Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 44 (Menelusur Dusta)
www.google.com

Mahkota Palsu 44 (Menelusur Dusta)

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-91

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

“Yang sabar, itu sudah menjadi pilihanmu, dalam keadaaan terpuruk seperti ini, dukung dia agar bangkit kembali,” ucap Uti kepada Nela yang sedang mengomel karena Tiyok tidak pernah mau bekerja sejak memutuskan pulang ke rumahnya. Keseharian Tiyok hanya nongkrong, ngopi di warung, atau kegiatan-kegiatan tidak jelas lainnya bagai anak muda.

“Tapi, Bu? Mas Tiyok ndak ada perduli-perdulinya ke anak-anak, mbokyao dia itu bantu-bantu kerepotan di rumah.” Nela tampak sangat kesal ingin menumpahkan segala penyesalannya pada Ibu yang sedang memasak nasi goreng, masakan murah meriah kesukaan keluarga apalagi pada saat cuaca dingin.

Gerimis hari itu tak kunjung reda sejak pagi sampai sore. Mendung putih menandakan gerimis merata dan akan lama tak kan kunjung reda, sama seperti permasalahan Nela dan Tiyok yang tak kunjung menemukan penyelesaian. Ketidak cocokan diantara mereka tak kunjung menyatu.

Ayah dan Ibu Nela yang mengetahui tabiat Tiyok, tidak bisa berbuat apa-apa selain menenangkan Nela agar bisa bersabar dan bertawakkal kepada Allah agar semua yang sedang dihadapi mendapat jalan terbaik serta membantu meringankan beban Nela. Kedua orang tua itu terus ingin memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak sedikit pun mereka bersikap atau berkata kasar kepada Tiyok meskipun sosok Tiyok sama sekali tidak cocok disebut sebagai suami bagi anak sulungnya.

Nasi telah menjadi bubur, yang terpenting berikutnya adalah bagaimana cara mengolah bubur itu menjadi enak untuk dinikmati, sebuah prinsip akung dalam menyikapi kehidupan, begitu pula dalam menyikapi kehidupan yang sedang dijalani Nela.

“Jangan sambil marah-marah jika sedang menyusui anakmu, biasakan membaca do’a dan berbicara yang baik, kasihan dia tidak tau apa-apa, tidak perlu menerima omelanmu kepada Tiyok yang tidak ada di hadapanmu, dia yang seharusnya menerima omelanmu bukan anakmu,” nasihat akung kepada Nela yang kemudian menyerahkan Alan yang berhenti menyusu melihat akungnya mendekat. Balita itu hafal kebiasaan akungnya yang akan mengajaknya berkeliling.

“Ini tiapa ya?” Akung menyapa Alan dengan gaya cadel meniru anak kecil.

“Jagoan Akung ya? Ayo jalan-jalan sama Akung. Tapi jalan di dalam rumah ya?

hari ini langitnya masih menangis,” lanjut Akung pada Alan yang kegirangan mengulurkan kedua tangannya untuk segera digendong. Alan kecil itu merasa selalu nyaman bersama akungnya yang sering mengajaknya berjalan-jalan pagi maupun sore. Akung dan uti juga sangat memperhatikan cucu-cucu yang lainnya. Akung dan Uti tidak ingin anak-anak merasakan kesedihan apapun akibat ketidak harmonisan antara Nela dan Tiyok. Mereka berharap kasih sayang akan menentramkan keluarga Nela dan Tiyok.

Berhasilkah?

Bersambung…

Balung, 29 Oktober 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post