Mahkota Palsu 34
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-68
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Pada kisah sebelumnya diceritakan bahwa keadaan rumah tangga Nela tidak pernah membaik, Kelahiran buah hati dari pernikahan mereka tak membuat hati Tiyok maupun Nela melembut sebagai orang tua yang seharusnya penuh kasih sayang. Segala kemesraan dan rayuan ketika mereka belum menikah seolah lenyap bersama angin.
Pagi itu masih dingin menggigil. Siapapun pasti memilih meringkuk di balik selimut hangat dan terlelap. Tetapi Uti dan Akung telah sibuk sejak sebelum subuh. Demikian pula dengan Fatma. Mereka terbiasa bangun di sepertiga malam terakhir untuk bersimpuh sujud menenangkan hati dengan menyerahkan segala urusan hanya kepada Sang Maha Kuasa. Akung dan Uti biasanya berangkat ke masjid bersama untuk shalat subuh berjama’ah, sedangkan Fatma memilih shalat di rumah dan belajar atau mengerjakan tugas perkuliahannya.
“Dewa …! Bangun nak, ditunggu akung ke masjid sayang,” seru uti sambil mengetuk pintu kamar Dewa yang tak terkunci. Namun tak tada jawaban, uti masuk dan membangunkan Dewa sekali lagi.
“Sayang …, ayo bangun Nak, laki-laki harus kuat,” ucap uti sambil mengusap punggung Dewa yang tidur tertelungkup. Rupanya Dewa tidur larut malam, bahkan mungkin baru tidur karena tak biasanya ia sulit di bangunkan.
“Hmm …, masih ngantuk Ti,” kata Dewa bersusah payah membalikkan badan dengan mata yang masih sulit ia buka. Uti melihat mata cucu sulungnya itu sembab, pasti ia menangis semalaman setelah kecewa dengan perkataan Tiyok kepadanya.
“Ayo segera bangun sayang, nanti terlambat shalat subuhmu.” Uti berkata demikian sambil menepuk pelan pipi Dewa yang masih malas, lalu uti beranjak meninggalkan kamar Dewa. Uti bergegas menyusul Akung yang telah menunggunya di halaman untuk menuju masjid. Sementara Riko dan Dani masih lelap di kasur di depan TV. Demikian pula si Yanti juga masih lelap di dipan dekat TV. Anak-anak Tiyok dan Nela telah akrab satu sama lain sebagai keluarga meski ayah dan mama mereka sering bertengkar.
“Dani …!Riko …! Ayo kita pergi dari rumah ini …!” Teriak Tiyok tiba-tiba mengejutkan dua bocah yang tak tau apa-apa itu. Mereka terjaga dan terkejut ketakutan melihat wajah marah ayah mereka. Mereka bingung mengapa ayahnya membangunkan mereka dengan marah-marah. Rupanya Tiyok barusaja bertengkar dengan Nela.
“Nggak …! Aku nggak mau pergi.” Tangis Riko pecah disusul tangis Dani yang memeluk Riko karena takut dan bingung. Kedua bocah itu sudah sering melihat ayah mereka marah-marah seperti itu. Keduanya tak pernah mengerti mengapa ayah mereka seperti itu. Mereka tak mengerti mengapa ibu kandungnya pergi meninggalkan mereka. Kini mereka harus ikut ibu tiri yang juga tak ramah. Hanya Akung dan Uti yang nyaman bagi mereka.
Tangisan Riko dan Dani membangunkan Dewa. Melihat sikap Tiyok seperti itu, Dewa menjadi semakin geram.
“Pak, kami di keluarga ini tidak ada yang bersikap kasar kepada anak kecil!” Teriak Dewa.
“Diam Kamu! Anak tak punya sopan santun!” Tiyok juga berteriak, menyebabkan Riko dan Dani semakin nyaring menangis.
Mendengar keributan itu, Fatma bergegas menghampiri Dewa dan memegang lengan Dewa agar mengalah. Yanti berlari ke arah Fatma dan memeluk tantenya dengan wajah khawatir. Riko dan Dani pun berlarian ke arah Fatma, mereka seolah meminta perlindungan.
“Sudah …! Sudah …! Jangan ribut-ribut di rumah saya!” teriak Fatma yang juga tak bisa menahan emosi sejak lama melihat sikap Tiyok yang pemalas dan egois itu.
“Dewa, ayo segera solat supaya setan dalam otakmu pergi!” Fatma mendorong Dewa agar menjauh dari Tiyok. Fatma tidak mau mereka berkelahi di depan anak-anak.
“Mas Tiyok! Jangan membuat keributan di rumah saya!” teriak Fatma sambil memeluk anak-anak yang menangis ketakutan.
“Aku memang muak berada di sini! Ayo Riko, Dani!” teriak Tiyok seraya menyeret lengan Riko agar lepas dari pelukan Fatma. Tangis kedua bocah itu semakin menjadi karena mereka ketakutan. Tentu saja mereka semakin tak mau bersama ayah mereka.
Nela yang sedang menyusui bayinya terkejut dengan keributan yang terjadi di rumah ayah-ibunya. Dengan sedikit tertatih, ia menggendong bayinya menuju tempat keributan. Tentu saja, bayi Nela menangis dipaksa berhenti menyusu. Tangisan bayi itu semakin melengking ketika mendengar suara ribut.
Akung dan Uti segera masuk rumah ingin segera tahu mengapa terjadi keributan.
Uti segera membingmbing Nela untuk segera duduk dan menyusui bayinya. Sementara Akung menenangkan anak-anak. Dengan bersungut-sungut, Tiyok segera berlalu menuju rumah Nela yang masih tersambung dengan rumah orangtuanya.
Tiyok menuju kamarnya dan bergegas memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Keegoisannya mengajaknya pergi meninggalkan rumah Nela. Padahal, ia masih satu minggu lagi akan mulai masuk dinas setelah cuti karena Nela melahirkan.
Apakah Tiyok akan pergi selamanya meninggalkan anak-anaknya bersama Nela? Ataukah hanya pergi untuk menunaikan tugasnya seperti biasa? Tunggu kisah selanjutnya …
Balung, 5 Oktober 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
