Mahkota Palsu 51(Di Ujung Tanduk)
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-103
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
“Ma’afkan Nela, Bu…, ma’afkan aku yang tak pernah mau mendengar nasihat ayah ibu,” tangis Nela pecah dalam pangkuan ibunya. Ia bersimpuh sesenggukan melepas semua beban dalam hatinya. Ia tak sanggup lagi berbohong menutupi tabiat Tiyok yang semakin lama semakin tak tau diri.
“Sudahlah, Nak, istigfar, Ayah dan ibu tidak pernah menyalahkan kamu.” Uti menggamit putrinya agar duduk disampingnya, lalu ia memeluk buah hatinya seperti dulu kala kecil selalu di timang, dengan penuh kasih ibu memeluk Nela agar segera tenang.
“Istigfar, sayang,” ucap ibu dengan tatapan berlinang air mata selaksa ma’af. Ibu bisa merasakan sakit dalam beban hati buah hatinya, andai bisa, biar ibu saja yang merasaka sakit buah hatinya. Seperti itulah perasaan Uti pada putri sulungnya.
“Introspeksi diri, jangan selalu merasa benar, cobalah kalian saling mengalah.” Suara akung terdengar berat penuh keprihatinan melihat buah hatinya terluka. Jauh di lubuk hati akung sebenarnya sangat geram dengan tabiat Tiyok yang memang jelas-jelas sedang memanfaatkan Nela demi kelangsungan hidupnya. Lebih kesalnya, Tiyok berani menjalin hubungan dengan perempuan lain. Hal inilah yang membuat akung sangat marah dan kecewa, tak terkecuali Uti dan Fatma bahkan seluruh keluarganya.
Akankah Tiyok diusir dari rumah Nela?
Bersambung…
Balung, 9 Nopember 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
