Mahkota Palsu 57 (Di Ujung Tanduk)
Oleh Hermin Agustini
#Hari ke-114
#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana
“Ma’af Pa, ini kalung peninggalan almarhum. Ini persediaan biaya sekolah anak-anak dan aku bertekad tidak akan menjualnya,” ucap Nela sambil memegangi kalung emas yang ia kenakan.
“Halah, Ma, kan papa juga tidak berniat menjualnya,hanya buat jaga-jaga saja kok.” Suara Tiyok meninggi hampir kehilangan kendali membuat Nela kali ini berpikir keras untuk mengambil keputusan. Bukan bermaksud tidak percaya, tapi kenyataan demi kenyataan yang dialami Nela selama menikah dengan Tiyok membuatnya lebih berhati-hati.
“Papa paham, pasti mama ragu-ragu karena papa selama ini memang laki-laki gak pecus yang gak berguna,” kata Tiyok menunduk menunjukkan rasa tak berguna yang sangat dalam. Nela mulai tak tega tetapi masih tetap bertahan. Berat bagi Nela untuk melepaskan satu-satunya peninggalan mendiang suaminya yang tersisa. Peninggalan berupa sepetak tanah telah habis terjual sejak kelahiran Alan. Terlalu banyak janji Tiyok yany tak pernah bisa ia tepati.
“Bukan begitu, Pa, tapi kali ini mama benar-benar tidak bisa melepaskan kalung ini demi anak-anak,” ucap Nela sedih bercampur rasa bersalah yang akan menjadi celah bagi Tiyok untuk menekan Nela agar merelakan kalungnya ia bawa pergi. Di benaknya terbayang betapa senangnya perempuan yang kini sedang menunggunya untuk pergi bersamanya esok hari.
“Mending Mama cari uang lain aja, secepatnya mama transfer.” Kali ini Nela lebih bisa bertahan karena dia telah sering kecewa. Apalagi kalung itu sangat berharga baginya dan anak-anaknya. Kali ini ia tak akan mempertaruhkan apapun demi Tiyok.
“Jadi Mama tega membiarkan Papa tanpa pegangan? Dasar perempuan tidak tau diri!” sergah Tiyok kehilangan kesabaran dan tampak karakter aslinya. Nela tersentak dan semakin ragu.
“Pa!” balas Nela memelototi laki-laki yang selama ini tidak bisa ia harapkan sebagai imam keluarganya. Nela ingin sekali memakinya namun ia selalu ingat nasihat orangtuanya untuk selalu bersikap baik pada suami.
“Ya sudah, kalo gitu mending Papa diam di rumah saja,” sahut Tiyok mengancam.
“Terserah Papa!” Seru Nela dengan emosi tertahan.
Apakah Tiyok benar-benar akan mengurungkan niatnya? Bersambung …
Balung, 20 November 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
