Mahkota Palsu 38 (Menelusur Dusta) Oleh Hermin Agustini Hari ke-78 Tantangan Menulis 36
Hangat sinar matahari menembus ruang makan yang menyatu dengan dapur luas tempat kesibukan pagi dimulai. Di sebelah barat ruang makan adalah dapur kecil Nela, dilanjut dengan dua kamar besar ruang tamu di ujung sebelah barat. Salon dan tempat menjahit disekat dengan sebuah etalase tempat menyimpan baju-baju yang telah jadi. Sejak Nela diminta pulang kembali bersama orangtuanya, ia jarang sekali memasak sendiri karena Uti selalu menjadi pahlawan penyedia menu siap santap setiap hari.
Sekalipun telah menikah dengan Tiyok, Uti tetap menjadi tulang punggung utama penyedia masakan bagi keluarga besarnya, bahkan menjadi semakin sibuk dengan tambahan dua orang cucu baru anak-anak Tiyok. Semua dilakukan Uti dengan penuh kasih sayang tanpa mengeluh, ia selalu merasa iba pada Nela yang kerepotan membagi tenaga dan waktu antara memasak dan menyelesaikan jahitan atau melayani pelanggan di salonnya.
Kehadiran Tiyok tak memberi keringanan melainkan semakin memberatkan beban Nela. Kehadiran Alan kecil melalui operasi Caesar menambah iba hati Uti dan Akung. Tak mungkin membiarkan Nela berjuang sendiri. Apalagi kabar terakhir tentang siapa sejatinya Tiyok, membuat Uti semakin tak kuasa untuk tidak mengulurkan tangan dengan sepenuh hati membantu Nela.
Demikian pula dengan Fatma, ia harus rela membantu mbak Nela untuk mengurus keponakan-keponakannya, mulai dari Dewa, Yanti, Riko, Dani dan si kecil Alan. Mereka bekerja sama dalam lingkaran saling menyangi tak terkecuali pada Riko dan Dani.
“Anak-anak! ayo semua sarapan, nasi goreng special Uti sudah siap,” seru Uti dari dapur. Harum nasi goreng sejak tadi memang telah membuat seisi rumah ingin segera menyantap sarapan pagi itu. Apalagi Riko dan Tiyok yang memang lebih kerasan berada di rumah Uti. Mereka yang sedang asyik bermain di kasur depan TV langsung lari ke dapur mengambil piring untuk sarapan nasi goreng Uti.
Fatma masih sibuk memandikan Alan, sementara Nela menyiapkan baju-baju kecilnya. Dewa dan Akung masih belum tampak, mereka masih sibuk mencuci mobil Akung di halaman rumah. Si Yanti yang sejak tadi asyik mencuci baju-bajunya juga bergegas untuk sarapan.
“Dewa …! Akung …! Ayo sarapan dulu!, Uti kembali berseru sambil melongok keluar dari pintu dapur untuk memastikan Dewa dan Akung mendengar panggilannya.
Kesibukan pada hari Minggu pagi itu seolah melenyapkan beban pikiran Akung dan Uti terhadap keluarga Nela dengan Tiyok. Anak-anak tak ada yang boleh tau betapa beratnya pikiran Akung dan Uti. Apalagi kepada Fatma dan Dewa, yang menyimpan kebencian dan kekecewaan pada Tiyok.
Akung dan Uti berusaha semampunya menghadirkan kebahagiaan di dua rumah yang menyatu itu. Akung dan Uti selalu mendo’akan kebahagiaan untuk kehidupan anak-anak dan cucu-cucu mereka. Sementara Tiyok masih tak tau dimana rimbanya dan apa maunya, dia terus mengaku sibuk dengan pekerjaan kantor, padahal Akung dan Uti telah mengetahui semua kebohongan demi kebohongan.
Sampai kapan Tiyok bertahan dengan sandiwaranya? ( Bersambung…)
Balung, 15 Oktober 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
