Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 46 (Di Ujung Tanduk)
www.google.com

Mahkota Palsu 46 (Di Ujung Tanduk)

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-93

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Fatma memutar balik motornya ketika ia melihat motor kakaknya terparkir di depan sebuah kedai bakso terkenal di dekat kantor kecamatan. Dina merasa girang, sangat kebetulan sekali, ia sedang merasa lapar sepulang dari sekolah tempatnya mengabdi sebagai guru honorer. Menyantap bakso dengan kuah hangat pasti nikmat, pikirnya sambil memarkir motor di samping motor kakaknya.

Pandangannya menelusuri beberapa meja yang telah ditempati beberapa pengunjung. Namun ia tak melihat kakanya disana. Ia melanjutkan ke halaman belakang kedai yang menghadap ke sawah dengan meja lesehan yang terkesan lebih santai dan asri dengan pemandangan lepas persawahan berbatas pegunungan biru. Angin semilir membuat udara semakin nikmat dengan aroma bakso yang membuat perutnya semakin lapar.

“Mas Tiyok?” pekiknya tertahan melihat Tiyok bersama seorang perempuan berambut panjang dengan kaos ketat dan celana jeans yang tak kalah ketat hingga lekukan tubuhnya tampak sangat jelas. Fatma kenal dengan janda muda beranak satu penjaga satu-satunya counter HP di kecamatan itu.

Tiyok yang sedang asyik bercanda tak menyadari kehadiran Fatma yang tiba-tiba mendekati mereka berdua.

“Kok ndak dengan mbak Nela?” tanya Fatma hampir melengking. Tiyok sejenak terperanjat tak bisa berkata apapun, demikian pula dengan perempuan itu. Tawa riang mereka mendadak senyap.

“Loh, dik Fatma, ayo ikut bergabung dengan mbak Mira rekan bisnisku,” kata Tiyok berupaya untuk tenang. Tak ada kata yang bisa diucapkan, Fatma bergegas meninggalkan tempat itu dengan wajah memerah penuh amarah. Dadanya bergemuruh menahan kecewa demi kecewa yang kini tak bisa lagi ia toleransi. Kali ini tak bisa lagi ia menyimpan rahasia apapun tentang Tiyok demi keutuhan rumah tangga kakak yang sangat ia sayangi. Bibirnya bergetar, airmatanya luruh, hatinya hancur membayangkan betapa hancurnya hati mbak Nela menerima pengkhianatan Tiyok. Laki-laki yang hanya menjadi benalu dalam kehidupan Nela.

Fatma melajukan motornya pelan, raganya melemah tak bertenaga serasa lunglai. Tapi ia harus segera sampai ke rumah. Kebencian yang lama ia tahan serasa meledak seketika. Sikap dan tabiat Tiyok yang penuh kepalsuan dan selalu memanfaatkan kakaknya dengan selalu mengatasnamakan cinta dengan rayuan-rayuan gombalnya masih bisa ia tahankan demi kebahagiaan sang kakak. Namun kali ini ia tak sanggup lagi, hati dan pikirannya telah penuh sesak dengan kelicikan demi kelicikan Tiyok, sehingga kini tak ada ruang lagi untuk menyimpannya.

Semua harus tau, ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, tak ada yang perlu dipertahankan dari laki-laki egois itu, gumam Fatma dalam hatinya yang dipenuhi dendam penuh kecewa. Andai saja aku laki-laki, sudah kuhajar dia, gumamnya di sela airmata kecewanya.

Akankah keluarga Nela hancur sampai disini?

Bersambung ….

Balung, 31 Oktober 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post