Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 65  (Orang Ke Tiga)

Mahkota Palsu 65 (Orang Ke Tiga)

Oleh Hermin Agustini

# Tagur hari ke-132

Nela masih menangis tersedu di dalam kamar Fatma ketika ibunya memasuki kamar itu dengan was-wa dan resah memikirkan masalh apa lagi yang akan dihadapi Nela.

“Ada apa lagi, Nduk?” tanya Uti dengan lembut. Nela bergegas bangun dan memeluk ibunya. Ia tumpahkan semua lara hatinya dalam pelukan damai ibunya.

“Ma’afkan Nela, Bu …,” tangisnya pecah tak tertahankan. Bahunya berguncang menahan isakan pilu hingga tak mampu berkata kecuali berurai air mata. Tangisan Nela membuat ibunya juga menangis. Ia bisa merasakan betapa berat yang dihadapi putri sulungnya itu.

“Menangislah, Nakku …, menangislah sampai lega hatimu,” ucap Ibu penuh kasih sayang membelai rambut Nela yang menangis semakin pilu. Nela berusaha bercerita di sela isak tangisnya.

“Sssst..! sudahlah, selesaikan dulu menangismu. Ibu akan disini sampai kamu tenang. Ibu sudah paham apa deritamu, sayang,” ucapan ibu semakin menyesakkan dada Nela yang merasa sangat bersalah tak mau mendengar nasihat orang-orang yang mencintainya. Kini semua telah terjadi dan harus ia hadapi.

“Aku belum masak,Bu,” kata Nela setelah agak tenang.

“Sudahlah, si Fatma sudah melanjutkan tugas ibu memasak, pasti hari ini dia memasak banyak karena tau kamu lagi sedih.

“Alan dengan siapa?”

“Dia pasti sudah berkeliling desa naik sepeda ontel bersama akung seperti biasa,” jawab Ibu sambil tersenyum untuk menenangkan Nela.

“Sudah siang, sebaiknya kamu kembali ke rumahmu dulu, bersikaplah tenang dan berusahalah untuk tetap melayani suamimu dengan baik. Nanti jika ada waktu tenang, kamu bisa bercerita pada ayah dan ibu tentang masalah yang kamu hadapi bersama Tiyok.

Nela memeluk ibunya erat-erat, ia selalu menemukan kedamaian dalam pelukan perempuan lembut itu. Setiap usapan lembut tangannya bagai sumber tenaga yang memberinya kekuatan.

“Banyak berdo’a sayang, mohon pertolongan terbaik kepadaNya,” ucapan ibu bagai mantera penyemangat bagi Nela bahwa ia tak sendiri.

“Bu …, yang diceritakan Fatma tentang Mira benar, aku membaca pesan mesra di hape mas Tiyok,” ucap Nela kembali berkaca-kaca. Ia tak mampu menahan derita untuk mencurahkannya pada ibu.

“Ibu mengerti sayang,” kata ibu kembali memeluk Nela.

“Ibu merasakan sakit yang kamu rasakan, namun tetaplah menjadi perempuan terbaik. Sekarang, kembalilah dan buatkan dia kopi seperti biasa,” lanjut ibu menasihati. Nela hanya bisa mengangguk lemah dan beranjak dari kamar itu.

Sanggupkah Nela bersikap wajar setelah ia membaca pesan mesra Mira pada suaminya? Bersambung …

Balung, 8 Desember 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post