Hermin Agustini

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mahkota Palsu 71 (Orang Ke Tiga)
www.google,com

Mahkota Palsu 71 (Orang Ke Tiga)

Oleh Hermin Agustini

# Hari ke-154

# Tantangan Menulis Gurusiana

 

 “Mbak, ndak usah posting status aneh-aneh yang menceritakan kesedihan mbak saat ini, malu mbak!” kata Fatma melalui pesan whatsapp kepada Nela. Dan seperti biasa, hanya dibaca tanpa dijawab. Seperti itulah Nela, selalu tak menggubris apa yang dikatakan adiknya. Ia mengaggap Fatma belum tahu apa-apa soal kehidupan pernikahan.

***

Sementara itu, dengan bantuan teman-teman lama Akung telah mengantongi iformasi tentang Mira dan keberadaan Tiyok. Jiwa selidik Akung sebagai pensiunan seorang Polisi Intel kembali menyeruak ke dadanya demi putri sulung yang ia sayangi. Akung yang penyabar namun tegas dan tak terlalu banyak bicara basa-basi tampak sibuk berbicara melalui hape kunonya akhir-akhir ini. Wajahnya tampak serius dengan alis yang berkerut pertanda Akung sedang berpikir keras namun tetap tenang bersama keluarga. Akung tetap Akung dengan segala ketelatenannya bersama Uti.

“Dapat Informasi apa hari ini,Kung?” tanya Uti kepada Akung yang menggedong Alan yang terlelap di dekapan dada Akung.

“Ssssttt!” Akung tak menjawab pertanyaan Uti yang penasaran resah menunggunya. Akung menuju kamar Fatma untuk menidurkan Alan sementara dua bocah anak-anak Tiyok langsung asyik bermain di tetangga sebelalh bersama anak-anak yang lain. Uti yang penasaran mengikuti Akung menunggu jawaban.

“Ambilkan Akung minum dulu, Ti, air putih saja, tadi Akung sudah ngopi saat mengobrol bersama teman-teman,” pinta Akung sembari duduk di ruang tamu dan menyandarkan tubuh tuanya ke sandaran sofa. Ia tampak lelah, tak hanya tubuh gagahnya yang menua yang merasakah lelah hari itu, namun juga pikirannya merasa sangat lelah.

“Akung gak ingin makan siang dulu?” tanya Uti memecah keheningan sambil memberikan segelas air putih kepada suami yang sangat ia sayangi.

“Aku dan anak-anak sudah kenyang, Ti,” Jawab Akung kembali menyandarkan tubuhnya di sofa setelah meneguk air putih yang dibawakan Uti. Ia Pun menyelonjorkan kakinya ke pangkuan Uti yang tentu saja disambut dengan pijitan sayang Uti yang menunggu dengan sabar informasi apa yang telah diperoleh Akung. Hari ini tampaknya Akung menyimpan ribuan beban berat yag tak ingin ia bagi meskipun kepada Uti.

“Akung masih ingin istirahat, Ti,” kata Akung merebahkan badannya di sofa kemudian memindahkan kakinya dari pangkuan Uti agar Uti berhenti memijitnya. Uti pun paham bahwa Akung masih ingin beristirahat atau mungkin butuh waktu sendiri untuk berpikir. Uti tak ingin mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan lagi. Ia memilih melakukan kegiatan hariannya sembari menjaga anak-anak. Tugasnya sebagai ibu rumah tangga yang telaten dan penuh tanggungjawab dalam menjaga anak-anak tak pernah usai di usianya yang makin senja. Kasih sayangnya masih hangat seperti dulu tak terkikis oleh usianya yang semakin tua. Tangan keriputnya masih tetap lembut penuh kasih sayang.

Informasi apa yang sebenarnya dipeoleh Akung hingga membuatnya begitu lelah berpikir?

Bersambung …

Balung, 30 Desember 2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post