Mahkota Palsu 43 (Menelusur Dusta)
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-86
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Dengan langkah ragu Nela menuju rumah yang ditunjuk oleh ibu pemilik warung itu. Sebuah rumah kecil dengan teras sempit berkeramik coklat bata. Atap rumah yang tidak tinggi mengesankan rumah tampak semakin kecil. Tidak ada bunga-bunga dalam pot apalagi taman yang sejuk nan asri, hanya sebuah meja dan kursi berdebu. Tak ada halaman rumah melainkan jalan umum selebar satu meter tempat lewat warga setempat. Satu meter dari jalan itu adalah trotoar. Selebihnya adalah jalan besar, sama sekali Nela tak menemukan halaman kecuali rumah yang mepet dengan jalan. Dari kaca jendela yang berkorden putih lusuh itu, tampak samar TV sedang menyala.
“Assalamu’alaikum.” Nela mengucap salam sambil mengetuk pintu.
“Walaikum salam.” Sahut seorang perempuan tua membukakan pintu. Nela mulai menebak-nebak apakah dia ibu Tiyok? Karena pada saat melamar sampai pada acara menikah, Tiyok tak menghadirkan kedua orang tuanya dengan alasan keduanya telah sepuh. Hanya beberapa orang saudaranya saja yang menjadi saksi pernikahan mereka.
“Apa benar, ini rumah Mas Tiyok?”
“Iya, Mbak siapa?” tanya perempuan tua itu tampak heran menatap Nela dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Oalah, jadi kamu toh istrinya? Memang Tiyok itu ndak nggenah blass! Nikah ndak ngabari orangtua!” gerutu perempuan itu kemudian berteriak,” Tiyok! Tangi! Onok bojomu ki loh! (Tiyok! Bangun! Ada istrimu!). Dada Nela seketika ingin meledak. Ia langsung menangis terduduk di kursi ruang tamu meski belum dipersilahkan duduk. Bahkan belum sempat bersalaman dengan ibu mertuanya. Amarah, kecewa dan lelahnya tumpah dalam tangis yang menjadi.
“Tega kamu Ya! Ternyata kamu tidur toh?” sapa Nela begitu melihat Tiyok berdiri di hadapannya dengan bertelanjang dada karena di kota itu memang panas. Nela menatap Nanar tak bisa membendung kemarahannya. Ia ingin sekali menampar laki-laki berwajah tak bersalah dihadapannya.
“Tenang dulu, biar kujelaskan dulu,” kata Tiyok menenangkan Nela. Beberapa orang anggota rumah itu turut memenuhi ruang tamu yang sempit itu. Diantara mereka ada yang mengenal Nela, namun ada pula yang belum. Mereka dikagetkan oleh suara ribut antara Nela dan Tiyok.
“Sudah dik, duduk dulu yang tenang.” Mbak Yaning merangkul pundak Nela yang masih menangis sesenggukan dan membimbingnya duduk. Dia memberi kode dengan gelengan kepala agar yang lain masuk.
“Tolong buatkan minum untuk tante Nela ya?” ujarnya kepada Susan putri bungsunya yang masih terpaku.
“Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik, ndak usah berteriak-teriak, malu didengar tetangga,” kata mbak Yaning yang duduk di samping Nela dengan tangis yang mulai tenang.
“Wes tak omongi kok, saking gak nurut bojone,” (sudah tak bilangin, tapi dia memang ndak nurut ke suami) Kata Tiyok tanpa merasa bersalah malah mencari-cari kesalahan Nela.
“Aku ndak akan semarah ini kalau kamu ada kabar, Mas! Mending kamu bilang ndak bisa jemput aku diterminal karena kamu mau tidur daripada kamu nyuruh aku nunggu berjam jam di terminal ndak jelas!” cerocos Nela kembali terbawa emosi.
“Aku ndak sengaja tertidur tadi, aku ini capek cari uang untuk kamu dan anak-anak! Kamu ndak tau kan? kalau aku kecopetan tadi sore!” Tiyok mulai mengarang alasan agar ia tampak benar.
“Ya kamu kan bisa bilang, nelpon atau we-a kalau kecopetan atau mau ngorok bukan membiarkan orang nunggu gak jelas!” balas Nela kembali emosi tanpa menghiraukan mbak Yaning disampingnya. Sementara Susan berlahan-lahan meletakkan es sirup di meja ruang tamu itu. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa Om Tiyok dan tante Nela itu bertengkar.
“Diminum dulu Dik. Mbak Yaning mempersilakan Nela untuk minum supaya lebih tenang. Kemudian dia beranjak masuk untuk memberi kesempatan pada sepasang suami istri itu untuk menuntaskan pembicaraan yang saling ingin menang sendiri-sendiri.
“Ndak usah didengarkan, Bu, ayoh tidur di tempatku malam ini, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri,” ucap mbak Yaning sembari menggandeng lengan ibunya yang sedari tadi berdiri menguping di balik pintu ruang keluarga. Tanpa bicara, nenek tua itu mengikuti langkah mbak Yaning, ia mengusap air mata dengan tangan keriputnya.
“Ono opo maneh iki, nduk? Kok gak mari-mari Tiyok gae masalah,”(masalah apalagi ini, Nak? Kok ndak selesai-selesai Tiyok membuat masalah)
“Ndak usah melok mikir, Buk, jiarno wong loro iku wes podho gherange, wes ngerti apik-elek e urip,”(ndak usah ikut mikir, Bu, biarkan saja dua orang itu sudah sama-sama dewasa dan bisa membedakan baik-buruknya kehidupan) Mbak Yaning, kakak pertama Tiyok membimbing ibunya ke rumahnya yang beradu dapur dengan rumah ibunya yang kini ditempati Tiyok.
Mbak Yaning harus mengajak ibunya tidur di rumahnya agar Nela dan Tiyok bisa tidur di satu-satunya kamar di rumah sempit itu.
Akankah kehadiran Nela bisa menyelesaikan masalah? Bersambung….
Balung, 23 Oktober 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
