Mahkota Palsu 48 (Di Ujung Tanduk)
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-96
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
“Kapan mau buka counter?” tanya Fatma sinis kepada Nela dan Tiyok yang sedang bersantai di beranda samping rumah bersama. Malam itu Fatma merasa merasa punya kesempatan emas untuk bertanya langsung agar jawaban Tiyok didengar oleh Nela. Fatma ingin agar Nela bisa membuka mata dan telinga bahwa dia hanya dipermainkan dan dimanfaatkan oleh Tiyok.
“Hal seperti ini yang membuatku ndak betah di rumah, terlalu banyak orang yang ikut campur urusan rumah tangga kita,” gerutu Tiyok yang langsung berdiri dari tempatnya duduk, ia bergegas meninggalkan Nela dan Fatma yang masih penasaran. Ia malah merasa senang punya alasan untuk keluar rumah.
“Lihat tuh, Mbak, bukannya menjawab pertanyaan malah jadi alasan untuk menghindar,” ketus Fatma ingin agar Nela berpikir dan bisa merasakan keganjilan Tiyok.
“Mbak masih menunggu bukti,” jawab Nela menghela napas panjang. Tampak di matanya kelelahan batin yang tak bisa ia ungkapkan.
“Bukti apalagi, Mbak? Selama ini bagaimana tingkah lakunya? Kalau hanya malas, kami semua sudah maklum mbak, tapi jika dia sampai mengkhianati kepercayaan mbak, itu sudah sangat keterlaluan! Hidup sudah numpang, masih selingkuh! Mbak ndak punya harga diri! Fatma nyerocos memuaskan geramnya pada kakaknya yang hanya diam tertegun.
“Mbak harus bagaimana?” tanya Nela lesu, ia pun merasakan kasih sayang Tiyok yang semakin hari semakin pupus. Semakin tak ada rayuan, gombal sekali pun. Tiyok makin necis dan makin sering keluar, bahkan dari pagi sampai malam dengan alasan-alasan yang selalu tak jelas namun menjadi logis di mata Nela yang terlanjur mencintai Tiyok. Kalau sedang di rumah dia lebih asyik bersama hapenya daripada bersama Alan yang tak pernah mendapat perhatian darinya. Demikian juga kedua anak-anaknya yang seolah tak pernah ada di hati Tiyok, apalagi anak-anak Nela dengan suami pertamanya. Yanti dan Dewa bagai musuh bagi Tiyok.
“Mbak harus tegas, jangan iya-iya percaya begitu saja pada Mas Tiyok!” suara nyaring Fatma mengagetkan Akung dan Uti yang sedang bermain di ruang depan bersama Alan yang mulai lincah berjalan. Akung bergegas mendekati Nela dan Fatma yang sedang beradu pendapat tentang Tiyok. Uti memnggendong Alan sambil mengikuti Akung.
“Sudahlah, Fatma, kamu gendong Alan saja sana!” kata Akung menyuruh Fatma menggendong Alan agar ia dan Uti punya kesempatan untuk mengobrol bersama Nela. Apakah Akung dan Uti akan meminta Nela menceraikan Tiyok?
Bersambung …
Balung, 3 Nopember 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
