Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 40 (Menelusur Dusta)
hermin.gurusiana.id

Mahkota Palsu 40 (Menelusur Dusta)

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-82

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

“Mbak Nela tetap mau berangkat?” Dengan wajah gusar, Fatma bertanya kepada Nela yang sedang berdandan di depan cermin.

“Iya,” jawab Nela tanpa menoleh. Ia fokus memoles bibirnya dengan lipstick merah merona. Tanpa bertanya lagi Fatma bergegas melaporkan keinginan konyol kakaknya itu kepada Akung dan Uti. Tak lupa ia menggendong Alan yang masih terlelap. Ia sangat khawatir jika jagoan kecil kesayangannya itu dibawa oleh mbaknya yang cara berpikirinya grusa-grusu (istilah dalam bahasa Jawa untuk menggambarkan tindakan tanpa berpikir panjang).

“Nela, apa tidak ada jalan lain selain kamu menemui Tiyok?” Suara Akung membuat Nela berhenti memasang mascara pada bulu maata letiknya. Ia menghela napas panjang.

“Aku ingin mempertahankan rumah tanggaku,Yah,” Nela tertunduk dengan buliran bening membasahi pipi yang baru ia bedaki. Ia segera mengambil tissue agar airmatanya tak merusak make up yang belum ia selesaikan.

Hati Akung menjadi luluh. Uti yang sejak tadi berdiri, mendekati Akung dan ikut duduk di pinggir dipan tempat tidur yang masih belum dirapikan.

“Keputusanmu selalu buru-buru, nduk,” kata Uti berhati-hati berharap agar Nela berpikir lagi.

“Keputusan buru-burumu yang tanpa pertimbangan panjang selalu mendatangkan masalah dikemudian hari,” Lanjut Uti seraya menatap Nela dalam-dalam penuh rasa khawatir seorang ibu.

“Ibumu, benar, Nduk,” sambung Akung mengiyakan pendapat Uti.

“Biar Akung mengantarmu menemui Tiyok,” kata Uti lagi dengan tatapan seolah memohon kepada suaminya untuk menemani Nela.

“Aku bukan anak kecil lagi, Bu!” sahut Nela sambil memutar badannya kembali menghadap kaca. Ia buru-buru menyelesaikan make-upnya kemudian bersanjak menyalami Ayah dan Ibunya yang masih tak habis pikir penuh rasa khawatir.

“Do’akan aku bisa mempertahankan keluargaku, ijinkan aku berangkat menemui suamiku, ayah dari Alan bayiku,” kata Nela sembari menjinjing tas kecil beserta tas lebih besar berisi baju. Mungkin ia akan meninggalkan rumah selama beberapa hari.

“Aku titip anak-anak Yah, Bu, biarkan Alan minum susu formula dulu.” Nela beranjak dari kamarnya dengan langkah ringan. Tak tampak sedikitpnu rasa khawatir terhadap anak-anaknya. Bahkan ia hampir lupa berpamitan pada Yanti yang hendak menangis melihat ibunya akan pergi.

“Aku mau ikut mama,” dada yanti mulai naik turun menahan tangis.

“Mama tidak akan lama, hanya mau menyusul papa Tiyok,” kata Nela seraya mengeluarkan uang sepuluh ribu untuk menenagkan Yanti yang kemudian bergelayut di pinggang Utinya. Sementara Akung bergegas mengeluarkan mobil untuk mengantar Nela ke terminal bus. Fatma hanya tertegun tanpa bicara. Ia menggendong Alan dan memeluknya hangat agar tidak terjaga di awal pagi itu.

“Mama mau kemana?” tanya Riko yang baru terjaga dari tidur. Dibelakangnya menyususul Dani yang masih mengucek-ngucek matanya agar terbuka sempurna. Ia hanya terbengong-bengong menyaksikan kejadian yang tak pernah ia pahami.

“Mama mau menyusul papamu supaya pulang,” ketus Nela kepada dua bocah yang tak disayanginya itu. Riko dan Dani tak mengerti mengapa mereka harus tinggal bersama keluarga yang tak dikenalnya? Mereka belum memahami apa yang terjadi pada mereka. Yang mereka tau hanya merasa nyaman bersama keluarga barunya itu. Mereka merasa disayang dan diperhatikan oleh seluruh isi rumah, kecuali oleh Nela, mama tiri mereka.

“Hat-hati di jalan Nduk,” Uti melambaikan tangan ketika mobil mulai melaju meninggalkan halaman. Hati Uti sangat resah dipenuhi rasa khawatir. Namun kelima cucunya membuat Uti harus tetap tampak tenang.

Apa sebenarnya tujuan Tiyok memanggil Nela?

Bersambung

Balung, 19 Oktober 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post