Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 44

Mahkota Palsu 44

(Menelusur Dusta)

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-91

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Manakala sepasang suami istri terpaksa dipisahkan oleh jarak, maka pertemuan seharusnya adalah saat-saat yang dirindukan untuk bersama. Bahagia dalam rindu tentu menjadi hal terindah dari setiap pertemuan. Tak akan ada waktu untuk pertengkaran atau perselisihan selain memadu rindu.

Namun, tidak demikian yang terjadi kepada keluarga Tiyok. Kehadiran Nela, istrinya yang rela hadir ke Surabaya atas permintaannya seolah menjadi bumerang baginya. Tiyok tak pernah menyangka jika Nela akan benar-benar hadir di hadapannya. Kebohongan demi kebohongan akan terus menjajahnya demi gengsi.

“Aku terpaksa tinggal di sini karena aku ditipu temanku, sertifikat rumahkku dipinjam dan dijadikan jaminan Bank. Sekarang dia malah kabur, mau tidak mau rumahku disitia pihak bank,” bual Tiyok untuk menutupi rasa malunya tinggal di rumah yang jauh dari cerita-cerita sebelumnya. Sementara Nela terpaksa harus menelan kecewa demi kecewa menghapus angan-angan demi angan-angan yang pernah dilukiskan Tiyok.

“Aku ini tertekan, ma, aku tidak bercerita kepada mama agar mama tidak ikut susah,” nada bicara Tiyok yang menghiba dan tatapan sedih mencoba melumpuhkan logika Nela yang memang sering mengabaikan logika.

“Aku sengaja memanggil mama kesini agar mama tau keadaanku setelah tertipu itu. Jika aku menjelaskan di rumahmu, pasti orangtuamu tak akan mau menerimaku yang telah tidak bekerja ini ma, ma’afka aku ya ma terpaksa membohongi mama, aku malu pada orangtuamu,” lanjut Tiyok terus menggilas kebodohan Nela. Rayuan demi rayuan terus ia lambungkan yang sebenarnya membenamkan Nela pada kubangan masalah yang lebih dalam. Sejak pertama, Tiyok paham betul cara menaklukkan Nela yang meskipun emosinya meledak-ledak tak akan berkobar lama karena logikanya akan lumpuh seketika dengan rayuan-rayuan.

“Makanya, Pa, jika ada apa-apa harusnya cerita ke mama, jangan ditanggung sendiri penderitaan papa,” ucap Nela berusaha menenangkan suaminya. Entah tulus entah modus, keduanya terlibat dalam percakapan saling rayu untuk saling menguatkan. Tiyok berhasil menaklukkan hati Nela yang memang sangat mudah ia kendalikan dengan berbagai dusta.

“Papa pulang saja bersamaku, jagan di sini, lagipula anak-anak menunggu papa.” Kalimat ini adalah kalimat yang ditunggu-tunggu oleh Tiyok sehingga kepulangannya ke rumah Nela seolah bukan kehendaknya tapi kehendak Nela sehingga ia tak usah repot-repot menjelaskan apa-apa kepada orangtua Nela.

“Gak salah aku pilih mama sebagai pendamping hidupku, mama sangat pengertian dan selalu menerima aku disaat-saat sulit,” rayuan Tiyok terus mengalir mencuci otak dan pikiran Nela yang memang ingin ia jadikan sandaran untuk menghidupi dirinya dan kedua anak-anaknya karena sejatinya ia memang tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Akankah ayah dan ibu Nela menerima kehadiran Tiyok yang telah mereka ketahui siapa diri Tiyok sebenarnya? Bersambung ….

Balung, 28 Oktober 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post