Mahkota Palsu 30
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-57
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Semua diliputi rasa cemas, namun kemudian bersyukur karena proses persalainan Caesar berjalan lancar.
“Keluarga ibu Naila Rahma?” suara seorang perawat memanggil anggota keluarga Nela.
“Iya, saya ibunya,” jawab uti tergopoh-gopoh bersama akung. Mereka mendekati perawat dan ingin segera tau kabar tentang Nela dan bayinya.
“Selamat ya Nek …, cucunya laki-laki, minta tolong perlengkapan bayi di antar ke kamar perawatan bayi ya, kami tunggu sekarang.
“Keadaan ibunya bagaimana?” tanya akung masih cemas.
“Masih belum siuman di kamar perawatan intensif dan masih dalam pengawasan masa kiritis pasca operasi, keadaanya baik,” jawab perawat sambil berlalu menuju ruang perawatan bayi. Fatma, dan yang lainnya hanya bisa melihat dari luar jendela kaca. Mereka tak sabar ingin segera memeluk bayi dalam box mungil itu.
Rasa khawatir masih meliputi keluarga Fatma selama Nela masih belum keluar dari ICU, semua menunggu dengan rasa kantuk karena sejak siang memang belum ada yang beristirhat. Fatma menyandarkan badannya kepada sang Ayah yang bersandar di kursi panjang. Sementara Uti tetap tampak paling gelisah dan tidak mengantuk meski mata lelahnya tak dapat menipu.
Menjelang tengah malam terdengar gelinding tempat tidur pasien di dorong beberapa perawat keluar dari ICU. Ternyata Nela sudah mulai sadar.
“Alhamdulillah, anakku selamat,” ucap Uti berlinang air mata. Ia pun bergegas mengikuti Nela. Demikian pula dengan anggota keluarga yang lain, tanpa dikomando semua mengikuti ke kamar tempat Nela akan mejalani rawat inap sampai benar-benar pulih.
Tak lama kemudian, bayi kecil dan boxnya di dorong memasuki kamar tempat Nela di rawat.
“Bayinya sehat, barusaja telah minum sus sebelum ibunya bisa duduk. Nanti dua jam lagi dicoba diberi ASI ya, Bu, uapayakan ibunya bisa duduk,” kata perawat memberikan petunjuk.
“Jika dua jam berikutnya ibunya belum bisa duduk, boleh diberi susu formula dulu ya, Bu,” lanjut si perawat.
“Iya, Bu, terimakasih,” Uti mengangguk sopan di dekat box bayi itu.
“Nak Tiyok, silahkan putranya dikumandangkan adzan,” Akung membimbing Tiyok mendekati bayi baru lahir itu. Semua bernapas lega karena Tiyok mengumandangkan adzan dengan lancar, minimal Tiyok sang ayah masih mampu mengumandangkan adzan untuk putranya meskipun dalam keseharian dia tak pernah melaksanakan ibadah shalat.
Akung memutuskan untuk mengajak Tiyok pulang karena anak-anak di rumah hanya dijaga oleh saudara dekat dan tetangga. Akung juga bertugas membawakan perbekalan dan baju ganti untuk Fatma dan Uti besok pagi. Sedangkan Fatma dan Uti memang harus berjaga di rumah sakit untuk Nela dan bayinya.
“Kamu istirahat dulu,” kata Uti menyuruh Fatma beristirahat.
“Ibu saja yang istirahat, tadi aku sempat terlelap di pundak Akung,” jawab Fatma yang selalu punya kasih sayang dan mengalah untuk orang-orang yang disayanginya.
“Ibu rebahan di kursi, aku bisa tidur di karpet,” kata Fatma lagi.
Akhirnya mereka bisa sama-sama meletakkan badan letih mereka di tempat seadanya. Namun tak berselang lama, si bayi mulai merengek rupanya ia mulai tidak nyaman. Uti bergegas menghampiri bayi itu dan menggendong dalam dekapan lembutnya dengan sangat bahagia penuh kasih sayang.
”cayang …cayangnya Uti kenapa Ya? Gendong Uti ya? Mimik mama? Ayuuukkk…ayuuukk…anak cakep mau mimic ya …,” ucap uti sambil menimang cucunya. Saat itu pula Fatma membantu mbak Nela untuk duduk namun serasa sangat sulit. Mbak Nela tampak masih sangat kesakitan.
“Ya sudah, jangan dipaksakan mbakmu jika masih kesakitan, yang penting bisa tidur miring dulu. Buatkan sedikit susu formula dari perawat tadi. Jangan terlalu panas,” Uti memberi petunjuk Fatma yang dengan cekatan memahami dan memenuhi kata-kata Uti.
“Ndak usah pakai botol dot, pakai gelas dulu, cara memberinya menggunakan sendok kecil agar bayi baru lahir tidak bingung puting,” ucap Uti bagai memberi pelajaran kepada Fatma yang mengikuti semuanya dengan seksama dan patuh. Fatma pun mengikuti apa yang dilakukan Uti. Ia menyuapi bayi itu sesendok kecil susu yang langsung mendapat respon cepat. Rupanya bayi itu memang sedang lapar atau haus.
“Wuih…anak pintar, dia sudah pandai menyedot minum dari sendok kecil ini ya Bu?” Fatma terkesima dengan cepatnya bayi itu menyedot setiap sendok kecil susu.
“Allah menciptakan setiap bayi punya kemampuan untuk menyedot secara otomatis agar setiap bayi lahir bisa langsung menerima asupan air susu ibunya,” Uti menjelaskan sambil terus menimang bayi lucu itu.
Apakah tabiat Tiyok akan berubah setelah kelahiran putranya?
(Bersambung …)
Balung, 24 September 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
