Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 59 (Di Ujung Tanduk)
www.google.com

Mahkota Palsu 59 (Di Ujung Tanduk)

Oleh Hermin Agustini

#Hari ke-118

#Tantangan Menulis 365 hari GuruSiana

Nela berpikir keras mempertimbangkan apakah ia akan merelakan kalung satu-satunya barang peninggalan almarhum suaminya yang tersisa, ataukah ia harus mencari jalan lain agar kalung bersejarah itu terselamatkan. Ada setitik keraguan di hati Nela dengan berbagai pengalaman selama memberi kepercyaan pada Tiyok. Kali ini iya tak ingin kecewa untuk kesekian kalinya, terlebih memberi kecewa kepada Dewa dan Yanti yang akan bertanya mengapa ibunya sampai melepaskan kalung berharga itu.

“Mikir apa lagi, Ma? Masih gak percaya ke papa?” tatap Tiyok dalam-dalam ingin menaklukkan perempuan yang selalu ia anggap bodoh di depannya.

“Tunggu dua atau tiga hari, Pa, Mama mau cari tambahan uangnya,” jawab Nela dengan raut muka penuh beban sambil menyetrika baju-baju Tiyok dan memasukkannya ke dalam koper.

“Duh, Ma, kenapa harus ruwet sih?” desak Tiyok seraya merebahkan badannya di kasur sepeti anak remaja merajuk meminta sesuatu pada ibunya.

“Mama sudah bertekad tidak akan melepaskan kalung ini, Pa!” ujar Nela sedikit emosi.

“Oh, jadi mama masih mencintai orang yang sudah di dalam kubur daripada aku?” ucap Tiyok tak mau kalah dan sudah menjadi kebiasaan mereka akan berdebat kusir mencari menang sendiri.

“Bukan begitu, Pa!” ujar Nela semakin emosi, namun tetap meneruskan menyiapkan baju-baju yang akan dibwa Tiyok. Dalam hatinya sebenarnya ia telah penat selalu bertengkar setiap kali ada hal penting yang perlu dibicarakan baik-baik, selalu saja ia harus berpikir dan bertindak sendiri. Namun kali ini memang terlalu berat untuk menyerahkan satu-satunya barang tersisa peninggalan almarhum suaminya.

“Terserah, Mama kalau begitu jangan pakai lama ya, cepetan dapat uangnya ya,” perintah Tiyok tanpa sedikit pun merasa bersalah apalagi merasa berdosa. Tak ada pilihan bagi Nela selain meminta bantuan ayah dan ibunya. Antara perasaan malu dan sungkan, Nela memberanikan diri berterus terang kepada ayah ibunya tentang semua yang saat ini sedang ia hadapi.

“Ooalah, kok ya keterlaluan si Tiyok itu!” ujar Uti langsung merespon dengan emosi ketika Nela bercerita.

“Sabar dulu, Bu,” ucap akung menenangkan dan memberi kesempatan pada Nela untuk menyelesaikan ceritanya.

“Kasihan Nela, Kung sejak dulu ditipu terus,” ucap nenek hampir keceplosan tentang apa yang mereka tau.

“Shhtttt …,” buru-buru akung memberi kode dengan tatapan mata lebih tajam pada Uti yang segera terdiam.

Akankah Akung dan Uti memberi jalan keluar untuk maslah yang sedang dihadapi Nela sementara mereka tau akal-akalan Tiyok? Bersambung …

Balung, 24 November 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post