Mahkota Palsu 62
Oleh Hermin Agustini
# Tagur hari ke-127
“Sayang, aku tidak bisa berlama-lama di sini, tidak enak dengan para tetangga sebelum aku bisa menikahimu,” ucap Tiyok pada Mira di ruang tamu rumah Mira. Ruang tamu rumah Joglo itu teramat asri dengan bunga berjajar di dalam pot dan tumbuh dengan sangat terawat. Orang tua Mira rupanya pecinta bunga sekaligus menjalani bisnis berjualan tanaman dan bunga di rumah yang berhalaman luas itu. Banyak anggrek bergelantungan di kiri dan kanan jalan menuju rumahnya. Ada yang sudah berbunga indah, ada pula yang masih dalam pembibitan.
Suasana sejuk itu tak mampu menenangkan hati Tiyok yang sangat khawatir dengan kondisi keuangannya yang sudah menipis sementara belum ada transfer dari Nela. Padahal si Mira dan keluarga Mira mengira Tiyok seseorang yang cukup berada dengan bisnis tambak yang selalu ia ceritakan, sama seperti ketika ia ingin memikan Nela.
“Lalu kapan rencana Mas menikahiku?” tanya Mira mengerling manja.
“Secepatnya, sayang, nunggu panenan tambakku,” jawab Tiyok melepaskan racun kebohongannya.
“Memangnya berapa lama lagi, Mas?” tanya Mira lagi yang membuat Tiyok gelagapan karena ia tidak tau persis kapan ikan-ikan air payau itu bisa dipanen. Ia pun tak tau kapan mulai menyemai ikan-ikan kecil.
“Wah, aku ndak tau pasti sayang, aku gak mampu mengatasi tambak yang sangat luas, jadi semua kupsrahkan pada yang mengelola tambakku. Aku percaya mereka semua jujur,” jawab Tiyok yang begitu lihai bersilat lidah.
Rayuan gombalnya meluluhkan perempuan manapun yang tak bisa hati-hati membedakan antara tulus dan modus melihat Tiyok yang begitu sopan dan ramah. Bagi yang belum mengenalnya, dia memang tampak seperti para Bos, di dukung oleh ketampanan dan bersih kulitnya serta tampilan bajunya yang selalu necis.
Sayangnya, kali ini ia tidak bisa memikat Mira dengan kalung yang berusaha ia rebut dari Nela, istrinya yang dulu ia pikat dengan mobil mewah sewaan. Tapi Tiyok tak pernah kehabisan akal untuk memikat perempuan. Dengan segala argumen dan rayuannya,ia pun melancarkan kemahirannya itu untuk Mira.
“Tapi gimana ya sayang …, aku sebenarnya tidak enak mengatakan hal ini pada orang yang aku cintai,” kata Tiyok mulai berwajah sendu.
“Ada apa Mas?”
“Tapi janji ndak marah ya? Jika aku berkata jujur …,” ucap Tiyok menatap Mira sembari menggenggam tangan Mira dengan lembut. Hati perempuan mana yang tak akan takluk dengan perlakuan seromantis itu.
“Ya ndak mungkin lah aku marah pada orang yang aku cintai,” jawab Mira tersipu.
“Yakin ndak marah?” tanya Tiyok masih denga tatapan paling menaklukkan yang hanya dijawab dengan gelengan halus oleh Mira yang masih tersipu.
“Kemarin kuserahkan semua uangku padamu karena aku yakin masih bisa ambil uang di ATM, lah ternyata ATM ku ketinggalan sayang,”
“Oalah, Mas …, kirain apa? Ya sudah pakai saja uang yang kemarin mas berikan, aku belum butuh kok,” ujar Mira dengan penuh kerelaan. Rupanya Mira telah keracunan cinta semu Tiyok. Bagaimana dengan nasib Nela di rumah yang menunggu kabar Tiyok? Bersambung…
Balung, 3 Desember 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
