Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cuplikan Kisah
www.google.com

Cuplikan Kisah

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-92

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Selamat pagi pembaca,

Mohon ma’af, terpaksa “Mahkota Palsu” kembali terjeda hari ini karena saya sedang berada di garis deadline yang mengharuskan saya bekerja cermat. Merayap menuju deadline dan menjaga agar tagur tak tumbang.

Bagaimana?

Berikut akan saya sampaikan cuplikan sebuah kisah dengan seting yang saya perbaiki agar menjadi sebuah kisah yang lebih menarik. Namun hanya sepenggal saja ya? Semoga para pembaca bisa bersabar menunggu bukunya terbit. Aamiin.

“Mas Anang menjelaskan sesuatu yang tak berarti lagi.” Dina menarik jemarinya agar lepas dari genggaman erat lelaki yang sangat ia rindu. Hatinya meronta semakin pilu. Ia ingin sekali membenamkan rindu di dada bidang nan gagah itu. Ia ingin mengadukan semua luka hatinya selama penantian panjang tanpa kabar. Pundaknya semakin berguncang menahan isak tangis yang semakin tak terbendung. Tak ada kata yang mampu keluar dari bibir manisnya, wajahnya yang putih bersih itu memerah, mata lentiknya berubah menjadi sembab.

“Aku paham, pasti adik sangat sedih tanpa kabar dariku. Aku juga begitu, Dik.” Kalimat Anang bagai sembilu menyayat hati Dina.

“Jangan berkata apapun lagi, Mas,” kata Dina singkat, ia menggeleng lemah.

“Ma’afkan aku, Din.” tatapan Anang beradu pandang dengan mata sembab Dina. Tatapan dua kekasih yang saling merindu.

“Terlambat, Mas. Orangtuaku telah menerima pinangan, dua minggu ke depan aku akan menikah.” Jawab Dina tertunduk layu.

Bagai tersambar petir, Anang ingin bertieriak,”Tidak! tidak mungkin!” semua ia tahan dalam lipatan bibirnya dengan seluruh kekuatan agar ia tetap tenang menerima kenyataan sepahit empedu. Anang mengepalkan tangan, meremas kepalan itu dengan seluruh rasa kecewa dan marah namun tak tau kepada siapa. Waktu telah berkhianat atas janji yang ia titipkan.

Keadaan mendadak hening. Air mata Dina menceritakan semua kisah rindu dan harapan. Sementara Anang dengan tatapan pilu menyimak setiap bait cerita penantian di setiap bulir airmata Dina. Mereka hanya saling pandang dalam air mata.

“Sekarang harus bagaimana, Mas?” Tanya Dina lemah.

“Apakah adik masih mencintaiku?” Pertanyaan yang membuat Dina ingin menjerit pilu.

“Tidak perlu kau pertanyakan, Mas, selama penantianku dan sampai detik ini aku masih sangant mencintaimu. Aku sangat mengharapkanmu,” bisik Dina terbata-bata disela isak tangisnya.

“Kalau begitu, aku akan menikahimu.” Ucap Anang dengan tatapan yang sangat dalam menelusur relung hati Dina yang seluruh jawabannya adalah cinta meski ia melihat Dina menggeleng menolak tanpa kekuatan.

Dina tak sanggup lagi. Ucapan yang ia tunggu berpuluh purnama seharusnya menghangatkan hatinya yang hampir beku dalam gigil rindu penantian panjang tanpa kepastian.

Namun nyatanya, kalimat indah itu hadir pada saat tak ia harapkan. Bagai belati menusuk tepat di jantungnya. Ucapan Anang bagai pedang menebas seluruh nadi, meluruhkan tenaganya hingga napasnya serasa sesak, tarikannya begitu ngilu. Dina tak mampu lagi, kenyataan baginya hanya gelap …

Balung, 30 Oktober 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post