Mahkota Palsu 68 (Orang Ke Tiga)
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-148
# Tantangan Menulis Gurusiana
“Papa mau kemana? Kok pagi-pagi sudah rapi?” Tanya Nela ketika menyodorkan secangkir kopi panas ke hadapan Tiyok.
“Papa ada urusan penting hari ini,” jawab Tiyok singkat. Nela berupaya tetap tenang dan tidak menanyakan kemana Tiyok akan pergi. Ia tetap melanjutkan aktivitasnya memasak di pagi hari sementara Alan telah asyik bermain bersama saudaranya yang lain di rumah Akung dan Uti yang menjadi tempat ternyaman bagi anak-anak.
“Hari ini motornya mau dipinjam Fatma kuliah karena motor Fatma masih di bengkel,Pa,” kata Nela hati-hati agar Tiyok tidak marah-marah seperti biasanya selalu menyalahkan apapun yang dikatakan Nela.
“Ndak apa-apa, nanti aku akan dijemput kok, Ma,” kata Tiyok sangat tenang sambil menikmati kopi dihadapannya. Tiyok juga beberapa kali tampak sibuk dengan gawai yang tak pernah berbunyi, hanya bergetar jika ada pesan maupun telepon masuk. Sudah lama gawai itu seperti jimat bagi Tiyok yang tak seorang pun boleh menyentuhnya, termasuk anak-anaknya sendiri, Abi maupun Dani dilarang keras menyentuh gawai papa Tiyok meski hanya untuk sejenak bermain game
Kali ini Nela tidak ingin menanyakan siapa yang akan menjemput suaminya. Bagi Nela, diam adalah hal terbaik daripada mendapat jawaban yang menyakitkan apalagi harus terlibat ribut yang akan berakibat meresahkan orangtua dan anak-anaknya. Nela pun berusaha untuk tetap percaya bahwa yang dilakukan Tiyok memang benar-benar urusan bisnis yang sedang ia rintis bersama rekanan barunya bernama Mira.
Damai yang gersang adalah jalan yang kini harus Nela lewati entah kemana arahnya. Akankah bahagia menunggu di ujung sana, ataukah persimpangan yang tak memberi kepastian? Nela merasa telah sangat letih untuk berdebat, seluruh tenaga dan hatinya ia peruntukkan demi kedua orangtua dan anak-anaknya yang turut bersedih atas pernikahannya dengan Tiyok. Nela pasrah asal tak ada lagi yang bisa membuat orang tua dan anak-nya bersedih. Biarlah Tiyok menjadi urusannya sendiri, sakit pengkhianatan itu akan ia telan sendiri.
Siapakah yang akan menjemput Tiyok hari itu? Mirakah? Atau ada rekanan bisnis lain yang tak pernah jelas? Bersambung …
Balung, 24 Desember 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
