Mengunduh Ide dari Pak Ihsan (CEO MGI)
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-81
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
Pada hari Minggu pagi ini saya merasa agak malas untuk menulis tantangan di blog Gurusiana. Ingin melanjutkan cerbung ‘Mutiara Palsu’ rasanya masih bosan mengembangkan ide ceritanya. Ingin menulis hal lain namun tak menemukan ide karena keinginan terbesar saya adalah leyeh-leyeh hari ini. Maka, saya lanjutkan leyeh-leyeh. Maaf bukan niatan sombong atau congkak, leyeh-leyeh seorang penulis ya membaca, meskipun hanya membaca whatsapp, hehehe. (Ini adalah salah satu alasan mengapa mengikuti tantangan melulis gurusiana).
Lagi-lagi tidak bermaksud sombong loh ya? Semenjak bergabung dalam komunitas Media Guru Indonesia dan menjadi gurusianer, grup whatsapp saya menjadi lebih berkualitas dengan berbagai grup menulis. Membaca whatsapp tidak sekedar membuang waktu, tetapi mejadi ladang memburu ilmu dan memperoleh sumber ide. Kerren kan?
Dari hasil leyeh-leyeh tadi, mata saya tertuju pada sebuah tulisan Bapak Mohammad Ihsan yang berjudul ‘BERHENTI RUGI, MENYERAH KALAH’. Membaca tulisan tersebut, membuat kemacetan ide hari ini mulai meleleh. Pertanyaan Bapak penggegas Menulis Gurusiana ini membuat hati saya trenyuh. Bayangkan, beliau bertanya seperti ini,”Coba pemirsa, saya ini harus bagaimana? Apa yang harus saya sampaikan kepadanya?”
Bukan maksud untuk nuturi loh ya? Siapalah saya, hanya remah rengginang (kebayang nggak? rengginangnya segede apa jika remahnya seukuran saya? Hehehe). Tak mungkinlah saya nuturi apalagi yang angel tuturane. Ups! Auto mblarah.
Kembali ke maksud semula. Dari tulisan itu saya hanya ingin berbagi pengalaman barangkali dengan tulisan saya ini bisa memberi sedikit kehangatan kepada hati yang lara kecewa akibat tersungkur dan harus remidi. Eh kok harus? Nggaklah, siapa yang maksa? Mau ikut tantangan iya, nggak ikut juga nggak masalah. Lah trus masalah siapa?
Masalah itu adalah SAYA!
Pertamakali ikut menulis tantangan di gurusiana, saya tersungkur pada hari ke duapuluh delapan akibat kelalaian saya. Ingin mengedit, tetapi salah pencet tombol hapus. Segala argument dan bukti saya sampaikan kepada para trainer juga kepada Bapak Ihsan. Alhamdulillah, tetap harus remidi mulai dari hari ke satu. Kecewa? Pasti! Marah? Hok…oh! Tentu saja saya tidak mau terima karena merasa tidak pernah berhenti menulis.
Saat itu saya hampir putus asa, namun karena dorongan semangat para trainer dan support teman-teman, saya melanjutkan ikut tantangan menulis itu. Tetapi saya tidak mau menghitung dari hari kesatu, melainkan melanjutkan ke hari berikutnya. Saya menggunakan hitungan saya sendiri untuk melanjutkan tantangan tersebut (Malu mengingat “ke-ndobhean” saya waktu itu). Andai saya nurut, sudah pasti saya tidak akan remidi sampai 3 kali. Menyesal selalu terjadi di belakang hari, kalau di depan, namanya Depe, hehehe.
Menghitung dengan cara ‘ndobheh’ itu membuat saya benar-benar dalam masalah. Saya jadi lelah karena harus meneliti tulisan hari ke duapuluh delapan sama dengan hari kesatu. Kesulitan ini saya alami pada saat ingin mengajukan sertifikat. Sayapun curhat di grup FB MGI. Waktu itu Pak CEO membalas yang kurang lebihnya seperti ini,” Ngapain ruwet, sudah berhenti, istirahat saja!” Mak jleb rasanya. Kalimat itu benar-benar membuat saya kehilangan semangat!
Pada hari ke-145, saya membiarkan diri saya terjun bebas. Waktu itu masih pukul 21.00 yang artinya masih banyak waktu untuk menulis tantangan. Meskipun lelah setelah perjalanan jauh seharian, sebenarnya jika sedikit saja tersisa semangat, maka saya akan bertahan melanjutkan menulis. Namun malam itu saya memanjakan ‘rasa malas dan lelah’. Maksud hati sebentar saja lelap, namun ketiadaan semangat di otak bawah sadar membawa saya terlelap sampai terlewat dari jam deadline.
