Pernahkah Ananda Protes?
Oleh Hermin Agustini
# Tagur hari ke-133
Bagaimana rasanya diprotes buah hati? Dua hari ini saya mendapat gempuran protes yang membuat saya menangis menyesal dan tentu saja merenung sebagai ibu.
Anak saya satu-satunya, yang kini berusia duabelas tahun sembilan bulan mengirim surat kepada saya, yang ia tulis dalam bahasa Inggris ala kemampuannya, namun saya paham dengan semua yang ia maksudkan.
Dalam surat tersebut dia mengatakan bahwa dia tersinggung dengan kata-kata keras saya setiap kali menyuruhnya untuk cepat bergegas dalam melakukan sesuatu. Ia bilang bahwa ia sangat paham bahwa Bunda sedang mengajarinya disiplin demi kebaikannya. Tapi dia merasa hatinya ciut jika saya berbicara keras.
Sampai di sini air mata saya tak terbendung. Namun saya tak ingin menampakkannya agar ia tak manja. Sepertinya ego saya masih sundul langit. Saya hanya berupaya untuk lebih menahan auto ngomel maupun ngegas. Terutama pada sa’at genting dan sangat khawatir. Ini perjuangan banget karena tabiat buruk saya ini membuat saya tampak buruk meski aslinya penyayang dan lembut (beneran, bukan narsis, heheh …)
Suatu pagi saat ujian, tanpa kendali saya berbicara keras karena dia terlambat mempersiapkan diri untuk ikut ujian hingga duapuluh menit terlambat. Seusai ujian, saya masih auto ngomel yang ia dengarkan dengan muka lesu dan airmatanya yang mewakili ketidak terimaan atas sikap keras saya. Saya pun tersentak dan berhenti mengomel melihat airmata itu membuat hati saya tersayat.
Saya memeluknya, namun hatinya terlanjur tergores dalam diamnya. Ia melakukan semua aktifitas seperti biasa, termasuk mengaji setelah maghrib. Airmata ini kembali tak terbendung mendengar ia mengaji meski terisak-isak. Ada luka di hatinya yang tak tau bagaiamana saya harus mengobatinya.
Sungguh saya menyesal. Saya berjanji pada diri sendiri untuk lebih berhati-hati dan melembutkan diri bila berkomunikasi dengannya, dia bukan anak kecil lagi. Saya belum bisa berhenti menangis, ternyata dia lebih sabar dan lebih lembut daripada saya, dia kembali mengirim sebuah video yang cuplikan lagunya sebagai berikut:
Sedikit ku jelaskan tentangku dan kamu Agar seisi dunia tahu
Keras kepalaku sama denganmu Caraku marah, caraku tersenyum Seperti detak jantung yang bertaut Nyawaku nyala karena denganmu
Aku masih ada sampai di sini Melihatmu kuat setengah mati Seperti detak jantung yang bertaut Nyawaku nyala karena denganmu
Bun, aku masih tak mengerti banyak hal Semuanya berenang di kepala Dan kau dan semua yang kau tahu tentangnya Menjadi jawab saat ku bertanya
(**(censored)**)
Cuplikan video lagu berjudul “Bertaut” yang dinyanyikan oleh Nadin Amizah ini benar-benar membuat saya termehek-mehek. Ternyata anak saya mempunya cara yang jaaauuuuh lebih baik dari pada saya, yang setua ini tak mampu kendalikan rasa khawatir bukan menenangkan.
Ma’afkan Bunda, Sayang …, tak kan lagi kugores hatimu. Semoga kau selalu dalam lindungan kasih sayang Allah SWT, yang akan selalu merengkuh hatimu pada saat bunda tak selalu bisa bersamamu.
Balung, 9 Desember 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
