Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 29
www.google.com

Mahkota Palsu 29

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-56

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Hari masih pagi. Kesibukan di pagi hari berlangsung seperti biasanya. Akung dan Uti semakin sibuk melayani ke empat cucu mereka. Sementara Fatma juga sibuk mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah tempatnya mengabdi sebagai guru honorer. Hanya Nela yang tampak tak bersemangat, ia mengeluh sakit perut.

“Alhamdulillah …, cucuku mau lahir,” seru Uti girang karena sakit perut Nela adalah tanda-tanda mendekati persalinan. Dan tentu saja Uti langsung sigab memberi komando kepada suami Nela yang tampak biasa-biasa saja, Justru Akung yang kelihatan cemas.

“Akung antarkan anak-anak ke sekolah dulu, biar Riko dan Dani bersama ayah mereka. Uti yang menjaga Nela. Sepulang mengantar anak-anak, kita bawa Nela ke puskesmas,” Kata Uti sembari menatap Tiyok agar paham bahwa dia bertugas menjaga anak-anaknya sendiri. Tiyok merasa tak punya pilihan selain melayani kedua anaknya laki-lakinya.

Menjelang jam duabelas siang, Fatma mendapat kabar agar segera menyusul kakaknya ke Puskesmas. Ia pun buru-buru menuju Puskesmas yang terletak di wilayah kecamatan. Di balik kekhawatiran Fatma, do’a selalu ia panjatkan agar mbak satu-satunya bisa menjalani persalinan secara lancar.

Fatma segera bergegas menuju kamar di mana mbak Nela mulai semakin merasa kesakitan. Masih dengan berseragam guru, Fatma menggantikan ayah dan ibunya yang berpamit pulang untuk mengambil perlengkapan menginap di rumah sakit. Nela harus dilarikan ke rumahsakit umum karena air ketubannya telah pecah tetapi tanda-tanda persalinan lainnya malah tak muncul.

Setelah melalui berbagai pemeriksaan dokter dan telah menunggu sampai jam delapan malam, akhirnya keluarga dimintai persetujuan keputusan melahirkan secara Caesar.

“Apa gak sebaiknya mamanya anak-anak kita bawa ke rumah sakit yang lebih besar dan modern, ndak apa-apa meskipun membayar mahal,” ucapan Tiyok mengundang geram Fatma.

“Ini bukan masalah bayar mahal atau ndak, Mas, tapi ini menyangkut keselamatan ibu dan bayi mbak saya. Kalau masih dibawa ke rumah sakit lain, mbak Nela akan meninggal dalam perjalanan!” Seru Nela mulai emosi, ia berbicara seperti itu agar si Tiyok segera menandatangani surat persetujuan tindakan.

Akhirnya, Tiyok mau menandatangani keputusan itu. Mbak Nela menjalani oprasi Caesar untuk melahirkan bayinya. Akung dan Uti tampak sangat cemas meskipun mereka berdua hanya terdiam dan memilih duduk tenang di depan ruang operasi.

Bagaimanakah proses operasi persalinan Nela? (Bersambung …)

Balung, 23 September 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post