Mahkota Palsu 69 (Orang Ke Tiga)
Oleh Hermin Agustini
# Hari ke-152
# Tantangan Menulis Gurusiana
Pada episode 68 telah dikisahkan bahwa damai yang gersang adalah jalan yang kini harus Nela lewati entah kemana arahnya. Akankah bahagia menunggu di ujung sana, ataukah persimpangan yang tak memberi kepastian? Nela merasa telah sangat letih untuk berdebat. Nela pasrah asal tak ada lagi yang bisa membuat orang tua dan anak-nya bersedih. Biarlah Tiyok menjadi urusannya sendiri, sakit pengkhianatan itu akan ia telan sendiri. Siapakah yang akan menjemput Tiyok hari itu? Mirakah? Atau ada rekanan bisnis lain yang tak pernah jelas?
***
Sarapan pagi itu berlangsung senyap, kecuali denting sendok sesekali beradu dengan piring. Nela sesekali melirik Tiyok yang hampir tak pernah menatapnya. Jangankan bermesra, ucapan-ucapan gombal yang dulu sangat boros Tiyok hamburkan untuk Nela pun telah lama tak terdengar. Damai tapi gersang, apalagi anak-anak telah lebih banyak memilih bersama Uti dan Akung yang selalu penuh dengan ketenangan dan kenyamanan.
Baru saja Nela beranjak untuk membereskan meja makan, terdengar bel rumah berbunyi. Tak biasanya, Tiyok yang bergegas membukakan pintu, padahal selama pernikahannya, Tiyok selalu cuek dan selalu menyuruh orang lain untuk membukakan pintu jika ada bel tamu. Nela mengira Tiyok berubah baik hari itu. Namun kenyataan berkata lain. Tiyok bergegas membuka pintu karena yang hadir memang orang special untuknya. Mira hadir menjemput Tiyok.
“Ma! Ada tamu,” seru Tiyok dari ruang tamu. Dugaan Nela pada suaminya salah lagi, bahkan kali ini menuntut seluruh hati Nela untuk dipersembahkan demin senyum sumringah suaminya. Nela paham bagaimana harus bersikap agar Tiyok tak menghujatnya.
“Iya, sebentar Pa!” sahut Nela dengan suara paling tenang menutup segala perih di hatinya. Dari lenting suara perempuan di ruang Tamu dan renyahnya canda tawa mereka, Nela bisa menebak jika yang hadir adalah Mira.
“Apa kabar Mbak?” seru Mira menyalami dan mencium pipi Nela dengan penuh keakraban. Tak tampak keraguan ataupun kecanggungan sama sekali. Nela pun membalas dengan keramahan demi kedamaian yang gersang milik hatinya. Berbasa basi adalah pelengkap sandiwara demi laki-laki yang saat ini disebut suami baginya.
“Silahkan duduk, Mbak Mira! Saya permisi ke dapur dulu,” ucap Nela berusaha memberi senyum.
“Ndak usah repot-repot mbak, saya Cuma sebentar menjemput mas Tiyok. Hari ini kita ada acara mau nambah stok barang di counter saya,” ucap Mira buru-buru.
“Iya, Ma! Aku mau langsung berangkat,” kata Tiyok menimpali ucapan Mira. Mereka tampak santai dan selalu riang. Wajah mereka berseri tanpa bisa merasakan keperihan hati Nela yang dengan susah payah mengukir senyum agar taka da yang tau jika hatinya sedang berdarah. Ia hanya bisa menatap kepergian Tiyok yang tak sempat mengucap salam untuknya. Segera Nela menutup pintu rumahnya, ia tak sanggup lagi menahan perih hatinya. Air matanya tak terbendung, ia hanya bisa membenamkan seluruh jeritan hatinya ke atas bantal agar tak ada yang bisa mendengar isak tangisnya. Tak ada …, tak boleh ada yang tau jika luka hatinya semakin dalam.
Diam-diam akung mempeprhatikan apa yang terjadi dari ruang tamunya. Ia melihat Tiyok pergi bersama Mira. Akankah akung membuntuti mereka? Tunggu keseruan kisahnya pada episode berikutnya.
Bersambung …
Balung, 28 Desember 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
