Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 37 (Menelusur Dusta)
www.google.com

Mahkota Palsu 37 (Menelusur Dusta)

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-77

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

“Firasat kita benar, Ti, Tiyok tidak ada dalam jajaran kedinasan beacukai. Dia memang pernah bekerja disana sebagai tenaga honorer, tapi telah berhenti sejak tiga bulan yang lalu, dia mengalami masalah kedisiplinan, namun tidak detail apa permasalahannya.” Akung menceritakan hasil pencarian informasi kepada Uti sambil rebahan santai di di kasur sementara Uti dengan penuh kasih sayang memijiti kaki Akung yang tampak lelah sepulang dari Surabaya.

“Akung mampir ke rumah Tiyok?” tanya Uti penasaran.

“Ndaklah …, menurut keterang Pak lurah di sana, ternyata Tiyok bukan sosok yang dikenal baik di lingkungannya. Istri pertamanya kabur meninggalkannya karena tidak tahan dengan kebiasaan Tiyok “Dugem”di malam hari sementara istrinya yang bekerja keras. Kabarnya, dia tidak pernah punya pekerjaan jelas. Sejak ditinggal kabur istrinya, dia dan kedua anaknya hidup bersama orangtuanya. Kebiasaannya tak pernah berubah. Banyak yang telah tertipu oleh ketampanan dan kepiawaiannya dalam berbicara.” Akung sejenak menghela napas.

“Ya Allah …,” bisik Uti pilu.

“Nasi telah menjadi bubur, kasihan nasib anak-anak yang sangat butuh kasih sayang. Tak tega melihat kenyataan bahwa dua bocah laki-laki itu setengah terlantar.” Akung kembali menghela napas. Tatapannya menerawang jauh, entah apa yang ia pikirkan.

“Kasihan Nela, dia menjadi korban rayuan laki-laki yang hanya ingin memanfaatkannya. Ya Allah …, semoga ini tidak berlarut-larut.” Uti tak mampu membendung airmatanya. Akung hanya menghela napas panjang yang serasa sangat berat. Udara dalam kamar serasa terlampau sedikit untuk ia hirup dalam-dalam. Akung pun beranjak ke luar diikuti oleh uti, mereka berdua menuju beranda untuk melanjutkan obrolan berat itu.

“Apa Akung mendapat informasi keberadaan Tiyok?” tanya Uti penasaran.

“Tak ada yang tau, menurut salah seorang petugas kelurahan di tempat Tiyok, katanya memang sudah terbiasa jika Tiyok tiba-tiba menghilang lalu tiba-tiba pulang,” lanjut Akung.

“Ini salahku percaya begitu saja dengan keterangan Nela.” Akung menggeleng pelan dengan perasaan sangat bersalah.

“Kita tak akan bisa berbuat apa-apa, Ti, kecuali mendampingi Nela agar tak semakin terpuruk dimanfaatkan Tiyok,” kata Akung tertunduk lesu. Kedua orangtua itu tenggelam dalam perasaan tak menentu. Apakah mereka akan memberi tau Nela tentang kenyataan suaminya? (Bersambung…)

Balung, 14 Oktober 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post