Mahkota Palsu 35
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-69
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Kepergian Tiyok menyisakan kecewa mendalam di hati Nela yang berakibat pada kesehatannya pasca operasi.
“Untuk sementara ibu harus istirahat ya, hindari mengangkat yang berat-berat termasuk aktifitas berat,” kata dokter sambil menuliskan resep obat.
“Baik, Dok,” jawab Nela lemah, dalam hatinya menangis meratapi nasibnya. Harusnya Tiyok adalah orang pertama yang harus mendampinginya, namun nyatanya tetap saja Nela membutuhkan keluarga besarnya untuk menolong kesehariannya. Akung bertugas menjaga serta mengantar sekaligus menjemput anak-anak. Sementara Uti bertugas menyiapkan makanan untuk anggota keluarga yang semakin banyak. Tak ketinggalan, Fatma bertugas menjaga keponakannya yang baru lahir.
Anehnya, rumah menjadi tentram tanpa kehadiran Tiyok. Semua bekerjasama dalam jalinan kasih sayang saling memperhatikan tanpa ada keributan.
“Apa Mas Tiyok sudah menyiapkan nama untuk si ganteng ini, Mbak?” tanya Fatma sambil menimang keponakannya yang masih merah itu.
“Hhmmm …, jangankan mempersiapkan nama, perduli saja nggak,” jawab Nela sambil menerawang ke jendela, tatapannya sangat jauh. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
“Lah, terus siapa yang mau kasih nama?” Fatma semakin heran.
“Kamu saja yang mencarikan nama, kan kamu punya teman guru agama? Carikan nama yang baik agar dia menjadi anak sholeh,” kata Nela sambil mengusap kepala bayi mungil itu. Hidungnya memerah bertanda akan segera mengalir deras buliran air matanya. Dia tampak sangat sedih seolah menanggung beban kecewa mendalam. Fatma tak tega melihat penderitaan mbaknya, ia pun berlalu membawa bayi itu ke rumah Uti.
“Mana cucu Uti? Sini gantengku sayangnya Uti …,” ucap Uti seraya mengambil alih bayi dalam gendongan Fatma.
“Aku mau ke rumah ustad Ipul dulu ya Ti,” pamit Fatma pada ibunya sambil buru-buru memasang hijab dan mengambil kontak motornya.
“Ada keperluan apa?” tanya Uti penasaran.
“Mau mintakan nama buat si ganteng, mbak Nela ingin nama anaknya kali ini menggunakan nama bahasa Arab.” Fatma menjelaskan sambil buru-buru berlalu. Uti tak ingin bertanya mengapa tidak meminta nama ke Tiyok atau ke Akung. Uti tak ingin memikirkan hal itu, baginya yang penting cucunya memperoleh nama yang terbaik.
“Arsakha Maulana Ghossan, semoga keponakannya menjadi seseorang seperti bangsawan dermawan yang memberi kesejukan hati serta dielu-elukan.” Ustad Ipul mengartikan nama yang ditulisnya di atas selembar kertas dan menyerahkannya pada Fatma.
“Alhamdulillah, terimakasih Pak Ustad, nama yang sangat indah,” ucap Fatma menerima nama untuk keponakannya. Ia pun segera undur diri berpamit pulang. Tersungging senyum bahagianya membayangkan mbak Nela akan sangat senang dengan nama itu. Ia berpikir bahwa bayi itu bisa dipaggil Alan
“Mas, kapan pulang?” Demi si buah hatinya, Nela rela menelpon Tiyok yang tak kunjung berkabar.
“Aku sibuk di kantor dan belum bisa pulang, lagi pula aku malas pulang ke rumahmu,” jawan Tiyok dari seberang telepon masih dengan suara emosi.
“Tapi sebentar lagi kita harus selamatan memberi nama untuk anak kita,” Nela mencoba mengetuk hati Tiyok dengan mengabaikan segala emosinya yang serasa menyesakkan dadanya.
“Masak kamu ndak pulang, Mas?” sambung Nela penuh harap agar hati Tiyok luluh meskipun bukan hal yang mudah untuk meluluhkan hati orang yang egois seperti Tiyok.
Akankah Tiyok tetap mempertahankan egonya? (Bersambung …)
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
