Mahkota Palsu 64
(Benarkah ada Pelakor?)
Oleh Hermin Agustini
# Tagur hari ke-131
“Cinta, baru dua hari tak berjumpa rasanya seperti dua windu.” Bergetar hati Nela membaca pesan whattsapp Tiyok yang tergeletak di meja. Pengirim pesan tersimpan dengan nama “Central Counter” yang dari gambar profil tampak jelas seorang perempan berparas manis.
Tak biasanya Tiyok menggeletakkan gawainya di sembarang tempat. Meski Nela merasa kurang nyaman dengan kebisaan itu, tapi ia tidak memprotes demi mengurangi pertengkaran di antara mereka. Nela tak mencurigai apapun. Ia berusaha menghormati privasi yang dijunjung tinggi oleh Tiyok. Nela tau, Tiyok akan marah besar jika ada yang menyentuh gawainya.
Tiyok masih tertidur pulas tanpa dosa. Sementara dada Nela serasa sesak, ia tak mampu membendung air matanya. Ototnya serasa lunglai tak bertenaga. Buru-buru ia menuju ruang makan dan mengambil seteguk air untuk menenangkan hatinya. Dalam hatinya bertanya-tanya namun tak berani menyimpulkan, meski pesan itu sudah jelas dari Mira, janda beranak satu yang ia kenal sebagai teman akrab Tiyok karena urusan membuka counter.
Nela meratapi nasibnya, mengapa hidupnya semakin berat. Ia tak hanya harus selalu mengeluarkan biaya gaya hidup Tiyok yang tak mau tau dengan biaya hidup kedua anak-anaknya, apalagi anak-anaknya. Air mata Nela makin tak tertahankan mewakili pilu hatinya mengetahui suaminya begitu tega mengkhianati kepercayaannya.
Meski belum terbukti, tapi kalimat di whatsapp itu benar-benar bagai sembilu menyayat hatinya. Ia memasuki kamar Fatma, adik kesayangannya yang masih lelap bersama Alan. Ia menciumi balita lucu tanpa dosa buah hatinya bersama Tiyok. Air mata Nela makin deras membaca masa depan seperti apa yang akan ia berikan untuk anak-anaknya? Mampukah ia menjalani terjal kehidupannya?
Bisakan Nela membangunkan Fatma yang tentu saja kaget mendapati mbaknya menangis tersedu.
“Ada apa mbak? Bertengkar lagi dengan Mas Tiyok?” Tanya Fatma gusar. Nela hanya menggeleng tak mampu bicara. Dia khawatir adiknya akan emosi padanya juga pada Tiyok karena jauh sebelumnya Fatma pernah menceritakan tentang Mira dan Tiyok namun ia abaikan.
“Ya udah mbak, ndak usah cerita, palingo (mungkin) aku sudah lebih tau ceritanya,” ujar Fatma meninggalkan Nela yang merebahkan diri di samping Alan yang masih lelap. Fatma paham betul jika mbaknya sedang kalut pasti karena Tiyok, laki-laki sok perlente modal dengkul (tak punya apa-apa)
“Mbak Nela nangis lagi, Ti,” lapor Fatma pada ibunya yang baru saja selesai shalat subuh. Ibu mengurungkan niatnya membilas beras untuk memasak, ia buru-buru ke kamar Fatma dan mendapati Nela masih menangis sesenggukan.
“Tiyok membohongi kamu lagi, Nak?” tanya Ibu lembut sembari menggendong Alan yang terjaga. Lalu buru-buru Uti membawa Alan ke Akung yang sedang berolahraga ringan di halaman rumah. Otomatis akung mengulurkan tangan dengan senyum rekah menyambut Alan yang melonjak-lonjak girang dalam gendogan Utinya.
“Kopi pagi agak terlambat ya, Kung, Uti masih ada urusan dengan Nela,” kata Uti seraya menyerahkan Alan yang kegirangan menyambut uluran tangan akungnya. Ia hapal akan diajak berjalan-jalan.
“Tolong ganti pampersnya dulu sebelum jalan-jalan ya, Kung” ujar Uti sambil berlalu. Ia kembali menemui Nela yang masih menangis di kamar Fatma. Wajah ibu kali ini lebih cemas daripada sebelumnya. Ibu telah menebak-nebak jika Nela pasti telah terpedaya lagi. Ibu berpikir bahwa Tiyok tak menemukan pekerjaan sesuai janjinya. Ibu paham apa yang menjadi beban pikiran Nela.
Bagaimakah reaksi ibu jika tau penyebab sebenarnya Nela menangis tersedu? Bersambung …
Balung, 7 Desember 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
