Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 33
www.google.com

Mahkota Palsu 33

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-60

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Akhirnya, dokter memperbolehkan Nela dan bayinya pulang dengan catatan wajib kontrol sesuai jadwal yang diberikan dokter. Yang menjadi catatan penting, Nela belum boleh mengangkat beban berat sampai benar-benar pulih. Dalam kondisi seperti ini kehadiran Tiyok sebenarnya sangat dibutuhkan, selain untuk mengawasi dua bocah darah kandungnya sendiri juga untuk kesehatan Nela agar segera pulih.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, kehadiran Tiyok hanya membuat suasana rumah Nela semakin tidak nyaman. Dewa, putra sulung Nela selalu menjadi penyulut emosi Tiyok. Ada saja bahan yang akan memicu Tiyok untuk memarahi Dewa, apa pun yang dilakukan anak itu selalu di anggap salah. Dewa yang memang sejak awal tidak suka padanya, semakin tampak terpuruk dan kecewa. Hanya Akung dan Uti yang membuatnya tegar tak melawan ayah tirinya itu meski kebencian tersembunyi di balik tatapannya.

“Anak kalau salah didikan ya seperti itu, keluar masuk rumah tanpa permisi ndak punya sopan santun,” gerutu Tiyok ketika Dewa masuk rumah tanpa memberinya salam. Kebencian anak laki-laki yang mulai remaja itu menahannya untuk mengucap salam kepada ayah tiri yang tak pernah ia harapkan.

Fatma hanya bisa menatap iba pada Dewa yang tampak sangat kecewa dan geram. Fatma mendekati dewa dab berbisik, “Sabar ya, Dewa, mala mini tante jaga adik bayi bersaman mama di sini. Dewa sebaiknya bersama Akung dan Uti dulu, kasihan adik yanti tidak ada yang menemani belajar.”

Dewa tak menjawab apa-apa, ia tek berminat untuk bertemu wajah Tiyok yang sedang menonton televsi di ruang kelurga. Dewa memilih pulang ke rumah AKung dan Uti melalui pintu dapur yang memang langsung tembus ke dapur Uti.

“Dewa sudah shalat Isyak?” tanya Uti ketika ia melihat wajah Dewa yang penuh kekalutan.

“Ntar aja Ti, masih males,” jawab Dewa sembari menghempaskan badannya ke sofa di depan televisi.

“Sebaiknya shalat dulu, Dewa, inshaAllah seusai shalat nanti kamu akan merasa lebih tenang,” Uti berupaya menenangkan Dewa.

“Dewa …?” Uti memanggil nama Dewa dengan memberi senyum agar ia segera beranjak shalat.

“Iyaaaaaa …,”jawab Dewa sambil beranjak malas untuk shalat. Uti semakin merasa Iba pada cucu sulungnya itu, ia telah kehilanagn ayah yang sangat sabar dan penyayang, kini mendapat ayah tiri yang tak pernah memangdangnya dengan kasih sayang selain amarah dan teguran bahkan tanpa sebab. Semua yang dikerjakannya selalu salah di mata Tiyok.

Sampai kapankah keadaan seperti itu akan berlangsung?

(Bersambung)

Balung, 27 September 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post