Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 56 (Di Ujung Tanduk)
www.google.com

Mahkota Palsu 56 (Di Ujung Tanduk)

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-113

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Nela tak bisa segera menjawab permintaan Tiyok. Ia sejenak menghela napas panjang dan melanjutkan menggoreng tahu. Letupan minyak bercampur air tahu membuat suara bising dari wajan penggorengan seolah mewakili jawaban Nela atas permintaan suaminya.

“Anggap saja aku pinjam sementara ma, toh nanti semua akan aku ganti bahkan lebih banyak Ma.” Tiyok menghampiri Nela dan menggantikan menggoreng tahu seolah ia adalah laki-laki pelindung yang sangat perhatian akan keselamatan istrinya. Ia menjadi sangat mesra dan penuh perhatian pada Nela.

“Papa butuh berapa?” tanya Nela yang hatinya mulai runtuh. Ia juga berpikir jika suaminya sukses pasti seluruh anggota keluarganya terutama anak-anak akan terjamin biaya hidup dan biaya sekolahnya agar tak terus menerus meminta bantuan orangtuanya. Apalagi saat ini ada Riko dan Dani.

Sementara Tiyok tersenyum licik merasakan betapa mudahnya merayu perempuan yang ia anggap bodoh dihadapannya itu.

“Tidak usah banyak-banyak,Sayang, bagaimana pun juga papa harus memikirkan mama dan anak-anak di sini,” kata Tiyok melancarkan rayuan demi rayuannya.

“Papa sebenarnya mau kerja di mana, Pa?” tanya Nela penasaran ingin kepastian pekerjaan Tiyok.

“Tenang, Ma, kali ini pekerjaa papa sangat menjanjikan, sudah di urus oleh teman Ma. Jangan khawatir, papa sudah dapat tempat dan pasti sukses,” jawab Tiyok meyakinkan Nela.

“Tapi Mama nggak punya uang banyak, Pa, itu pun untuk persediaan biaya anak-anak.” Kata Nia sambil mengambilkan piring untuk tempat tahu yang telah matang kemudian melanjutkan menggoreng tahu sampai selesai.

“Secukupnya saja, Ma, asal ada biaya untuk kost. Kalau biaya hidup harian sebelum papa menerima gajian, papa bisa pinjam dulu, Ma.” Tiyok mengucapkan kalimat ini dengan wajah sangat melas sembari menarik napas panjang seolah ingin melepas beban pikirannya.

“Ya, wes …, nanti tak kasih biaya kost sekaligus biaya hidup setengah bulan, nanti kalau papa butuh akan mama transfer,” kata Nela dengan perasaan iba dan benar-benar luluh mendengarkan perkataan suaminya yang di matanya tampak sangat tulus ingin memperjuankan keluarga.

“Tidak usah transfer, Ma, untuk jaga-jaga biar aku pinjam kalung mama dulu,” sambung Tiyok meyakinkan dengan suara yang tetap ia lembut-lembutkan demi meluluhkan hati perempuan di depanya.

Akankah Nela merelakan kalung pemberian mendiang suaminya kepada Tiyok? Bersambung …

Balung, 19 November 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post