Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 39 (Menelusur Dusta)
hermin.gurusiana.com

Mahkota Palsu 39 (Menelusur Dusta)

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-80

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

“Aku mau menyusul mas Tiyok ke Surabaya,” kata Nela kepada Fatma yang sedang sibuk mengerjakan tugas di depan laptopnya. Selama tak ada Tiyok, Fatma memilih tidur di kamar Nela untuk berjaga-jaga jika Alan rewel di malam hari. Ia bertugas menggendong Alan untuk di susui mamanya. Ia pun bertugas mengganti pempers dan yang paling sering menggendong Alan. Fatma menjadi sangat dekat dengan si kecil Alan.

“Untuk apa, Mbak?” tanya Fatma hampir melotot tak percaya.

“Setelah hampir lima bulan tanpa kabar, Mbak tiba-tiba mau menyusul dia?” lanjut Fatma tak bisa terima mbaknya begitu naif.

“Mas Tiyok meminta mbak untuk mengambil uangnya, sekaligus meminta maaf selama ini tidak sempat memberi kabar karena sangat sibuk,” jawab Nela sambil terus berkemas.

“Oaalaaah …, Mbak, kalau mau ngasih uang kan bisa ditransfer? Bukankah selama ini dia biasa main transfer? Meski yang ditransfer adalah uang mbak sendiri hasil penjualan tanah mbak di Madura?” Suara Fatma meninggi. Emosinya mulai naik. Ia mulai geram dengan mbaknya yang begitu mudahnya dibohongi Tiyok.

“Mas Tiyok ingin Mbak sendiri yang ke sana karena ada yang harus ditanda tangani katanya,” Nela meyakinkan Fatma.

“Duhhhhh …, ribet amat? Mau kasih uang ke istri saja masih harus tanda-tangan?” tanya Fatma semakin heran. Ia mendekati Nela lalu duduk di tepi tempat tidur agar suara tingginya tak membangunkan Alan yang telah nyenyak.

“Mbak tetap harus berangkat, siapa tau dia mau berubah dan ikut pulang. Mending dia di sini bersama kelauarga daripada berjauhan,” kata Nela penuh harap.

“Iya sih …, tapi coba dibicarakan dengan ayah dan ibu dulu, Mbak,” Fatma berusaha mencegah Nela.

“Aku langsung pamit saja besok pagi,” kata Nela tanpa ekpresi. Lalu ia menyamankan badannya untuk rebah di samping Alan. Begitulah Nela jika mempunyai keinginan tanpa berpikir panjang dalam mengambil keputusan.

“Jangan bawa Alan, Mbak,” kata Fatma berusaha mencegah Nela yang mungkin akan mengurungkan niatnya jika diminta meninggalkan Alan yang masih menyusu.

“Alan masih terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh, khawatirnya dia malah masuk angin,” kata Nela kembali duduk di kursi tempat ia bekerja. Hatinya gundah mengkhawatikan Alan juga kakak kesayangannya.

Ya Allah, tipuan apalagi yang akan diberikan ke kakakku? Hmmm, jangan-jangan mbak Nela disuruh menandatangai perjanjian hutang? Pikiran Fatma berkecamuk. Ia akan mencari cara agar Nela tak jadi berangkat.

Apakah Nela akan mengurungkan niatnya menyusul Tiyok dan tega meninggalkan Alan yang masih menyusu? (Bersambung)

Balung, 17 Oktober 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post