Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 54 (Di Ujung Tanduk)
www.google,com

Mahkota Palsu 54 (Di Ujung Tanduk)

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-108

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Hangat sinar matahari menyeruak ruang tamu melalui sela tirai jendela kac a ruang tamu. Seperti biasa, Nela membuka semua jendela lebar-lebar agar sirkulasi udara masuk ke dalam rumahnya. Ia menghirup segar udara pagi yang sejuk seoleh mampu mendinginkan hatinya yang lelah.

Ia sengaja tidak membangunkan Tiyok, ia langsung ke dapur untuk memasak seperti biasa, meski sebenarnya di dapur Uti, semua pasti telah disediakan. Tapi pagi ini Nela ingin melayani Tiyok dengan sebaik-baiknya sebagai wujud introspeksi diri.

“Ma, ma’afkan papa semalam ya,” suara Tiyok mengagetkan Nela yang sedang mengaduk secangkir kopi manis untuk Tiyok. Ah mana mungkin mas Tiyok selembut ini, gumamnya dalam hati. Nela mengira dirinya sedang terbawa lamunan

“Ma?”

“Eh iya, Pa,” ini kopinya. Sahut Nela sembari menyuguhkan secangkir kopi manis untuk Tiyok yang memang telah menajdi kebiasaan rutin mengawali pagi. Biasanya Tiyok akan menikmati kopinya di beranda sambil merokok. Namun kali ini ia memilh meja makan sebagai tempatnya ngopi karena ia ingin berbicara dengan Nela yang sedang sibuk memasak.

“Ma, papa mau kembali kerja,”

“Alhamdulillah, mau kerja di mana Pa?” tanya Nela riang tanpa mengingat kejadian semalam. Ia menganggapnya hanya mimpi.

“Nanti mama pasti tau papa kerja di mana, biar surprise saja,” jawab Tiyok sambil menyeruput kopi manis di depannya. Nela tersenyum-senyum mendengar perkatan Tiyok. Di dalam relung hatinya, ia bersyukur karenaTiyok telah berubah menjadi lebih baik.

“Papa ingin memboyong Mama dan anak-anak ke rumah baru kalau sudah sukses. Papa tidak suka tinggal di rumah ini,” sambung Tiyok dengan muka kecut. Tampak jelas ia sangat tidak suka tinggal di rumah Nela yang menurutnya terlalu banyak orang yang ikut campur dalam kehidupan rumahtangganya.

‘Papa berangkat kapan?” tanya Nela agar suaminya tak melanjutkan kalimat-kaliamt yang akan menyakiti hatinya.

“Papa harus berangkat besok pagi-pagi sekali,”

“Kok mendadak sih, Pa?”

“Papa juga ndak tau ma,” Tiyok kembali menyeruput kopinya. Pagi itu Nela merasa lega, ternyata Tiyok berubah baik. Seolah mimpi tapi nyata mendengar semua janji dan bayangan masa depan Tiyok.

Apakah Tiyok memang benar-benar berubah? Bersambung …

Balung, 14 November 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post