Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 67 (Orang Ke Tiga)
www.google.com

Mahkota Palsu 67 (Orang Ke Tiga)

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-147

# Tantangan Menulis Gurusiana

Perempuan mana yang tak kan remuk redam hatinya ketika ia tau suami yang sangat ia bela dengan segala kekurangannya ternyata tega menghianati pernikahan yang selama ini ia pertahankan sepenuh jiwa dan raganya.

Mengapa hanya air mata yang setia menemaniku? Kapan bahagia hadir menemani kesabaran? Atau kesabaran yang tak akan mampu bertahan hingga tak akan pernah bahagia hadir menyapa? Ya Robb, aku tak ingin berpisah dengan suamiku, namun aku tak sanggup menerima kepediahan sepanjang hidupku. Hanya kepada Engkau aku memohon jalan keluar terbaik, kemana takdir akan membawaku. Buliran beninng air mata Nela adalah hitungan tasbih dalam setiap do’anya.

Hanya dengan berdo’a ia merasa memiliki kekuatan untuk menjalani harinya. Melihat ibu dan ayah serta anak-anaknya membuat Nela membangun segala kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan perasaan kecewa atas pegkhianatan Tiyok. Ia menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya agar ringan beban di hatinya. Nela bertekad untuk tetap melakukan hal terbaik untuk keluarganya, entah akan seperti apa Tiyok memperlakukannya.

“Ma’afkan aku,Bu, pernikahanku hanya memberi kesusahan pada keluarga kita,” ucap Nela tertunduk di pangkuan ibunya. Satu-satunya tempat ternyaman baginya untuk mencurahkan segala gundah ketika Tiyok keluar entah kemana.

“Sudahlah, itu kan memang pilihanmu, apapun yang terjadi ya kamu harus bisa menerima semua ini dengan lapang dada dan penuh tanggung jawab,” ucap Akung mendahului Uti yang tampak tak bisa berkata apa-apa karena larut dalam kesedihan hati Nela. Akung tampak sangat geram dengan perilaku Tiyok pada keluarganya. Akung berpikir keras bagaimana cara membuktikan ketidak setiaan Tiyok agar ia punya dasar untuk berbicara pada Tiyok dan meminta kejelasan apa keinginan Tiyok pada Nela dan keluarganya. Sepertinya Akung telah sampai pada akhir kesabaran melihat kenyataan demi kenyataan kehidupan putri sulungnya itu.

Fatma hanya bisa memandang iba pada kakaknya sambil menggendong Alan yang hampir terlelap dalam pelukannya. Fatma menggendong Alan kesana kemari sembari menggoyangkan badannya agar Alan nyaman dan segera terlelap. Ia mengusap-usap kening balita dua tahun itu dengan penuh kasih sayang dan sedih yang mendalam memikirkan nasib kakaknya, juga keponakan-keponakannya terlebih Alan yang sangat dekat dengannya.

Berhasilkah ayah Nela mencari bukti pengkhianatan Tiyok? Bersambung …

Balung, 23 Desember 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post