Etika Menggunakan tangan Kanan
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke 100
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
“Ambilkan kue itu,” perintah nenek Siti sambil menunjuk kue di atas meja dengan tangan kirinya. Maya dengan spontan mengambilkan kue Bakpaw yang ditunjuk Nenek, dan menyerahkannya. Seperti biasa nenek menerimanya dengan tangan kiri.
“Tangan kanan Nenek sakit?” tanya Salma, bocah enam tahun itu ingin tau.
“Ndak,” jawab Nenek singkat.
“Bukannya kita tidak boleh menggunakan tangan kiri untuk makan dan minum?” protes Salma.
“Iya, Nek, sebaiknya kita membiasakan menggunakan tangan kanan untuk mengambil makanan atau untuk menerima dan memberikan barang pada orang lain, apalagi makanan.” Kata Maya bertujuan agar si Salma tidak meniru kebiasaan neneknya.
“Ya kalau ke orang lain, ndak begini,” sahut Nenek angkuh tak mau mengalah.
“Berarti, kalau untuk anggota keluarga, kita boleh menggunakan tangan kiri?” Tanya Salma masih penasaran.
“Huss! Tidak boleh seperti itu, kita tetap dianggap tidak sopan jika menggunakan tangan kiri,” ujar Maya buru-buru menggamit tangan salma membawanya ke kamar untuk mendapat penjelasan ulang agar ia tak meniru tingkah laku nenek.
“Sayang, maafkan nenek ya? Tadi nenek berbohong karena tidak mau dibawa ke dokter, padahal tangan kanan nenek memang kaku sehingga tidak bisa menerima atau memberi dengan tangan kanan.” Maya menjelaskan kepada putrinya agar dia tidak penasaran dan yang terpenting agar ia tidak meniru si nenek.
“Sayang, kita harus selalu mendahulukan bagian kanan daripada yang kiri. Tangan kanan juga digunakan dalam hal kesopanan seperti ketika bersalaman atau meminta sesuatu kepada orang lain, seperti yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa kita harus membiasakan diri mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam setiap urusannya” (HR. Bukhari 168). Demikian Maya meyakinkan putrinya untuk tetap beretika baik dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah di atas hanya sekelumit ilustrasi betapa kita para orang dewasa akan menjadi contoh tauladan bagi putra dan putri kita, kita tidak bisa menuntut mereka berakhlaq mulia tanpa contoh-contoh baik dari kita sebagai orangtuanya.
(autointrospeksi, salam literasi)
Balung, 7 Nopember 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
