Dendengragi Alot
Oleh Hermin Agustini
# Tagur hari ke-128
Seperti biasa Intan bangun sepagi mungkin untuk memulai aktivitas hariannya. Sebagai ibu rumah tangga yang bekerja di counter HP, ia harus bisa membagi waktu sebaik mungkin sebelum ia berangkat bekerja pada pukul 06.30 pagi sampai pukul16.00 di sore hari. Ia harus memastikan sajian di meja makan sudah siap sebelum ketiga anaknya mengikuti ujian sekolah secara online hari ini. Ia juga tak ingin ibu mertuanya siaran bahwa ia menantu yang tak pecus mengurus rumahtangga.
Intan biasa merencanakan menunya setiap tiga hari, dan pagi ini ia sedang menjadwalkan rawon untuk keluarganya. Biasanya ia akan sajikan rawon dengan tempe goreng, namun pagi ini ia ingin sesuatu yang special untuk menyenangkan keluaganya, khususnya ibu mertuanya. Dia sebenarnya telah membeli tempe, namun tak akan sempat menggorengnya. Ia pun meminta bantuan suami tercintanya untuk membeli dendeng ragi (daging sapi yang digoreng sedemikian rupa dengan parutan kelapa) di warung pecel yang cukup terkenal di desa Sukatani.
Sementara di rumah, Intan melanjutkan pekerjaan agar bisa berangkat ke counter HP sebelum pukul 06.30. Bagai seorang ibu guru, Intan mengabsen satu persatu anaknya menanyakan kesiapan mereka untuk ikut ujian online.
“Rika, Tika, Shasya, ayo segera sarapan,” serunya dari dapur sembari mengambilkan nasi yang masih mengepul dari majicom. Tak lupa ia pun mengambilkan nasi untuk suami dan mertuanya. Khusus untuk ibu, ia memasakkan nasi jagung plus jus pare dan jus nanas di gelas beda-beda, entah apa khasiatnya, Intan tak ambil perduli yang penting semua perintah ibu mertuanya ia laksanakan dengan sangat hati-hati.
Anak-anak dengan riang gembira makan sarapan pagi itu.
“Bun, dendeng raginya enak,” seru Shasya yang biasanya enggan makan daging. Ia pun nambah sarapannya. Legalah hati Intan.
“Selesai sarapan, jangan lupa cuci piring masing-masing ya?” seru Intan sambil berlalu untuk mempersiapkan dirinya berangkat bekerja. Sementara suaminya yang petani itu masih bisa bertugas mengawasi anak-anak di rumah selama ujian karena di sawah sedang tidak ada kegiatan apapun kecuali menunggu panenan.
Anak-anak telah selesai sarapan dan sedang berebut dengan gurauan di dekat kran cucian piring. Suara mereka terdengar ribut bercanda menambah kehangatan keluarga harmonisnya. Intan melihat suaminya telah duduk bersiap di meja makan, dan saat itu pula mertuanya hadir. Entah mengapa, setiap memasak rawon, seperti trauma mendalam, Intan selalu tak percaya diri untuk memberikannya pada ibu mertua jika bumbunya bukan racikan beliau.
Intan pun melayani suami dan mertuanya untuk sarapan. Ia mendahulukan mertuanya dengan cekatan ia melengkapi lauk pauk yang ada. Seperti biasa, sang ibu akan mencicipi terlebih dahulu hidangan di meja sebelum naik ke piringnya. Intan lega, tak ada komentar untuk rawon. Tak lupa Ia mengambilkan dendeng ragi untuk mertuanya dengan sangat percaya diri karena rasanya memang terkenal enak. Ia berharap ibunya senang merasa diperhatikan.
“Ndak usah, ini alot!” ujar ibunya seraya menepis tangan Intan yang mengambilkannya dendeng ragi. Intan tidak kaget karena perlakuan seperti itu sudah bertahun ia lewati sejak ibu mertuanya ia ajak untuk hidup bersama dengannya. Intan tak mengucapkan apa-apa selain tatapannya beradu pandang dengan suaminya. Ia akhirnya mengambil piring dan ikut sarapan. Intan sengaja sarapan hanya nasi dengan dendeng saja. Dengan tindakan itu, ia tunjukkan bahwa dendengnya empuk. Suaminya juga makan dendeng itu dengan nikmat.
Intan memang tidak marah apalagi dendam. Ia memahami sikap ibu mertuanya memang tak akan pernah bisa berubah. Kasih sayang sebesar apapun tak akan menembus hati ibunya kecuali atas kehendak Allah. Intan hanya berusaha yang terbaik, memperlakukan ibu yang melahirkan suaminya. Perkara tidak diterima, ya sudahlah …, bukan lagi masalah. Tetapi sebagai manusia biasa, dalam kelelahan yang melanda, terkadang Intan pun merasa perlu membebaskan air matanya menghibur perjalanannya.
“Aku tau ku takkan bisa menjadi seperti yg engkau minta
Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba…
Menjadi seperti yg kau minta,”
Cuplikan lagu Crisye ini sangat mewakili hati Intan yang pagi itu berangkat tetap dengan senyuman meski airmata ia ijinkan setia menemaninya. Lama ia menolak untuk menangis, Ia menguatkan diri agar air mata menjauh darinya. Namun kali ini, Intan memberi ruang dan waktu agar air matanya nyaman melayani harinya. Mungkin ia pun sedang mengejar cinta Intan sebagaimana Intan mengejar cinta mertuanya.
Hanya Allah yang Maha Pengasih dan Penuh kasih sayang. Tiada daya membuka hati manusia kecuali Allah.
Bahagialah Intan, karena cinta adalah sepenuhnya dari Allah SWT.
Balung, 4 Desember 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
