Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 36 (Menelusur Dusta)
www.google.com

Mahkota Palsu 36 (Menelusur Dusta)

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-76

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

“Mas Tiyok tidak bisa pulang pada acara selamatan Alan, katanya ia aka nada rapat penting untuk naik jabatan menjadi kepala bagian.” Nela menjelaskan ketidakpulangan Tiyok pada Fatma yang sedang menggati popok Alan. Fatma tidak merespon, tatapannya tertuju pada mata Alan kecil yang lucu. Ia seolah tak ingin mendengarkan cerita Nela yang menurutnya mulai banyak berbohong demi laki-laki egois yang tak pernah memberi kedamaian rumahtangga kecuali pertengkaran.

“Uang untuk selamatan hanya ditransfer, tolong kamu yang ambil ke ATM, ya Dik,” lanjut Nela yang berusaha duduk nyaman di tepi tempat tidur untuk menyusui Alan yang mulai merengek.

“Itu uang dari Mas Tiyok atau uang hasil menjual tanah almarhum yang di Madura?” Tanya Fatma penuh selidik tajam pada Nela yang tiba-tiba tergagap tidak menyangka bahwa adiknya mengetahui hal itu.

“Darimana kamu tau?” Tanya Nela sembari menyamankan posisi Alan kecil untuk ia susui.

“Dari kebohongan dia,mbak,” jawab Nela agak ketus.

“Sejak awal dia memulai hubungan dengan kebohongan, dan terus seperti itu karena mbak Nela selalu menutup-nutupi semuanya,” Lanjut Fatma yang emosinya mulai naik melihat mbaknya sangat tidak peka atau pura-pura tidak peka terhadap kebohongan Tiyok.

“Bukan maksud menutup-nutupi, aku hanya ingin keluargaku damai,” kata Nela sambil terus menyusui Alan.

“Damai untuk siapa? Untuk anak-anak? mana buktinya? Toh anak-anak lebih damai jika tidak ada Mas Tiyok si sombong egois itu!” Ketus Fatma meninggalkan mbaknya yang masih menyusui Alan. Fatma tak ingin emosinya semakin naik membahas Tiyok yang tak akan pernah kunjung selesai. Selalu ada dalam lingkaran masalah masalah.

***

“Tanpa sepengetahuan Nela, Akung mencari informasi kepada lurah tempat tinggal Tiyok dan keluarga besarnya. Akung pun berinisiatif untuk mencari kantor tempat Tiyok berkerja. Hal ini seharusnya Akung lakukan sebelum terjadi pernikahan, namun Akung mempercayai Nela yang saat itu paling sering berkomunikasi bahkan ikut meyakinkan tentang diri Tiyok yang tampak sedemikian berkialau menjanjikan selaksa kebahagiaan.

Kali ini Akung tak bisa lagi menahan diri untuk membuktian kebenaran fakta tentang Tiyok. Kepergian Tiyok dalam waktu lama dan jarang berkabar, sangat mengusik ketenangan pikiran Akung dan Uti. Mereka khawatir jika Tiyok berstatus suami orang atau bahkan hanya pembual.

Berhasilkan Akung menguak misteri tentang siapa sebenarnya Tiyok?

(Bersambung…)

Balung, 13 Oktober 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post