Mahkota Palsu 31
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-58
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Keesokan harinya, Nela sudah mulai bisa duduk. Ibu dengan sabar mengajari si bayi untuk menyusu langsung pada ibunya. Ia langsung bisa mimik, namun tak lama kemudian si bayi tiba-tiba menangis lantang, rupanya ASI Nela belum lancar.
“Cup …, cup …, cup, cucu gantengnya Uti ndak boleh malah-malah …,” Uti berbicara mendadak cadel, kebiasaan orang tua jika berkomunikasi dengan bayi.
“Dibuatkan susu ya, Ti?” tanya Fatma yang ikut bingung.
“Iya, buatkan seperti biasa, masih ingat caranya, kan?”
“Ya masih sangat ingatlah, Ti …,” jawab Fatma bergegas membuatkan keponakan kecilnya susu.
Tak lama kemudian perawat datang membawa air hangat, ia memberitahukan agar si bayi di bawa ke ruang perawatan bayi untuk dimandikan. “Jangan lupa bawa baju ganti bayi juga ya, Bu,” kata perawat itu sebelum meninggalkan kamar Nela.
“Kamu bisa, kan membawa adik bayi ke ruang perawatan? Uti mau memebersihkan mbakmu,” perintah Uti pada Fatma yang agak ragu-ragu.
“Iya, Ti, boleh,” akhirnya Fatma memberanikan diri dengan lembut menggendong bayi kecil itu sembari membawa baju gantiya.
“Da …, ini tante …, tak anter mandi dulu ya ganteng …, biar segar dan wangi,” ucap Fatma pada keponakan kecilnya. Ia pun menyerahkan bayi itu pada perawat untuk dimandikan. Ia menunggu dengan sabar di luar ruangan. Ia hanya bisa mendengar tangis lantang keponakannya.
Dari seberang lorong rumahsakit, ia melihat Akung dan Tiyok beserta kedua bocah kecil, si Riko dan Dani. Dewa dan Yanti sudah pasti sednag ke sekolah. Akung dan Mas Tiyok rupanya membawa semua kebutuhan selama di rumah sakit termasuk sarapan.
Tak lama setelah itu, Tiyok dan anak-anak segera menemui Fatma yang sednag menunggu si bayi selesai dimandikan.
“Tante …, tante …, peluk kedua bocah laki-laki itu kepada Fatma seperti lama tak bertemu.
“Untuk biaya rumah sakit ndak usah khawatir, nanti temanku mau transfer semua biayanya,” kata Tiyok tiba-tiba tanpa ada yang bertanya. Fatma hanya mendengarkan tanpa bisa menjawab atau berekspresi apapun. Dalam hatinya ia merasa heran saja, kalimat tadi ditujuka kepada siapa. Kata-kata Tiyok memberinya ide untuk bertanya kapan mbaknya pulang juga berapa biaya yang harus dibayar. Ada rasa tidak yakin dalam diri Fatma dengan kata-kata Tiyok.
“Tolong kasih nomor rekeningnya ya, sebab buku tabunganku ketinggalan di rumah,” kata Tiyok.
“Meskipun tanpa buku rekening kan bisa pakai ATM, Mas?” tanya Fatma keheranan.
“Aku lupa nomor rekeningku Dik, Fatma,”
“Oh …,” kata Fatma sembari menuliskan nomor rekeningnya tanpa banyak bertanya. Nanti Bapak Muhammad Rofik dari Madura yang akan mentransfer, tolong Dik Fatma yang ambil ke Bank ya,” kata Tiyok congkak. Fatma tak banyak bertanya, ia malas bercakap dengan saudara iparnya itu. Ia hanya mengangguk dan bergegas mengambil keponakan kecilnya yang sudah segar dan wangi. Mata beningnya mulai terbuka. Fatma memeluknya dengan penuh kasih sayang sambil terus mengajaknya bicara seolah bayi itu telah mengerti.
Tanpa banyak bicara, Fatma menuju ruang informasi untuk mencari tahu kapan mbaknya bisa pulang dan berapa biaya yang harus di bayar. Fatma terperanjat ternyata Tiyok tidak menggunakan Asuransi Kesehatan yang dimiliki kakaknya, tetapi telah menyetujui pernytaan jika semua tindakan dilakukan diluar Asuransi Kesehatan.
“Dasar sombong!” gerutu Fatma dalam hatinya. Ia memberi tau Akung dan Uti sebelum berpamitan untuk mengecek apakah transfer sudah masuk atau belum karena kakaknya akan diperbolehkan pulang dua hari lagi.
Akung dan Uti tetap menunjukkan ketenangan dalam merawat Nela. Sementara Tiyok nampak sering membentak kedua bocah kecilnya.
“Anak-anak masih belum banyak mengerti, biarkan saja jagan terlalu banyak dimarahi, Nak Tiyok,” kata Uti tak bisa tahan melihat kedua bocah kecil yang ketakutan itu. Sejak tadi ia menahan untuk berbicara, tapi rasa kasih sayang, meski kedua bocah itu bukan cucu kandungnya telah membuat Uti keceplosan menegur Tiyok.
“Anak-anak kalau dituruti terus bisa manja, Bu,” jawab Tiyok bersungut-sungut. Uti ingin melanjutkan namun mendapat tanda dari Akung agar diam. Utipun mengalihkan perhatian pada Nela yang mulai kerepotan menahan sakit dan menyusui bayinya.
“Dani …, Riko …, ayuk ikut Akung jalan-jalan,” ajak Akung pada kedua bocah kecil itu agar terpisah dari ayahnya yang tidak sabaran. Dalam hati Akung dan Uti juga merasakan keheranan, mengapa tidak tampak wajah bahagia sama sekali di raut wajah Tiyok dengan kehadiran bayinya. Bahkan dia tak tampak ingin menimang. Hanya duduk di kursi sambil memindah-mindah chanel televisi. Kepada Nela pun ia tak tampak sangat mengasihi. Berbeda jauh dengan semua kata rayuan pada saat dahulu sebelum menikah. ( Bersambung …)
Balung, 25 September 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