Bisa merasakan bagaimana terjun di hitungan hari sebanyak itu? Saking sebbelnya, saya berhenti ikut tantangan menulis gurusiana. Kesombongan sangat kuat melemahkan semangat saya. Saya merasa, tanpa ikut tantangan saya akan tetap menulis. Toh keinginan menjadi penulis bukan paksaan siapa-siapa melainkan keinginan diri sendiri. Bagi saya, itu sudah cukup sebagai modal untuk ‘autonulis’ (koyok yes-yeso) padahal lagi patah semangat.
Namun kemudian saya berpikir positif dan memahami kalimat Bapak Ihsan sebagai peringatan agar saya tidak usah membuat aturan sendiri yang tidak akan ada manfaatnya. Ngapain saya mempersulit diri menggunakan hitungan sendiri? (saya tertawa sendiri menulis ini, tepatnya menertawakan diri sendiri, hehehe)
Ternyata, setelah hampir satu bulan saya tidak mengikuti tantangan, saya berubah pikiran. Ada yang hilang dari diri saya. Tanpa tantangan ternyata saya belum bisa ‘autunulis’, kebiasaan-kebiasaan berkualiatas mulai luntur. Kenyamanan yang melenakan mulai melemahkan kemampuan memunculkan ide untuk ditulis. Saya merasa hilang dari atmosfer “Keren Menewen”
Sejak itu saya kembali ke jalan yang benar, hehehe. Saya kembali remidi untuk ke tiga kalinya. Hari ini telah sampai pada hari ke delapan puluh satu. Ternyata saya harus mengikuti tantangan. Siapa yang mengharuskan? KEBUTUHAN saya terhadap kebiasaan mendisiplinkan diri dan mengasah kemampuan menulislah yang memaksa saya untuk tetap mengikuti tantangan menulis GuruSiana. Tak ada paksaan atau tekanan dari siapapun. “Hidup adalah pilihan,” kata Bunda Istiqomah, ketika saya curhat pada beliau. Terimaksih banyak, Bunda.
Banyak pengalaman yang bisa dipelajari dalam mengantisipasi diri agar tak terjun bebas, yaitu dengan membiasakan diri upload tulisan sebelum injury time (ini bolak balik bolak disampaikan oleh Pak CEO). Kalaupun terpaksa, berarti hari itu saya sedang gagal berdisiplin diri. Andai terjerembab, maka hal itu sepenuhnya kelalaian saya. Sudah tentu, saya tidak akan menyalahkan sytem atau merengek kebijakan menawar aturan kedisiplinan demi hitungan tulisan. Yang namanya TANTANGAN ya harus membuat peserta jatuh bangun untuk menaklukkannya. Kalau tidak, ya leyeh-leyeh saja, hehehe….
Hal paling berat bukanlah menaklukkan tantangan menulis Gurusiana, melainkan menaklukkan diri sendiri menjadi istikamah dalam berdisiplin melakukan hal positif untuk mengasah kemampuan menulis atau apapun. Berjuang menaklukkan diri sendiri akan serasa amat berat, tetapi melakukannya bersama akan serasa lebih ringan karena saling menguatkan.
Terimakasih Bapak Mohammad Ihsan CEO MGI yang selalu kaya ide akan peningkatan kualitas penulis dan muara tulisannya, serta motivasi terbaik bagi para gurusianer. Terimakasih kepada para trainer, Bapak Febri Suprapto yang mengatakan bahwa saya adalah salah seorang yang berbakat (meski saya tau kalimat itu bukan hanya untuk saya karena ada tujupuluh ribuan anggota gurusianer. Terimakasih kepada Pak Leck Murman yang menjadi salah satu tempat bertanya dan selalu quick respon terhadap postingan tulisan saya di FB MGI.
Terimaksih kepada seluruh saudara pejuang literasi yang selalu saling support dalam upaya meningkatkan kepantasan kualitas diri. Salam Literasi!
*sebbel, bahasa Jawa yang artinya marah, kecewa atau sedih.
*ndhobeh, istilah tidak terkenal dalam bahasa Madura untuk menggambarkan tindakan konyol.
*leyeh-leyeh, bahasa Jawa yang artinya bermalas-malasan.
Balung, 18 Oktober 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
