Mahkota Palsu 32
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-59
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Fatma merasa tidak asing dengan nama yang disebut oleh Mas Tiyok. Ia merasa ada jalan untuk menjawab semua pertanyaannya. Fatma mencoba mencari nomor telepon nama itu. “Semoga saja bukan orang yang berbeda,” do’a Fatma dalam hati sambil menunggu teleponnya diangkat.
“Assalamu’alaikum,” suara seorang laki-laki yang taka sing bagi Fatma.
“Walaikumsalam, Kak Rofik apa kabar? Sapa Fatma girang.
“Alhamdulillah, baik, Dik Fatma. Tumben menelepon, ada kabar apa?” Kak Rofik balik bertanya penasaran. Karena semenjak suami mbak Nela meninggal, Fatma lama sekali tak pernah berkunjung ke rumah sahabat almarhum, biasanya, minimal setiap hari raya Idul Fitri Fatma ikut mbak Nela dan suaminya menemui kak ROfik di Madura yang biasanya dilanjutkan dengan acara rekreasi bersama.
“Kabarnya kacau Kak,” jawab Fatma serasa ingin menumpahkan segala kesedihannya, karena dengan Kak Rofik ia sangat dekat bagai saudara sejak Fatma kecil.
“Kacau bagaimana?” Tanyak Kak Rofik makin penasaran.
“Nanti saja ceritanya, sekarnag yang pertama ingin saya tanyakan tentang transferan yang masuk ke rekening saya ini apa dari Kakak?” tanya Fatma segera ingin tau.
“Iya, kenapa? Suami baru mbak Nela katanya disuruhuntuk pinjam uang sebagai biaya persalainan Caesar karena uang dia masih belum cair sampai awal bulan depan,” Kak Rofik menjelaskan dengan detail perjanjian diantara Mbak Nela dengan Kak Rofik. Ternyata diam-diam Nela menjaminkan tanah hasil pembelian Almarhum kepada Kak Rofik
“Memangnya Mbak Nela ndak pernah cerita?” Kak Rofik bertanya keheranan, sama seperti rasa heran Fatma pada berita yang ia dengar. Fatma hampir tak percaya, tapi berita ini ia terima langsung dari orang yang ia kenal sejak lama berhubungan sangat baik dengan keluarga Nela.
Fatma mulai bisa menarik kesimpulan bahwa uang yang dikirim bukanlah uang hasil panen tambak milik Mas Tiyok yang dikelolakan pada Kak Rofik di Madura. Berarti certita Tiyok hanya bualan?
“Hallo …, Dik Fatma?” suara dari seberang telepon mengagetkan Fatma yang termenung.
“Hallo …, iya Kak, masih mendengarkan sambil mikir, sebab ceritanya tidak sama. Lain kali saja saya lanjut, sekarang saya masih harus buru-buru mengambil uang kiriman kakak,” kata Fatma seraya menutup telepon di gawainya.
Pikiran dan perasaan Fatma berkecamuk. Apakah ia akan memberitahukan Akung dan Uti atau ia simpan saja? Fatma menarik napas panjang. Ia memilih untuk diam dulu seolah tidak mengetahui apa-apa, dipikirannya, yang penting mbak Nela dan bayinya bisa pylang dengan selamat.
Apakah Fatma akan membongkar kebohongan Tiyok?
(Bersambung …)
Balung, 26 September 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
