihat keasliannya. Kekhawatiran Akung dan Uti perlahan terbukti, ternyata Tiyok memang tidak pernah shalat maun berpuasa. Tidak heran jika tabiatnya mencerminkan ketidak tenangan. Tiyok terlalu banyak bicara dengan bualan-bulan setinggi langit. Omongannya mencerminkan kesombongan bahkan di luar kenyataan hidupnya.

Mobil yang pernah beberapakali ia gunakan untuk pulang ternyata mobil pinjaman dari temannya, juga mobil rentalan. Masalah kepemilikan mobil sebenarnya tidak menjadi perkara bagi keluraga Nela. Namun kebohongan demi kebohongan Tiyok yang membuat keluarga besar Nela mulai kurang suka. Pada saat semuanya terkuak, diapun masih berkelit jika mobilnya dibawa lari temannya, bahkan Tiyok mengarang cerita jika tak lama lagi dia akan diangkat menjadi pimpinan di kantornya.

Sebagai orangtua, Akung dan Uti hanya bisa mendoakan semoga tabiat Tiyok tidak menjadi bumerang untuk kehidupan keluarganya. Akung dan Uti berdo’a semoga Tiyok menjadi imam yang baik untuk Nela dan anak-anaknya.

“Mas Tiyok mana mbak? Kok gak keluar kamar sejak datang?” tanya Fatma di suatu hari.

“Mas Tiyok kurang enak badan, dia minta makan dan minum diantar ke kamar,” jawab Nela ringan.

Mendengar hal tersebut, Fatma ingin mencari tau kebenarannya. Maka ia pun berinisiatif membawakan makan dan minum ke kamar menggantikan kakaknya. Bukan bermaksud tidak sopan, tetapi dia sangat ingin tau kebenarannya. Dengan seijin Nela, iapun mengetuk pintu kamar.

“tok … tok … tok …,” Fatma mengetuk pintu dan langsung masuk kamar diikuti oleh mbak Nela. Fatma menempatkan makanan dan minum di meja.

“Kalau sakit kenapa gak ke dokter saja?” ketus Fatma menyaksikan ternyata Tiyok baik-baik saja. Dia hanya malas keluar kamar dan memilih mendengkur di kamarnya. Tampak sekali kalau dia sangat pemalas. Diam-diam Fatma kehilangan rasa hormat kepada kakak iparnya itu. Ia semakin iba pada mbak Nela yang harus hidup dengan laki-laki yang ternyata jauh dari sosok seorang pemimpin rumahtangga.

Fatma pun berlalu meninggalkan kamar yang tak berselang lama sudah terdengar gerutuan Tiyok bahwa ia tidak suka tidurnya diganggu. Fatma memperlambat langkahnya untuk tetap bisa pasang telinga mendengarkan perdebatan Nela dan Tiyok.

“Aku males dengan suasana di rumah ini, memuakkan! Semua ingin tau urusan orang!” gerutu Tiyok yang merasa terganggu dengan kehadiran Fatma.

“Lagi pula ngapain kamu biarkan adikmu itu yang membawa makanan ke sini? Memangnya kamu ndak punya tangan?” kalimat Tiyok sangat mencerminkan kebencian.

“Makanya, kamu jangan malas! Aku juga tidak suka dengan laki-laki pemalas seperti kamu! Almarhum suamiku tidak seperti kamu!” Nela melawan suaminya. Mereka selalu terlibat perengkaran.

“Diam! Tidak usah membandingkan aku dengan siapapun apalagi manusia yang sudah mati! Jadi malas mau makan!” Tiyok nyelonong keluar begitu saja, biasanya dia akan menuju warung di pojok desa. Di sana ia bisa bebas mengekspresikan kesombongannya, di antara masyarakat desa yang masih lugu.

Melihat suaminya seperti itu, Nela hanya bisa menangis. Sementara Fatma mulai geram.

“Makanya mbak sih ndak pernah mau mendengar nasihat ayah dan ibu, ya begini mbak yang dikhawatirkan,” kata Fatma mengusap punggung mbaknya. Perut Nela semakin membesar mendekati hari-hari persalainan. Seharusnya ia tenang dengan suami di sisinya.

“Aku ndak tau kalau dia begitu,” Jawab Nela masih tidak paham juga dengan nasihat adiknya.

“Hmmm …, makanya dulu itu Akung meminta supaya mbak ndak buru-buru ya supaya tau ahklaq yang sebenarnya. Lah kalau seperti ini siapa yang susah? Mbak sendiri kan?” Fatma tampak gemas pada mbak kesayangannya itu.

“Sudahlah mbak, sekarang mbak jangan mikir apa-apa dulu. Mbak harus tenang menghadapi persalinan. Banyak berdo’a saja agar Allah memberi jalan keluar terbaik,” Ucapan Fatma terdengar lebih dewasa dari Nela.

Akan sampai kapan kehidupan Nela seperti itu? Akankah Tabiat Tiyok bisa berubah dengan kehadiran sang buah hati?

( Bersambung …)

Balung, 20 September 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post